
Dua hari berlalu, kondisi Zea sudah semakin pulih dan tidak ada kejadian pasca operasi yang perlu dikhawatirkan kecuali memastikan bahwa penyembuhan bekas luka operasi.
Seluruh keluarga selalu bergantian mengunjungi Zea dan kedua putra kembarnya yang sudah tidak lagi di incubator. Mungkin pengaruh dari mulai meminum ASI dari Zea selama dua hari ini walau Zea tidak melakukannya secara langsung hanya lewat dot karena menjaga luka operasi di perutnya tapi sepertinya ASI itu lebih baik dari susu formula untuk perkembangan baby twins V.
“Kenapa? Apa nyeri?” tanya Zia yang membantu Zea memompa Asinya.
“Emm,, sedikit nyeri kak tapi gak apa-apa.” Balas Zea.
“Kakak mengerti karena itulah kita di sebut ibu, kita rela kesakitan agar bisa melahirkan dan memberi kehidupan untuk buah cinta kita.” Ucap Zia tersenyum.
“Aku juga ingin merasakan itu kak. Kapan yaa aku bisa merasakan apa yang kalian katakan itu.” ucap Rasti yang dari tadi hanya melihat saja.
“Makanya usaha yang banyak kak.” Ucap Zea tertawa diikuti oleh Zia.
__ADS_1
“Ck, kalian ini. Kami ini sedang berusaha tahu.” Jawab Rasti malu.
“Hahahah,, dek akhirnya kakakmu ini mengakui bahwa ternyata selama beberapa hari ini mereka sedang berusaha.” Ucap Zia tertawa.
“Kau benar kak! Usaha terus yaa kak. Semangat sampai jadi nanti.” Timpal Zea memakan buah yang dikupas oleh Zia.
“Ahh kalian ini. Jika tahu begini aku tidak membicarakannya. Kalian membuatku malu.” Ucap Rasti menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Rasti pun melepaskan pelukan Zia, “Kakak ipar sejak kapan kau jadi mesum begini? Dulu aku sangat tahu bahwa kakak orang yang polos tapi kenapa sekarang berubah begini.” Ucap Rasti.
“Mesum? Mungkin aku tertular kakakmu itu jadi jika kau ingin menyalahkan maka salahkan kakakmu itu. Emm,, tapi di mana letak perkataan kakak yang bersifat mesum. Sepertinya kakak tidak mengatakan apapun deh. Zea apa kau bisa jelaskan perkataan kakak yang bagian mana yang mesum?” tanya Zia menatap Zea.
“Emm sepertinya gak ada deh perkataan kakak yang mesum, mungkin itu hanya pikiran kak Rasti saja.” Balas Zea.
__ADS_1
“Ck, baiklah aku mengaku kalah karena kalian sudah bersatu melawanku maka aku pasti kalah. Malas ahh ngomong sama kalian, aku ngambek!” ucap Rasti berbalik menuju pintu tapi belum juga dia sampai di pintu sudah di buka dari luar dan masuklah tiga pria pemilik wanita di dalam ruangan itu yang tadi di usir oleh Zia saat Zea akan memompa asinya.
“Sayang kamu mau kemana?” tanya Faris yang melihat istrinya itu hendak keluar.
“Suamiku mereka menggodaku.” Adu Rasti manja kepada suaminya itu lalu segera bergelayut manja di pelukan suaminya.
Sementara Pras dan Lian segera menuju istri mereka masing-masing sambil bertanya apa yang terjadi sementara kedua kakak beradik itu hanya mengangkat bahunya.
“Faris kami gak menggodanya yaa,, salahkan saja pikirannya yang menyalahartikan perkataan kami.” Ucap Zia.
“Benar kak Faris kami gak menggoda kak Rasti kok. Jika tidak percaya tanyakan saja kepada kedua anakku yang dari tadi berada di antara kami.” Timpal Zea tersenyum.
“Ck, jika kalian itu ingin mencari saksi jangan anak bayi dong mana bisa mereka bicara. Jelas-jelas kalian tadi menindasku.” Balas Rasti masih memeluk sang suami.
__ADS_1