
Sementara Lian hanya bisa menatap Zia penuh tanya karena dia pun sudah tidak tahu bagaimana caranya agar sang istri bangun, “Caranya seperti apa kak?” tanya Lian penuh harap.
Zia tidak menjawab tapi langsung pergi ke kedua incubator yang ada dalam ruangan itu di mana ada kedua buah hati Zea di sana.
Zia melihat kedua putra Zea itu dengan tersenyum di mana keduanya juga sedang membuka mata mereka, “Maafkan aunty sayang. Aunty harus melakukan ini agar bunda kalian segera sadar dari tidurnya. Aunty harap kalian mau bekerja sama.” Gumam Zia lalu segera mengeluarkan satu putra Zea itu.
“Rasti!” panggil Zia dan Rasti pun segera mendekat dan menerima bayi dari tangan Zia itu kedalam gendongannya. Kini dia mengerti apa yang di rencanakan oleh Zia.
Setelah itu Zia mengeluarkan bayi yang satunya lagi lalu Zia dan Rasti segera mendekati ranjang Zea, “Dek, jika kau masih ingin tidur dan tetap nyaman di tempatmu sekarang berada maka jangan salahkan kami akan membawa kedua buah hatimu ini pergi. Ingat dek kakak tidak main-main dan perlu kau tahu jika kami sudah membawanya pergi maka jangan harap kau bisa menemui mereka.” Ucap Zia.
__ADS_1
“Kakak benar dek, kami akan membawa anakmu pergi dan kami akan menyembunyikannya darimu. Kami pastikan kau tidak akan menemukannya.” Lanjut Rasti.
Ketiga laki-laki yang berada dalam ruangan yang sama pun hanya membiarkannya dan menonton apa yang akan terjadi sambil berdoa semoga apa yang dilakukan oleh Zia dan Rasti bisa menyadarkan Zea.
“Dek, kau senang kan berada di sana jadi kakak yakin kau pasti tidak peduli pada mereka jadi daripada kau tidak menginginkan mereka maka lebih baik kakak dan Rasti yang akan merawat mereka dan menjadikan mereka anak kami.” Ucap Zia masih memancing emosi dalam diri Zea. Zia yakin hati seorang ibu dalam diri Zea akan bangkit walau dia masih dalam kondisi tidak sadar.
“Hmm,, sudah lima menit sepertinya kau sudah memutuskan pilihanmu. Baiklah jika begitu kami akan membawa mereka.” Ucap Zia lalu berbalik menuju pintu dengan diikuti oleh Rasti di belakangnya.
Zea mulai merespon dengan jarinya yang bergerak dan air mata yang menetes di pipinya, “Jangan!” teriak Zea dan langsung membuka kedua matanya tepat saat Zia akan membuka pintu ruangan itu.
__ADS_1
Lian yang melihat itu pun segera menggenggam tangan istrinya sementara Faris dan Pras segera berlari memanggil dokter padahal mereka bisa saja hanya menekan tombol untuk memanggil dokter tapi karena bisa sangat bahagia hingga hal itu pun tidak lagi terpikirkan dan secara refleks berlari keluar memanggil dokter.
Sementara Zia segera meneteskan air matanya dan berbalik menuju ranjang Zea dengan bayi dalam gendongannya, “Jangan kak!” ucap Zea lemah dengan matanya meneteskan air mata menatap Zia dan Rasti.
Zia mengangguk lalu menyentuh pipi sang adik, “Kami tidak akan membawa mereka.” Ucap Zia lalu segera pindah dari ranjang memberikan dokter yang baru saja datang untuk memeriksa Zea.
Sementara Zia dan Rasti dengan di bantu oleh perawat mengembalikan kedua buah hati Zea itu ke dalam incubator kembali.
“Bagaimana dokter?” tanya Lian begitu melihat dokter selesai memeriksa dan melepas EKG serta oksigen yang terpasang dalam tubuh Zea.
__ADS_1