Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 23


__ADS_3

Kini Zia dan Pras berada di dalam kamarnya Pras. Suasana saat ini sangat canggung padahal mereka beberapa kali sudah pernah berada dalam ruangan yang sama tapi kali ini dengan status yang berbeda.


“Kamu,,” ucap Zia dan Pras bersamaan.


“Kamu duluan!” ucap Pras.


“Kakak aja duluan!” ucap Zia.


“Kamu aja!” tolak Pras.


“Ah, baiklah. Zi-zia,,” ucap Zia canggung.


“Ohiya saya tahu, kamu pasti gerah kan mau ganti pakaian. Baiklah saya akan keluar kau bisa mengganti pakaianmu. Jangan lupa kunci pintunya.” Pesan Pras segera keluar dari kamar.


Zia yang melihat itu pun hanya tesenyum karena sebenarnya dia memang ingin mengganti gaun pernikahannya karena sangat gerah. Zia pun segera mengganti pakaiannya.


“Kakak, kok kau diluar?” tanya Rasti yang kebetulan lewat di depan kamar kakaknya. Pras hanya diam saja mengabaikan perkataan adiknya.


“Apa kau diusir dari kamarmu sendiri?” tanya Rasti.


“Ehh,, tapi sepertinya tidak, kak Zia sangat baik. Pasti kakak yang membuat kak Zia marah hinga kau pun diusir. Ayo ngaku?” tuduh Rasti.


“Bisa gak kamu diam.” Ucap Pras karena telinganya sakit mendengar ocehan adiknya itu.


“Ada apa ini?” tanya Zia keluar dari kamar dengan pakaian gamisnya karena mendengar diluar ribut-ribut.


Rasti yang melihat itu segera mengerti kenapa kakaknya itu sedang diluar, “Ouhh,, sepertinya kakak ipar sedang mengganti pakaian yaa. Maaf deh aku salah mengira.” Ucap Rasti tersenyum.


“Makanya jangan main tuduh-tuduh segala.” Ucap Pras.


“Ehh,, tapi kenapa kakak harus keluar jika memang kak Zia hanya mengganti pakaiannya? Bukankah kalian sudah sah?” tanya Rasti kemudian.


“Tau ahh,, kamu sangat cerewet yaa. Sudah sana kau pergi.” usir Pras sementara Zia hanya tersenyum malu mendengar perkataan Rasti.


Pras pun segera masuk ke kamarnya sementara Zia masih bingung harus masuk lagi atau kemana, “Ayo masuk! Kenapa kau disana?” tanya Pras.

__ADS_1


“Eeehh,, Zia mau melihat si kembar dulu.” Ucap Zia segera menuju kamar si kembar yang dijaga oleh kedua adiknya yaitu Zea dan Rasti. Tapi saat sampai disana ternyata ada juga Alya dan Celine yang berada di samping si kembar sambil bercerita. Akhirnya Zia pun segera diusir dari sana karena si kembar juga sedang anteng-antengnya tidur jadi Zia tidak punya alasan lagi. Dia pun segera kembali ke kamar suaminya.


“Ada apa?” tanya Pras begitu melihat Zia cepat kembali. Zia hanya diam saja dan Pras sudah menduga pasti Zia telah diusir dari kamar si kembar.


“Sudahlah lebih kau tidurlah. Aku tahu kau pasti merasa canggung dengan keadaan ini. Tapi kamu gak usah khawatir walaupun kita sudah menikah tapi aku tidak akan meminta hak aku sampai kau siap. Aku akan menunggu sampai kau siap! Yang terpenting saat ini adalah kau sudah menjadi istriku. Terima kasih telah memberimu kesempatan, aku janji kau tidak akan menyesali telah memberiku kesempatan. Sekarang tidurlah, aku akan tidur di sofa, aku tidak akan menganggumu.” Ucap Pras.


“Gak usah kak, biar Zia yang tidur di sofa, bagaimanapun ini adalah kamar kakak.” Ucap Zia.


“Gak, kamu pikir aku laki-laki macam apa, aku mungkin lama mengenalimu tapi aku tidak mungkin membiarkan istriku tidur di sofa sedangkan aku tidur di ranjang. Aku tidak sekejam itu. Lebih baik kau tidurlah karena kamu pasti sangat lelah.” Ucap Pras.


Zia pun akhirnya menuruti perkataan Pras, dia segera menuju ranjang dan berbaring dan tidak lama dia segera tertidur seolah-olah ini adalah tempat paling nyaman yang pernah ada. Mungkin karena semua beban yang dia pikirkan sudah terlepas semuanya.


“Dasar gadis ceroboh!” gumam Pras menyelimuti istrinya.


