Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 6


__ADS_3

Dua hari cepat berlalu, kini Zia sedang bersantai di ruang keluarga bersama Zea dan kedua orangtuanya, “Ma, Pa, Dek, ini kakak buatkan minuman untuk kalian. Ini bagus kok untuk pencernaan!” ucap Zia sambil menghidangkan minuman itu.


Zea, Alya dan Gibran segera minum tanpa rasa curiga sedikitpun, “Maafin kakak! Kakak terpaksa melakukan ini.” Batin Zia.


Setelah Zea dan kedua orangtuanya minum mereka segera mengantuk dan akhirnya tidur. Zia pun segera melaksanakan rencananya.


Sebelum Zia pergi dia melihat kembali adiknya dan kedua orang tuanya dikamarnya. Sambil meneteskan airmata dia mengecup kening orang yang sangat dia kasihi itu, “Maafin kakak! Selamat tinggal.” Ucap Zia.


Dia pun segera pergi dari rumah menggunakan taxi yang sudah menunggunya. Saat ini yang ada diotaknya hanya bagaimana dia pergi jauh dulu dari keluarganya agar keluarganya tidak akan menemukannya dan menanggung malu akibat dirinya. Walaupun keluarganya tidak menyalahkannya tapi Zia tahu suatu saat nanti keluarganya tetap akan disudutkan. Maka untuk itulah dia memutuskan untuk pergi dan entah dia akan kembali atau tidak. Itu nanti akan menjadi keputusannya suatu saat nanti. Saat ini tujuan Zia yaitu pergi ke kota yang berbeda dari keluarganya.


***


Saat ini di rumah sudah menunjukkan waktu subuh, kedua orang tua Zia dan adiknya sudah bangun tapi mereka merasakan pusing. “Ah, kepalaku! Kenapa ini,,” gumam Zea.


Zea dan kedua orang tuanya pun segera melakukan sholat subuh berjamaah tanpa memeriksa Zia sebelumnya karena mereka yakin pasti Zia sudah sholat subuh karena waktu shubuh sudah lewat sekitar 20 menit.


Tapi saat waktu sarapan tiba, Zia tetap tidak kelihatan akhirnya Alya menanyakan Zia kepada Zea, “Dek, kakak mana?” tanya Alya.


“Kakak? Mungkin dikamarnya. Zea juga belum memeriksanya.” Ucap Zea.


“Daritadi kakakmu belum kelihatan.” Ucap Alya.


“Ya sudah biar Zea periksa dikamarnya.” Ucap Zea berlalu menuju kamar kakaknya.


Tidak lama kemudian, “Mama! Papa!” panggil Zea dari kamar kakaknya.


Alya dan Gibran yang mendengar teriakan Zea pun segera berlari menyusul Zea karena mereka berpikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Zia.

__ADS_1


“Ada apa dek?” tanya Alya begitu tiba dikamar putry sulungnya itu.


“Ma, kakak gak ada. Dia sudah pergi.” ucap Zea menangis.


“Apa maksudmu dek?” tanya Gibran.


“Lihat Pa!” ucap Zea sambil menyerahkan sebuah amplop kepada orang tuanya.


Alya pun segera membuka amplop itu lalu membacanya. Gibran juga ikut melihat isi amplop itu dan ikut membacanya bersama istrinya.


Untuk : Mama dan Papa yang paling aku cintai.


“Assalamu’alaikum Ma, Pa! Jika kalian sudah membaca surat ini, itu berarti kakak sudah pergi. Ini Zia. Iya Zia putri sulung kalian, putri yang kalian banggakan selama ini. Tetaplah ingat Zia seperti itu. Hahahh! Apa permintaan kakak sulit yaa,, karena mungkin sekarang kakak sudah bukan putri yang kalian banggakan. Ah, Zia bercanda kok, Zia yakin kalian pasti tetap menyayangi Zia. Zia ingin mengatakan jaga diri kalian baik-baik. Jangan lupa kalian harus minum vitamin kalian. Zia sudah minta Zea untuk mengontrol kalian minum obat. Awas saja jika tidak diminum nanti Zia sedih loh. Eee,, Mama sama Papa jangan khawatir Zia tidak akan bunuh diri atau pun menggugurkan kandungan Zia. Zia pasti akan menjaga cucu kalian dengan baik. Intinya Zia akan baik-baik saja, jangan khawatirkan Zia. Maafkan Zia melakukan ini tanpa persetujuan kalian, Zia hanya tidak ingin kalian malu dan menjadi cemoohan orang. Zia tidak ingin harga diri kalian dinjak-injak jadi hiduplah seperti biasa. Anggap saja Zia sedang pergi praktik. Jika ada yang bertanya maka jawab saja seperti itu. Zia mohon. Ah,, tangan Zia sudah lelah menulis, Zia akhiri sampai sini saja yaa. Daa,, Kakak mencinta kalian. Ohiya satu lagi Zia ingin menyampaikan maaf karena sudah memberi kalian obat tidur tapi jika tidak begitu bagaimana kakak bisa pergi karena kakak yakin kalian pasti tidak akan mengizinkannya. Tolong maafkan Zia dan jaga diri kalian dengan baik.”


