
Sementara Rasti melajukan mobilnya di atas rata-rata untung saja sudah larut jadi kenderaan sudah tidak begitu banyak. Dia segera sampai di tempat kejadian dan segera keluar lalu segera menelpon nomor Faris.
“Ini nona, barang miliknya.” Ucap seorang pria.
“Terima kasih sudah menolongnya pak.” Ucap Rasti lalu mengambil beberapa uang dari dompetnya untuk di berikan kepada mereka.
“Ah gak usah nona, kami ikhlas menolongnya.” Ucap pria itu.
“Iya saya tahu tapi anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih. Ambil saja.” Ucap Rasti memaksa. Mereka pun akhirnya menerimanya.
Setelah itu Rasti langsung menuju rumah sakit tapi sebelumnya dia sudah menelpon seseorang untuk membawa mobil Faris untuk di perbaiki karena mobil bagian depannya rusak parah.
***
Begitu sampai di rumah sakit dia segera menuju UGD lalu segera menanyakan apa Faris benar ada di sana dan ternyata Faris masih di dalam sementara di tangani.
“Dokter bagaimana keadaannya?” tanya Rasti begitu dokter keluar.
__ADS_1
“Anda siapa?” tanya dokter itu.
“Saya keluarga dari orang yang di bawa kesini karena kecelakaan.” Jawab Rasti.
“Ouh, apa anda keluarga tuan Faris?” tanya dokter itu.
Rasti pun hanya mengangguk, “Tenang dia sudah baik-baik saja. Dia akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.” Jawab dokter itu.
“Apa saya bisa menemuinya?” izin Rasti.
Rasti pun hanya mengangguk lalu segera mengurus administrasi Faris lalu setelah selesai dia segera menuju ruang perawatan Faris.
Dia segera masuk ke sana dan dia melihat Faris dengan seksama yang dimana tangan kanannya terpasang gips. Rasti pun meletakkan tas dan jaketnya ke kursi yang ada di ruangan itu lalu melihat apa ada luka lain. Dia pun pelan-pelan membuka selimut yang menutupi kaki Faris untuk memastikan bahwa kaki Faris baik-baik saja.
“Alhamdulillah!” ucap Rasti bersyukur karena hanya tangan Faris yang cedera tapi kakinya baik-baik saja.
“Kenapa kau bisa celaka? Dasar ceroboh!” ucap Rasti lalu kembali mengambil ponselnya untuk memberitahukan orang rumah bahwa dia akan menginap di rumah sakit untuk menjaga Faris.
__ADS_1
***
Keesokan subuhnya, Faris terbangun dan melihat ruangan di sekitarnya lalu dia mengingat apa yang sudah terjadi padanya semalam. Setelah itu dia melihat seseorang yang tidur di sofa kecil sambil meringkuk dengan berselimutkan jaket.
Seketika Faris tersenyum begitu menyadari siapa gadis itu, Faris pun mencoba duduk namun sayang dia gak bisa karena tangan kirinya terpasang infus sedangkan tangan kanannya terpasang gips. Dia berusaha untuk duduk tapi tetap saja gak bisa, Rasti yang mendengar ada suara pun terbangun dan melihat Faris yang kesusahan, dia pun segera mendekat dan membantu Faris untuk duduk.
“Kenapa gak bilang jika mau duduk, tangan kaa,, ee tuan itu masih terluka. Apa tuan gak bisa minta tolong.” Ucap Rasti marah-marah.
Faris hanya tersenyum mendengar gadis itu marah-marah lalu dia menikmati wajah bangun tidur gadis itu yang dekat dengannya, “Cantik!” puji Faris.
Seketika Rasti sadar bahwa wajah mereka berdekatan, dia pun segera menjauhkan tubuhnya kembali, “A-apa ada yang sakit?” tanya Rasti.
Faris pun mengangguk, “Dimana yang sakit? Apa tangannya sakit? Tunggu saya akan panggilkan dokter.” Ucap Rasti berlalu tapi di tahan oleh Faris.
“Gak usah, udah gak sakit kok.” ucap Faris.
“Beneran? Yakin?”
__ADS_1