
Saat Rasti akan pergi Faris menahan lengannya, “Nona Rasti apa kita tidak boleh makan dulu.” Ucap Faris.
“Please!!” pinta Faris.
Rasti pun mengangguk, “Baiklah, tapi bisakah tuan melepaskan lengan saya dulu.” Ucap Rasti pasalnya lengannya yang terluka yang di tahan oleh Faris.
Faris juga bukan tidak mengetahui itu hanya saja dia memang sengaja melakukannya untuk mengetahui apa Rasti benar terluka atau tidak, “Ada apa nona Rasti, apa anda terluka?” tanya Faris segera melihat lengan Rasti itu.
Rasti melepaskannya, “Tuan, apa yang anda lakukan?” tanya Rasti yang melihat Faris.
“Tentu saja melihat lukamu.” Jawab Faris.
“Tenang saja tuan. Ini hanya luka kecil dan dia sudah di perban.” Ucap Rasti menahan sakit karena Faris menyentuhnya.
Faris yang mengetahui bahwa Rasti menahan sakit pun segera memegang lengan itu erat, “Aw, sakit tuan. Apa yang anda lakukan?” ucap Rasti segera menarik tangannya.
“Nona Rasti mengatakan itu hanya luka kecil lalu kenapa sampai menjerit begitu? Apa nona Rasti mengalami kecelakaan?” tanya Faris.
“Tuan Faris bukankah anda mengajak untuk makan lalu kenapa anda melakukan ini?” tanya Rasti balik.
“Makannya bisa di tunda, kita ke rumah sakit dulu.” Ucap Faris segera menarik Rasti keluar tapi tidak lupa dia meletakkan uang untuk membayar minuman mereka.
Rasti yang di tarik hanya bisa mengikuti Faris, begitu tiba di parkiran Faris segera membuka mobilnya dan mendorong Rasti masuk, “Tuan, mobil saya,,”
__ADS_1
“Tenang saja, Reno akan mengantarnya.” Jawab Faris segera masuk masuk mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
***
“Terima kasih tuan.” Ucap Rasti begitu merek selesai dari rumah sakit dan luka Rasti sudah di ganti perbannya.
“Dasar ceroboh! Kenapa bisa celaka?” tanya Faris.
“I-itu karena ada yang menyeberang jalan saat di lampu merah padahal lampunya telah hijau.” Jawab Rasti.
“Makanya jangan terburu-buru. ” ucap Faris.
“I-itu karena,,”
Rasti pun tersenyum mendengar itu, “Kenapa tersenyum?” tanya Faris.
“Gak tuan lucu saja karena ternyata anda bisa mengatakan hal yang seperti itu.” Jawab Rasti tertawa.
Faris pun tersenyum melihat Rasti tertawa, “Kau sangat cantik seperti itu.” Ucap Faris. Rasti yang mendengarnya segera menghentikan tawanya karena malu.
Faris pun hanya tersenyum, “Kenapa berhenti?” tanya Faris.
Rasti hanya diam saja, “Ahh sudahlah apa kau masih ingin makan?” tanya Faris.
__ADS_1
Rasti pun mengangguk, “Baiklah kita akan makan, tunggu sebentar aku cari restoran dulu.” Ucap Faris.
“Bisakah kita makan di taman hiburan saja?” tanya Rasti.
“Taman hiburan?” tanya Faris dan Rasti hanya mengangguk.
Faris pun segera melajukan ke taman hiburan yang ternyata tidak jauh dari tempat mereka berada.
***
“Kau yakin akan makan di sini?” tanya Faris melihat penjual makanan di taman hiburan itu.
Rasti mengangguk, “Apa tuan tidak menyukai tempat seperti ini?” tanya Rasti balik.
“Ahh bukan begitu hanya saja,,” ucap Faris ragu.
“Tuan jangan melihat tampilannya yang tidak seperti restoran mewah karena sejujurnya makanan mereka lebih enak dari pada restoran mewah. Tenang saja kebersihan tempat ini terjaga.” Ucap Rasti menarik lengan Faris.
Faris pun hanya mengikutinya dan benar kata Rasti makanan di situ tidak kalah enak dari restoran bintang lima dan lebih serunya lagi di sana tidak ada yang sok kaya dan pengen di lihat. Faris pun menyukai tempat ini. Akhirnya mereka menghabiskan waktu mereka di sana bersama bahkan mereka naik beberapa wahana di taman hiburan itu.
*
Episode kali khusus Rasti dan Faris dulu yaa!!
__ADS_1