“Bagaimana kau bisa tenang sekamar dengan laki-laki yang sudah pernah menidurimu.” Ucap Pras memandang Zia yang sudah tertidur pulas.


Cup


Pras pun segera mengecup kening Zia, “Selamat tidur istriku!” ucap Pras segera menuju sofa dan berbaring disana. Dia menepati janjinya untuk tidur di sofa padahal jika dia ingin dia bisa tidur bersama Zia di ranjang karena ukuran ranjang Pras yaitu king size tapi dia memilih untuk menepati janjinya.


***


“Pah, apa kalian akan pulang hari ini?” tanya Zia begitu mereka selesai makan.


“Hmm,, iya papa dan mama harus segera kembali. Apa kau ingin ikut?” tanya Gibran.


“Zia,,” ucap Zia segera memandang suaminya dan mertuanya bergantian.


“Ee,, papa lupa bahwa kamu sudah memiliki suami sekarang. Tapi jika kamu ingin kembali ke rumah papa dan mama menunggumu disana. Kamu bisa pulang ke rumah kapan saja. Kamu juga bisa membawa kedua cucu papa itu kesana kamu jangan pikirkan lagi bagaimana pendapat orang lain.” Ucap Gibran.


“Tentu pa, Zia janji akan secepatnya mengunjungi kalian disana. Kalian harus baik-baik disana. Ma, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Lihatkan kau sangat kurus.” Ucap Zia.


“Bagaimana mama tidak kurus kak, selalu saja dia memikirkanmu. Begitu juga papa, dia sering ke kamarmu diam-diam.” Ucap Zea.


Zia hanya tersenyum mendengar perkataan adiknya, “Terus bagaimana denganmu?” tanya Zia.

__ADS_1


“Tentu saja aku sangat merindukanmu. Kak lain kali jangan pergi-pergi lagi seperti itu. Kita bisa kok menjalani sama-sama.” Ucap Zea.


“Baiklah adikku yang bawel.” Ucap Zia memeluk adiknya.


“Kak, nanti bisa gak aku datang mengunjungimu?” tanya Zea.


Zia hanya memandang suaminya, “Bisa kok, kamu bisa kapan saja datang menemui kakakmu.” Jawab Pras begitu mengerti pandangan istrinya.


“Terima kasih kakak ipar. Aku titip kakakku padamu. Aku mempercayaimu!” ucap Zea.


“Kak Rasti aku titip kakakku padamu juga. Terima kasih telah menjadi adiknya selama ini, walau aku iri padamu karena kau yang menemani kakakku saat dia butuh ditemani. Tapi aku tetap berterima kasih karena kau telah menjaganya.” Ucap Zea kepada Rasti.


“Ah, kau! Sejujurnya aku lebih iri padamu karena walaupun aku telah berusaha menjadi adiknya tapi aku tahu dia sangat merindukanmu sebagai adiknya. Tapi sekarang aku mengerti kenapa aku tidak bisa menggantikanmu sebagai adiknya karena kau itu sangat perhatian dan penyayang, aku saja ingin memiliki adik sepertimu. Jadi bisakah aku menjadi kakakmu juga?” tanya Rasti.


“Tentu saja, aku juga sangat senang karena akhirnya aku masih tetap memiliki kakak lagi. Jadi mari sama-sama kita menjadi adik yang baik untuk kak Zia.” Ucap Zea memeluk Rasti. Rasti pun membalas pelukan itu. Semua orang yang melihat itu hanya tersenyum.


“Apa aku bukan kakak kalian?” tanya Pras merusak momen haru itu.


“Kakak!” teriak Rasti kesal karena Pras merusak suasana.


“Apa salahku? Aku kan hanya bertanya.” Ucap Pras polos.


Seketika semua orang tertawa karena itu.


Akhirnya setelah banyak drama haru, keluarga Zia pun segera kembali dengan di antar oleh supir pribadi keluarga Pras.


Sore harinya juga Pras memutuskan membawa istrinya dan kedua anaknya pindah ke rumahnya sendiri yang memang sudah dia siapkan untuk istrinya kelak tepatnya untuk gadis yang telah dia tiduri malam itu. Dan saat dia mengetahui bahwa Zia adalah gadis itu maka rumah itu sudah dia desain sesuai dengan selera Zia dan semuanya baru saja selesai kemarin. Zia pun hanya ikut dengan suaminya. Sebenarnya Celine dan Andrew menginginkan Zia dan Pras tetap dirumah itu tapi karena itu sudah menjadi keputusan Pras maka mereka hanya bisa menurutinya.


*


*


Happy Reading Guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,🙏🏻😊

__ADS_1


Mohon maaf jika ada typo guys,🙏🏻😉


Jangan lupa mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa” author tunggu kedatangannya.🙏🏻🥺😁


__ADS_2