
Zea pun segera memilih beberapa gaun dan setelan jas untuk suaminya, pilihannya jatuh pada gaun warna navy dengan aksen bunga di pinggang. Hal itu terlihat sangat cantik di badannya. Lalu dia juga mengambil setelan jas untuk sang suami sama warna dengan gaunnya.
“Apa hanya itu nak yang kau inginkan?” tanya George yang memang dari tadi melihat Zea memilih.
“Hmm,, ini saja deh kek.” Jawab Zea.
“Gak boleh begitu dong nak, ayo sana kau pilih lagi gaun yang lain yang kau sukai.” Ucap George.
Zea pun hanya menurut saja dan akhirnya dia menambah tiga gaun lagi dan satu setelan jas untuk sang suami.
***
Sementara di sisi lain, “Tuan, anda di undang oleh perusahaan C jamuan makan malam besok.” Ucap Reno kepada Faris.
“Hmm,, baiklah.” Jawab Faris.
“Tuan undangannya harus membawa pasangan.” Ucap Reno lagi.
“Apa harus?” tanya Faris.
__ADS_1
Reno pun mengangguk, “Sebenarnya bisa jika tuan tidak membawa pasangan tapi sepertinya semua orang akan membawa pasangan nanti.” Ucap Reno.
Faris pun terdiam sambil berpikir, “Apa perlu saya panggilkan seorang gadis untuk menemani anda kesana?” tanya Reno.
“Gak perlu aku akan mengajak seseorang.” Jawab Faris tersenyum misterius.
“Baiklah jika begitu, saya harap anda berhasil mengajaknya.” Balas Reno tertawa karena dia sudah menduga siapa yang akan di ajak oleh tuan mudanya itu.
“Sialan kau. Sana kau pergi!” usir Faris.
Sedangkan di CA Corp. sedang terjadi sesuatu yang sama juga, “Apa memang harus membawa pasangan?” tanya Rasti memastikan penjelasan asistennya itu.
“Kenapa anda tidak meminta saja kepada Tuan Faris nona.” Usul Gaby.
“Gaby, apa kau tidak salah bicara?” tanya Rasti menatap tajam asistennya itu.
Gaby yang di tatap begitu oleh Rasti hanya cengesan, “Sudahlah biar masalah ini aku pikirkan. Sana kau kembali ke tempatmu.” Ucap Rasti.
Gaby pun mengangguk lalu segera pergi, “Huh, apa aku harus pergi. Kenapa juga harus bersama pasangan? Ah, lebih baik gak usah datang saja. Yah itu lebih baik.” ucap Rasti.
__ADS_1
“Hmm,, kenapa gak datang hanya karena gak ada pasangan? Aku harus datang, aku tidak mau di bilang pengecut karena gak datang hanya dengan alasan tidak punya pasangan.” Ucap Rasti berikutnya.
“Ahh menyebalkan. Kenapa juga mereka harus mengundangku jika begini.” Ucap Rasti berteriak kesal karena pusing memikirkan acara itu. Dia pun akhirnya menjadi tidak fokus dengan dokumen di hadapannya.
Drt,, drt,, drt,,
Rasti yang mendengar ponselnya bordering segera menjawab tanpa melihat siapa penelpon, “Halo, Assalamu’alaikum. ” ucap Rasti.
“Wa’alaikumsalam nona Rasti. Apa anda sibuk?” tanya Faris dari seberang. Yap, penelpon itu adalah Faris.
Rasti yang mengenali suara Faris pun melihat ponselnya memeriksa apa benar Faris yang menelpon. Seketika dia menyesal karena tidak melihat terlebih dahulu siapa yang menelpon, “Halo, nona Rasti anda masih di sana kan?” tanya Faris karena Rasti hanya diam saja.
“Ee,, iya. Ada apa tuan Faris menelpon? Bukankah kerja sama kita sudah selesai?” tanya Rasti.
“Hahah,, jangan serius seperti itu nona Rasti. Apa salah menghubungi teman.” Ucap Faris.
“Teman? Sejak kapan kita menjadi teman?” tanya Rasti.
“Hmm, baiklah saya langsung saja. Saya ingin mengajak nona Rasti untuk pergi bersama menghadiri undangan jamuan makan malam perusahaan C. Apa nona Rasti bersedia?” Tanya Faris.
__ADS_1