Dari : Putri cantik kalian, Zia.


“Pah, dia akan kemana? Dia sedang hamil. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa.” Tangis Alta.


“Mama, tenang saja. Kita akan mencarinya. Dia pasti belum jauh.” Ucap Gibran segera berlalu keluar tapi tangannya ditahan oleh Zea.


“Kenapa dek? Papa harus mencari kakak.” Ucap Gibran.


“Kakak tidak ingin dicari.” Ucap Zea sambil menangis.


“Maksudnya?” tanya Gibran bingung.


Zea pun segera memberikan surat yang ditulis Zia untuknya.

__ADS_1


Untuk : Zea, Adikku yang paling kusayangi.


“Assalamu’alaikum dek! Ah, aku yakin kau pasti yang menemukan surat ini dan saat ini kau pasti sudah membacanya. Ohiya, kakak Cuma mau bilang tolong jaga Mama dan Papa dengan baik. Kakak titip mereka yaa! Karena kakak harus pergi. Jadi kakak serahkan semua tanggung jawab menjaga mereka kepadamu, maaf yaa kakak melakukan ini tanpa persetujuanmu. Ohiya, kamu juga harus menjaga dirimu dengan baik, kuliah dengan baik dan banggakan orang tua kita. Satu lagi jika nanti papa dan mama mencari kakak, kau harus menghalanginya karena kakak tidak ingin mereka kelelahan. Jika nanti kakak tahu bahwa kau tidak menghalangi mereka maka kakak pastikan kalian tidak akan pernah bertemu dengan kakak lagi. Maaf dek sudah mengancammu, pokoknya kau harus menghalangi mereka jika memang ingin melihat kakak lagi. Dek, kau tenang saja kakak pasti akan pulang tapi nanti. Kakak belum bisa beritahu kapan tapi pasti kakak akan pulang. Ohiya kakak titip barang-barang kakak yaa. Tolong berikan juga tabungan kakak pada Mama dan Papa, kau tahu kan passwordnya. Ponsel kakak juga, kakak titip yaa. Ohiya sampaikan juga bahwa kakak sudah lulus kok ujian nersnya. Kakak tinggal menunggu wisuda saja. Ah, akhirnya kakak bisa juga meraih gelar kakak. Kamu jaga diri baik-baik, jangan sampai apa yang terjadi pada kakak terjadi juga padamu. Daa,, adikku sayang, I Love You. Aku akan sangat merindukan adik bawelku ini. Hehehehh! Selamat tinggal dek dan sampai jumpa. Jangan sedih! Okay?”


Dari : Kakak cantikmu dan sangat baik, Zia.


Begitulah isi surat Zia untuk Zea.


“Dasar anak nakal!” ucap Gibran sambil meneteskan airmatanya.


“Pa, lalu bagaimana? Dia meninggalkan semua barangnya disini dan pakaian yang dia bawa pun hanya sedikit begitu juga tabungannya. Kenapa dia melakukan ini Pa pada kita?” tanya Alya.


“Ma, kita,, Papa juga gak tahu harus melakukan apa. Kenapa anak itu sangat keras kepala, lebih mementingkan harga diri kita daripada dirinya. Entah kenapa dia selalu mendahulukan yang lain daripada dirinya sendiri.” Ucap Gibran memeluk istrinya.


“Pa, Ma, lebih baik sekarang kita sarapan. Kakak tidak ingin kalian sakit. Aku tahu kalian sedih kakak pergi begitupun denganku. Tapi aku tidak ingin mengecewakan kakak. Aku yakin dia pasti akan baik-baik saja. Bukankah dia adalah putri kebanggaan kalian? Dia itu panutanku. Dia pasti akan baik-baik saja. Ayo, lebih baik sekarang kita sarapan.” Ucap Zea mengajak kedua orang tuanya itu sarapan.


Saat sarapan semuanya diam dan tidak ada yang berselera makan. Semua diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


“Lihatlah kak! Aku berusaha membujuk mereka makan tapi mereka tidak berselera begitupun denganku. Kenapa kau harus meninggalkan kami. Ayo segera pulang kak. Kasihan mama dan papa. Aku juga sangat merindukanmu. Entah bagaimana aku harus melalui ini tanpamu kak.” Batin Zea memandang kedua orang tuanya.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,,🙏🏻

__ADS_1


Mohon maaf jika ada typo guys!🙏🏻


__ADS_2