
“Honey, coba lihat ini?” pinta Zia memperlihatkan sketsa klinik yang ingin dia buat.
Pras pun segera menerimanya, “Hmm,, ini sudah bagus kita tinggal menyempurnakannya saja.” Ucap Pras.
Zia pun mengangguk, “Kalau begitu biar Hans yang akan mengurus ini.” ucap Pras.
“Baiklah.” Jawab Zia.
Pras dan Zia pun kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ya saat ini mereka sedang ada di ruang kerja sedang dibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Keesokan harinya di kantor.
“Hans, ini sketsa klinik yang istriku buat.” Ucap Pras kepada Hans.
Hans pun menerimanya, “Baik tuan, aku akan segera mengerjakan ini.” jawab Hans lalu segera pergi untuk mengerjakan perintah dari tuan dan nyonyanya.
***
Zea kini dia sangat sibuk dengan skripsinya bahkan “ZP Keripik” pun diserahkan sementara kepada Ammar dan Hanifa.
Zea ingin segera menyelesaikan skripsinya karena dia ingin segera bergabung dengan Zia dalam klinik yang dia buat.
Drt,, drt,, drt,,
“Halo, Assalamu’alaikum.” Zea langsung menjawab teleponnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
“Halo, Waalaikumsalam dek. Kamu gak lupa kan hari ini akan menemani kakak menemui tuan Lian?” tanya Rasti dari seberang telepon.
Zea pun akhirnya meletakkan laptopnya sebentar begitu mengetahui siapa yang sedang bicara dengannya. Zea juga seketika bengong mendengar perkataan terakhir dari kakaknya itu karena sejujurnya dia lupa bahwa hari ini dia memiliki janji dengan kakaknya.
“Dek, kamu masih disana kan?” Rasti memastikan bahwa sambungan telepon masih terhubung.
“Iya kakak, Zea masih disini kok.” jawab Zea.
__ADS_1
“Huhh, kakak pikir kamu gak ada karena gak ada suara. Ohiya kamu mau kan menemani kakak?” ulang Rasti bertanya.
“Hmm,, maaf ya kak Zea melupakan bahwa kita hari ini memiliki janji. Maaf juga mungkin Zea belum bisa menemani kakak hari ini karena Zea harus melakukan bimbingan skripsi tapi jika Zea sempat pasti akan datang.” Jawab Zea berbohong karena sejujurnya dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki yang sudah membuatnya jatuh hati sekaligus patah hati di waktu yang bersamaan itu. Selain itu juga dia tidak ingin akan ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Tapi alasan yang paling kuat adalah dia ingin melupakan Lian.
“Kamu kok gitu sih dek padahal kemarin kamu sudah janji loh mau menemani kakak.” Ucap Rasti kecewa.
Zea pun menjadi tidak enak, “Hmm,, baiklah Zea akan menemani kakak nanti Zea akan meminta izin kepada dosen pembimbing.” Ucap Zea akhirnya karena dia tidak ingin hanya karena keegoisannya akan membuatnya kakaknya itu kecewa.
“Beneran yaa? Kakak akan menjemputmu nanti. Kamu di kampus kan?” Rasti pun bicara dengan nada girang.
“Kakak jemput saja aku di rumah kak Zia.” Ucap Zea.
“Okay kalau begitu. Hmm,, baiklah kakak tutup dulu teleponnya. Kamu sibuklah! Wassalamu’alaikum.” Ucap Rasti segera memutuskan sambungan telepon begitu Zea menjawab salamnya.
Zea pun hanya bisa melihat teleponnya dengan tatapan pedih, tidak ada yang tau apa yang dia pikirkan, “Huh!” Zea menghela nafas berat.
***
Lian pun hanya menatap asistennya itu sekilas sambil bernafas berat, “Kamu atur saja.” Jawab Lian pasrah karena dia tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan. Gadis yang dia cintai sudah berapa hari ini tidak bertemu dengannya. Selain itu juga dia sangat pusing entah harus bagaimana menggagalkan perjodohan konyol itu tambah Zea pun memintanya melupakannya dan justru memintanya menerima perjodohan itu.
Alan pun hanya bisa mengangguk karena dia tahu tuannya itu sedang dalam masalah besar. Dia ingin membantu tapi dia juga gak tahu apa yang harus dia lakukan karena dia juga tidak mengerti jika menyangkut soal perasaan.
