
Setelah itu Lian beralih menatap kakeknya, dia pun mendekatinya kakeknya itu, “Maaf kek!” ucap Lian memeluk kakeknya itu.
“Hahah,, apa aku tidak salah dengar cucu yang sangat membenciku hari ini mengatakan maaf.” Ucap George menggoda cucunya itu.
“Maaf untuk segala kesalahanku dan terima kasih atas semuanya.” Ucap Lian.
“Kakek yang justru minta maaf padamu karena selalu memaksamu selama ini.” ucap George menatap sang cucu.
“Kita sama-sama salah kek.” Ucap Lian.
“Kalau begitu bisakah kau kembali ke Mansion utama, tinggal bersama kakek dan mari kita perbaiki hubungan kita.” Pinta George.
Lian pun mengangguk, “Aku akan pindah kesana.” Jawab Lian.
Alan yang melihat dari jauh meneteskan air mata bahagia melihat tuan mudanya bahagia dan bisa berdamai dengan kakeknya. Sudah lama dia tidak melihat Lian bicara lembut seperti itu dengan kakeknya, “Aku ikut bahagia untukmu tuan.” Ucap Alan.
“Hahah,, aku tidak menyangka sang asisten yang dingin bisa menangis juga.” Ucap Gaby tiba-tiba tertawa karena melihat Alan menangis.
Alan yang di ledek pun menatap kesal kepada Gaby.
Kini semua kesalahpahaman sudah selesai.
__ADS_1
***
Kini tinggalah Zea dan Lian yang di tinggalkan berdua di hotel karena semua keluarga sudah pulang dan mereka juga tahu bahwa Lian dan Zea butuh waktu berdua.
“Dek!!” panggil Lian memecahkan keheningan yang terjadi antara mereka.
Zea pun menoleh melihat tunangannya itu, “Bagaimana perasaanmu?” tanya Lian menatap Zea.
Zea menggeleng, “Zea gak tahu.” Jawabnya.
“Apa kamu gak bahagia dengan ini?” tanya Lian.
“Zea bukan tidak bahagia hanya saja ini terjadi tiba-tiba dan kak Rasti.” Ucap Zea terpotong.
Lagi-lagi Zea menggeleng, “Zea tidak mengatakan menyesal hanya saja Zea tidak tahu harus bagaimana mengekspresikannya.” Jawabnya.
Lian pun tersenyum lalu menarik Zea ke pelukannya, “Aku tahu apa yang kau pikirkan, suasana ini memang membuat canggung tapi bukankah kakakmu sendiri yang sudah merencanakan ini. Aku tidak munafik aku sangat bahagia saat ini karena tunanganku adalah wanita yang aku cintai.” Ucap Lian mengecup kepala Zea yang di tutupi hijab itu.
Zea yang sadar dengan posisi mereka pun melepaskan pelukan Lian, “Kakak, lain kali jangan pernah memelukku lagi. Kau kan tahu bahwa kita bukan mahram.” Ucap Zea.
Lian pun tertawa, “Lalu apa aku harus segera menikahimu agar aku bisa bebas memelukmu? Jika begitu besok kita menikah?” ucap Lian yang langsung mendapat pukulan dari Zea.
__ADS_1
“Aw, sakit sayang.” ucap Lian pura-pura kesakitan padahal tidak sakit sama sekali.
“Siapa suruh bicara ngelantur.” Timpal Zea cuek.
“Ngelantur bagaimana sih sayang, bukankah aku benar?” tanya Lian.
“Kakak pikir menikah itu tidak butuh persiapan bahkan kakak juga mengajakku menikah di tempat seperti ini. Dasar tidak romantis.” Ucap Zea.
Lian pun lagi-lagi tertawa, “Hahah,, baiklah maaf! Baiklah aku akan melamarmu nanti tapi jangan di tolak yaa.” Ucap Lian menggoda Zea.
“Hmm,, jika Zea tidak berubah pikiran.” Ucap Zea.
“Apa? Jangan harap kau bisa lepas begitu saja sayang. Aku tidak akan membiarkanmu.” Ucap Lian.
Zea hanya tersenyum lalu berlari meninggalkan Lian, “Hey, sayang jangan lari begitu saja.” Ucap Lian mengejar Zea.
“Sayang pelan-pelan nanti,,” belum selesai Lian bicara Zea sudah terjatuh karena gaunnya yang kepanjangan. Lian pun segera mendekati tunangannya itu berdiri.
“Makanya jangan lari-lari sayang. Udah tau pakai gaun panjang masih aja lari-lari. Jatuh kan jadinya.” Omel Lian.
“Huh, maaf dasar bawel.” Ucap Zea.
__ADS_1
Lian pun yang di katai bawel menggelitik perut Zea sampai Zea minta ampun.