Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 102


__ADS_3

“Jadi kamu akan menjaga saya sampai sembuh?” tanya Faris berbinar dan hanya di balas dengan anggukan oleh Rasti.


“Sungguh?” ulang Faris karena masih tidak percaya.


“Terserah tuan jika tidak percaya.” jawab Rasti cuek sambil menyuapkan makanan ke mulut Faris.


“Ouh ayolah Ra jawab dengan benar.” pinta Faris.


Rasti pun tertawa, “Hahah,, anda sangat lucu seperti itu.” Ucap Rasti.


“Ra!” panggil Faris menatap Rasti dalam.


Rasti yang di tatap seperti itu pun seketika membatu karena walaupun sekeras-keras dan secuek-cueknya dia, pasti tetap akan terdiam dan malu jika di tatap seperti itu, “Jangan menatap saya seperti itu tuan.” Ucap Rasti gugup.


Faris yang menyadari Rasti tengah malu pun hanya tersenyum, “Saya akan berhenti menatapmu seperti itu jika kau menjawab pertanyaan saya dengan benar.” ucap Faris masih saja menatap dalam Rasti.


“Pertanyaan apa?” tanya Rasti berusaha untuk memalingkan wajahnya tapi Faris tetap mengikutinya.

__ADS_1


“Ouh ayolah!” ucap Faris.


“Baiklah-baiklah benar saya akan merawat anda sampai sembuh. Cepatlah sembuh!” ucap Rasti akhirnya.


Faris pun tersenyum dengan puas, “Gitu kee dari tadi.” Ucap Faris lalu mengambil makanan yang di tangan Rasti dan mulai memakannya sendiri.


Rasti pun membiarkan Faris makan sendiri dan dia menyibukkan diri dengan mengecek email yang masuk lalu dia menelpon Gaby untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Kurang lebih 30 menit Rasti bicara dengan asistennya itu dan tentu saja itu tidak luput dari pandangan Faris yang mengagumi kecantikan Rasti. Menurutnya kecantikan Rasti bertambah sepuluh kali lipat saat dia sedang serius.


“Emm,, maaf tuan apa anda butuh sesuatu?” tanya Rasti begitu menyadari Faris selesai makan dan dia juga baru saja menutup sambungan teleponnya.


Faris menggeleng, “Gak kok.” jawab Faris tersenyum.


“Ra!” panggil Faris.


Rasti pun mengalihkan pandangannya kepada Faris, “Ada apa? Apa tuan butuh sesuatu?” tanya Rasti.


“Gak kok, aku hanya ingin memanggilmu.” Jawab Faris cengesan.

__ADS_1


Rasti pun hanya menggelengkan kepalanya karena itu, “Ra!” panggil Faris lagi.


“Ada apa? Jangan mengerjaiku lagi.” Jawab Rasti tanpa menatap Faris.


“Ra, ayo lihat sini.” Pinta Faris.


“Gak mau jika tuan hanya ingin mengerjai saya.” jawab Rasti.


“Gak akan, ayo dekat sini.” Pinta Faris lagi.


Rasti pun akhirnya mendekati Faris, “Ada apa?” tanya Rasti.


“Mau kah kau menikah denganku?” tanya Faris spontan padahal bukan itu yang ingin dia katakan. Dia hanya ingin meminta Rasti untuk tidak memanggilnya tuan lagi tapi entah kenapa justru kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


Rasti yang mendengar ajakan itu tentu saja kaget dan gugup serta perasaanya campur aduk tapi dia mencoba untuk bersikap normal, “Tuan, anda mungkin kurang istirahat maka bicaranya ngelantur kaya gitu. Ayo sekarang anda istirahat.” Ucap Rasti sambil menyelimuti Faris.


Faris pun menahan lengan Rasti, “Saya serius!” ucap Faris akhirnya karena sudah terlontar maka harus di pertanggung jawabkan begitu menurutnya. Jadi lebih baik meyakinkannya Rasti saja bahwa itu bukan main-main.

__ADS_1


“Tuan, jangan main-main. Saya tidak suka seseorang yang mempermainkan pernikahan seperti itu. Pernikahan itu cukup sekali seumur hidup dan anda juga sudah tahu bahwa saya hanya ingin menikah dengan seseorang yang mencintai saya dan juga saya cintai.” Ucap Rasti tegas.


“Saya mencintaimu!” jawab Faris tegas.


__ADS_2