Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 152


__ADS_3

Sementara untuk Lian dan Zea lain juga yang terjadi. Usia kandungan Zea kini sudah memasuki usia 30 minggu tapi karena usia kandungannya yang semakin tua maka penyakitnya pun semakin parah. Dalam sebulan ini dia sudah 6 kali masuk keluar rumah sakit untuk perawatan hingga membuat Lian selalu saja khawatir dan sedih melihat sang istri bahkan kini mereka di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Zea.


“Bagaimana dok?” tanya Lian.


“Seperti yang sudah saya katakan beberapa hari yang lalu penyakit nona Zea mempengaruhi kandungannya dan itu sudah semakin parah. Kita harus melakukan tindakan operasi secepatnya jika memang tidak ingin terjadi sesuatu tapi kami juga tidak bisa menjamin bahwa operasi ini tidak berbahaya karena usia kandungan nona masih sangat premature. Kita masih harus menunggu dua minggu lagi barulah bisa di lakukan operasi dengan segala resikonya.” Jelas dokter itu.


“Lalu harus bagaimana dok?” tanya Lian menggenggam tangan Zea yang mulai dingin dia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada kedua anaknya.


“Kami hanya bisa memberikan ini dulu untuk menguatkan kandungan nona dan mempermatang organ-organ mereka. Kandungan nona ini memang beresiko dua kali lipat karena dia mengandung kembar. Nona Zea juga pasti sangat mengerti ini kan karena anda juga bidan.” Ucap dokter itu menatap Zea.


Zea hanya mengangguk, “Tolong dokter lakukan yang terbaik dan segera tetapkan tanggal operasinya. Saya juga akan memanggil dokter kandungan dan bedah terbaik saat operasi itu.” Ucap Lian.


“Kami akan berusaha yang terbaik tuan. Saya harap anda dan nona akan tetap berusaha menjaga diri dengan baik terutama nona.” Ucap dokter itu.

__ADS_1


Lian dan Zea setelah itu keluar dari sana dan pergi ke Mansion kembali.


***


Tiga hari berlalu, di sisi Rasti hari ini dia akan pergi mengunjungi salah satu taman di kota Seoul untuk menghilangkan sejenak rasa rindunya kepada calon suaminya itu dengan berjalan-jalan tapi tetap saja rasa rindu itu semakin menjadi, “Sha, kenapa aku sangat merindukannya.” Ucap Rasti bicara pada pelayannya yang mengikuti dari belakang.


Tapi tidak mendapatkan jawaban, “Sha! Jawab dong!” ucap Rasti tapi tetap saja tidak mendapatkan jawaban hingga dia pun harus menengok ke belakang dan ternyata pelayannya itu tidak ada di belakangnya.


“Iss kemana sih Shani.” Ucap Rasti mulai lelah mencari dia pun akhirnya duduk di kursi yang ada di taman itu dan mengambil ponselnya untuk menelpon pelayannya itu.


Tapi sayang teleponnya tidak di jawab, “Sha kamu dimana? Ayo jawab!” ucap Rasti berulang kali menelpon Shani tapi tetap saja tidak di jawab.


“Jangan bilang Shani di culik lagi.” Ucap Rasti lalu langsung menelpon bodyguardnya tapi sama saja tidak di jawab.

__ADS_1


“Iss kemana sih mereka kenapa nomor ponsel mereka bisa tidak aktif bersamaan begini. Gak tahu apa aku khawatir.” Ucap Rasti kembali menghubungi Shani dan akhirnya di jawab.


“Shani kau di mana? Kenapa pergi tidak izin?” tanya Rasti begitu di sambungan telepon di jawab.


“Nona tolong nona a-aku--”


“Katakan kau di mana? Cepat!” potong Rasti dengan segala pikiran buruknya.


Shani pun segera menjawab di mana dia berada dan Rasti segera melajukan mobilnya begitu dia sudah mendapat alamat Shani di mana. Sekitar 10 menit akhirnya dia tiba di lokasi yang di sebutkan Shani tapi dia bingung karena tidak melihat siapapun di sana. Akhirnya dia kembali menghubungi Shani.


“Kamu di mana? Aku sudah sampai di lokasi!”


“Di belakang nona!” jawab Shani, Rasti pun segera berbalik dan dia kaget melihat siapa yang berdiri bersama pelayan dan bodyguardnya itu.

__ADS_1


__ADS_2