
Hari ini hari pertama Zia mulai praktik di rumah sakit, dia ditempatkan di ruang anak karena dia sangat menyukai anak-anak dan memang cita-citanya juga begitu. Zia memulai praktik di rumah sakit setelah Zayyan dan Zayyah berumur 6 bulan karena dia ingin memberikan ASI eksklusif untuk kedua buah hatinya itu.
Semua dokter dan perawat di rumah sakit dimana Zia pernah melahirkan itu menerimanya dengan baik karena nilai Zia yang sangat memuaskan dan dibuktikan dengan profesionalnya yang memang handal.
Jadwal Zia di rumah sakit dari senin sampai kamis dinas pagi. Dia di antar oleh Pras karena Pras tidak ingin istrinya itu menyetir sendiri padahal Zia sudah dia belikan mobil.
Zia pun sangat bahagia melakukan praktiknya itu karena dia tidak menyangka bahwa cita-citanya saat ini telah terwujud walau dia pernah berpikir untuk melupakan saja cita-citanya itu.
“Halo, Assalamu’alaikum Honey!” ucap Zia.
“Wa’alaikumsalam, apa kamu merasa nyaman disana? Semua memperlakukanmu dengan baik kan?” tanya Pras.
“Iya Alhamdulillah suamiku aku merasa sangat bahagia dan semua orang disini memperlakukanku dengan baik. Kamu jangan khawatirkan aku, aku pasti bisa menyesuaikan diri. Lebih baik sekarang suamiku ini fokus bekerja yaa.” Ucap Zia.
“Aku gak bisa fokus bekerja baby. Aku takut mereka memperlakukanmu dengan tidak baik. Ingat baby! Kamu harus mengatakan padaku jika mereka memperlakukanmu dengan buruk.” Ucap Pras.
“Baiklah, aku akan mengatakannya tapi sekarang suamiku ini harus bekerja yaa. Aku tidak ingin suamiku ini bangkrut nanti hanya karena tidak fokus bekerja.” Ucap Zia tersenyum.
“Baby, apa sekarang kamu khawatir aku tidak bisa menghidupimu dan si kembar. Asal kau tahu saja aku punya banyak tabungan jadi kau jangan khawatir.” Balas Pras.
Zia pun tertawa, “Tapi suamiku jika kau terus begini maka pasti tabunganmu itu akan habis, aku tidak ingin hidup susah suamiku.” Ucap Zia.
“Apa sekarang istriku ini takut hidup susah?” tanya Pras.
“Aku sih gak apa-apa suamiku jika hidup susah karena aku sudah biasa hidup sederhana, aku hanya mengkhawatirkanmu.” Ucap Zia.
“Hahahh,, kamu jangan khawatir baby, uangku tidak akan habis hanya karena menghidupi kalian.” Ucap Pras sambil tertawa.
“Alhamdulillah jika begitu. Maka sekarang suamiku ini bekerja yaa, fokus bekerja, aku menyayangimu. Semangat bekerjanya! Ohiya jangan lupa makan siang. Bye suamiku! Wasalamu’alaikum!” ucap Zia segera memutuskan sambungan telepon.
“Wa’alaikumsalam baby!” balas Pras walau dia tahu bahwa sambungan telepon sudah terputus. Pras pun segera fokus lagi bekerja setelah memastikan keadaan istrinya.
***
Seminggu kemudian, tidak terasa Zia sudah melakukan praktik sudah seminggu. Zayyan dan Zayyah di asuh oleh Ratna jika Zia pergi ke rumah sakit karena hanya dia yang Zia percayai.
Hari ini juga adalah wisuda dari Rasti semua keluarga berkumpul untuk merayakannya.
“Selamat dek!” peluk Zia.
“Terima kasih!” jawab Rasti.
Semua orang pun memberi selamat kepada Rasti. Mereka berkumpul di kediaman Mahendra untuk merayakan kelulusan Rasti tidak ketinggalan juga orang tua Zia hadir. Begitu juga Zea dia ikut hadir juga.
__ADS_1
Mereka merayakan kelulusan Rasti dengan acara makan malam yang hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.
“Ra, berarti kamu akan segera mengambil alih perusahaan mami kan?” tanya Pras begitu mereka selesai makan dan sedang bersantai di ruang tamu.
“Iya dek. Mami akan segera menyerahkan perusahaan kepadamu.” Ucap Celine.
“Mih, aku baru saja lulus masa iya langsung bekerja di perusahaan. Aku belum berpengalaman Mih. Aku masih ingin mencari pengalaman lebih dulu.” Ucap Rasti.
“Kamu sudah cukup berpengalaman sayang. Bukankah bisnismu dengan kakak iparmu berjalan lancar hingga saat ini. Itu membuktikan bahwa kau mampu.” Timpal Andrew.
“Itu berbeda pih. ZP keripik hanyalah usaha kecil tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan.” Jawab Rasti.
“Itu sudah cukup. Bukankah setelah kakak iparmu menikah kau yang mengelolanya?” tanya Andrew.