Sementara di sebuah mansion, “Tuan, ini semua adalah info mengenai gadis itu.” Ucap seseorang sambil memberikan beberapa dokumen kepada tuannya.
George pun tersenyum menerimanya lalu mulai membukanya dan membacanya, “Pantas saja dia menolak perjodohan ini mentah-mentah.” Gumam George setelah membaca dan melihat dokumen itu.
George pun kembali tersenyum lalu segera mengatakan sesuatu kepada orang suruhannya itu. Orang suruhannya itu pun hanya mengangguk lalu segera pergi melaksanakan tugasnya.
Setelah kepergian orangnya, George pun kembali melihat dokumen dan beberapa foto di tangannya, “Aku akan melihat sampai dimana perjuanganmu mendapatkan gadis ini.” gumam George tersenyum misterius.
***
Kini di salah satu ruangan VIP sebuah restoran mewah duduklah empat orang yang hanya diam saja sekitar lima menit yang lalu.
__ADS_1
“Tuan, Nona apa pesanannya akan segera dibawa kesini?” tanya pelayan yang bertugas melayani mereka memecahkan keheningan.
Rasti pun akhirnya sadar dan segera tersenyum lalu bertanya kepada pria dihadapannya yang dari tadi hanya melirik Zea, “Tuan Lian apa kita langsung makan siang?” tanya Rasti.
Lian pun akhirnya sadar dan segera menanggapi, “Lakukan saja.” Jawab Lian cuek tapi matanya masih melirik seseorang yang ada dihadapannya yang dari tadi hanya menunduk diam.
Rasti pun mengangguk kepada pelayan itu sambil memperhatikan pandangan pria yang dijodohkan dengannya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
Makan siang itu pun berlalu dengan keheningan di dalamnya. Tidak ada yang bicara karena semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Alan yang sebenarnya hanya ingin mengantar tuannya itu justru menjadi menemani tuannya dan akhirnya dia melewati makan siang itu dengan canggung. Sementara Zea dia tidak tahu harus bersikap seperti apa karena sejak Lian datang dia menyadari tatapan pria itu hanya tertuju padanya. Dia takut hal itu akan membuat pertanyaan dalam benak Rasti.
Rasti pun hanya berusaha tersenyum dalam makan siang itu karena suasana saat ini benar-benar membuatnya canggung dan tidak mengerti. Pasalnya tujuan mereka bertemu yaitu untuk membicarakan kelanjutan perjodohan mereka tapi dia justru menyadari sesuatu yang membuatnya kaget.
Sementara Lian si pelaku utama justru merasa apa yang dia lakukan bukanlah sesuatu yang salah karena dia tidak ingin menunjukkan kepura-puraan. Dia justru sangat senang jika Rasti menyadari siapa sebenarnya yang dia cintai karena memang itu tujuan utamanya yaitu membuat Rasti mengerti siapa yang dia cintai. Baginya lebih baik Rasti segera mengetahuinya sebelum gadis itu nanti akan memiliki perasaan lebih padanya.
“Terima kasih tuan Lian atas makanannya.” Ucap Rasti begitu mereka di parkiran akan segera pulang. Lian pun hanya mengangguk karena dia sejujurnya ingin mendengar suara Zea, suara gadis yang sangat dirindukannya namun sayang sampai pulang pun gadis itu tetap diam saja.
Akhirnya Rasti dan Zea pun segera pergi dan di dalam mobil terjadi keheningan sebelum Rasti bertanya, “Dek, kamu kenapa? Apa kamu memikirkan sesuatu? Kenapa kamu diam saja dari tadi?” tanya Rasti basa basi.
Zea pun hanya tersenyum, “Zea gak apa-apa kok kak.”
Rasti pun mengangguk mengerti. Dia sangat tahu bahwa adiknya itu menyembunyikan sesuatu, “Dek, kakak ingin menanyakan sesuatu padamu? Apa boleh?” tanya Rasti.
“Tentu boleh kak. Kakak kayak sama siapa pake izin dulu.” ucap Zea.
“Hmm,, baiklah kakak gak akan canggung. Hmm,, menurutmu apa tuan Lian menyukai gadis lain?” tanya Rasti.
*
*
Maaf yaa author baru sempat up sekarang!!
Maaf juga judulnya author ganti karena ceritany sudah termasuk Zea jadi menurut author judulnya kurang cocok. Author harap kalian tidak keberatan. Heheh!!
__ADS_1