“Itu memang benar pih. Tapi aku tetap dibantu oleh kak Zia dan sekarang Zea yang menggantikan kak Zia. Jadi bisa dikatakan bukan hanya aku yang mengelolanya.” Jawab Rasti. Yah, setelah Zia sibuk mengurus si kembar maka Zea-lah yang membantu Rasti mengelola ZP keripik dan setelah Zia mulai mendaftar ke rumah sakit maka tugas Zia sudah sepenuhnya di serahkan kepada Zea.
“Nak, itu memang perusahaanmu. Bukankah perusahaan mami memang sudah menjadi milikmu sejak awal. Jadi kamu gak boleh menolaknya!” ucap Celine.
“Huh, baiklah. Tapi beri aku waktu untuk mempersiapkannya.” Ucap Rasti akhirnya.
Andrew dan Celine pun hanya tersenyum, “Kakak yakin kau bisa.” Ucap Pras memberi semangat kepada adiknya.
“Kamu pasti bisa dek! Kakak tahu kau memiliki bakat.” Lanjut Zia.
Setelah itu mereka pun kembali bicara untuk merayakan kelulusan Rasti. Andrew dan Gibran bertanding catur sementara Alya dan Celine sedang bermain dengan si kembar yang sudah bisa duduk dan sudah bisa menyebut kata ayah dan bunda. Yah Zia ingin dipanggil bunda begitu juga dengan Pras dia ingin dipanggil ayah. Zia pun mengajarkan hal itu kepada kedua anaknya.
“Ne-nenek!” panggil Zayyah sambil tertawa dalam gendongan Alya.
Alya yang mendengar itu terharu dan segera mencium wajah Zayyah. Tidak lama juga akhirnya Zayyan juga menyebut begitu yang saat ini dalam gendongan Celine. Akhirnya kedua nenek itu sangat bahagia karena dipanggil oleh cucu mereka begitu.
Celine dan Alya pun bermain-main dengan si kembar karena mereka sangat bahagia bahkan membuat Andrew dan Gibran yang sedang bermain catur cemburu karena si kembar hanya menyebut nenek.
“Kasihan kalian! Kalian tidak dikenali oleh cucu kalian.” Ucap Celine sambil menciumi wajah Zayyan yang justru ditanggapi dengan tawa oleh bayi itu.
Pras dan Zia pun hanya tersenyum melihat itu.
***
Saat ini Zea sedang ada di mall karena harus ada yang dia beli. Dia datang sendiri karena kepribadiannya sama dengan Zia yang memang sulit bergaul walau tidak sesulit Zia.
Dia pun berkeliling untuk mencari apa yang dia cari tiba-tiba ponselnya berdering, “Halo kak!” ucap Zea.
“Dek, kau ada dimana?” tanya Rasti karena mendengar suara bising.
__ADS_1
“Aku ada di mall kak.” Jawab Zea.
“Kamu kok gak ngajak kakak sih.” Ucap Rasti sedih.
“Ouh ayolah kak, jangan sedih begitu. Aku bukan tidak bermaksud mengajakmu hanya saja aku dari kampus langsung ke sini karena ada yang harus aku beli. Lagian kakak juga sedang fokus belajar bisnis kan, aku tidak ingin mengganggumu kak.” Ucap Zea.
“Ah, baiklah. Tapi lain kali kau harus mengajak kakak.” Ucap Rasti.
“Baiklah.” Jawab Zea.
“Janji?” tanya Rasti.
“Janji.” Jawab Zea.
Sambungan telepon itu pun segera berakhir. Zea yang tidak melihat jalan tiba-tiba menabrak seseorang di hadapannya.
Bruk
“Ah, maaf!” ucap Zea spontan padahal dia yang jatuh. Dia memang menabraknya tapi karena postur tubuh orang yang ditabraknya itu kuat akhirnya dia yang jatuh.
“Kamu gak apa-apa?” tanya seorang pria segera mengulurkan tangannya untuk menolong Zea.
Zea pun segera melihat ke arah orang yang di tabraknya itu dimana postur tubuhnya kira-kira setinggi 177 cm dengan setelan jas lengkap dimana terlihat sangat tampan.
Zea yang masih sadar dan tidak terlalu terbuai dengan pemandangan dihadapannya itu pun segera berdiri tanpa menerima uluran tangan pria itu.
“Maaf saya tidak bisa menerimanya. Terima kasih sudah menolong saya dan maaf sudah menabrak anda. Kalau begitu saya pamit!” ucap Zea menunduk dan segera pergi begitu selesai bicara.
Pria itu pun hanya tersenyum dan merasa aneh karena baru kali ini dia melihat ada seorang gadis yang menolak untuk menerima tangannya karena biasanya banyak gadis yang mengincarnya bahkan rela naik ke ranjangnya. Pria itu pun menatap kepergian Zea sampai Zea tidak terlihat lagi dari pandangannya, “Gadis yang menarik!” gumam pria itu tersenyum dan segera melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh
🙏🏻😉😁
__ADS_1