
“Kakakmu dan Tuan Faris itu akan menikah 3 minggu lagi.” Jawab Zia malas.
Bukan hanya Zea yang kaget tapi Rasti dan Faris juga ikutan kaget begitu mendengar perkataan Zia.
“Sungguh?” tanya Zea.
Rasti pun hanya menatap Faris lalu tersenyum kemudian mengangguk, “Wahh parah kau kak. Kenapa aku tidak mengetahuinya?” ucap Zea.
“Bukan hanya kau saja yang tidak mengetahuinya dek, kakak pun sama untung saja kakak menelpon mami kemarin. Jika tidak maka kakak mungkin gak akan tahu bahwa mereka akan menikah.” Ucap Zia menyindir Rasti.
__ADS_1
Rasti yang di sindir pun segera mendekati Zia dan memeluknya dari samping, “Maaf kak! Lamaran itu hanya terjadi secara tiba-tiba bahkan aku gak tahu keluarga kak Faris akan datang hari itu. Jika mami tidak menelpon maka aku tidak pulang dari kantor. Jadi jika kalian ingin marah jangan padaku karena aku ini korban di sini. Jika ingin marah maka marahi saja kak Faris karena ini semua terjadi karena dia yang tidak memberitahuku. Kasihanilah aku!” ucap Rasti dramatis.
Faris yang dari tadi hanya diam seketika gugup begitu menyadari tatapan Zia dan Zea yang mengarah padanya karena ulah calon istrinya itu, “Maaf nona Zia, nona Zea karena tidak memberitahu kalian rencana ini.” ucap Faris.
“Gak usah pake nona-nona segala. Kami masih kesal pada kalian berdua. Bisa-bisanya hal yang besar dalam hidup kalian tidak mengajak kami.” Ucap Zia yang di angguki oleh Zea.
“Sungguh?” tanya Zia dan Zea bersamaan.
Faris dan Rasti pun langsung mengangguk yakin. Zia dan Zea yang melihat itu segera saling pandang, “Baiklah karena kalian sudah menyembunyikan ini dari kami maka sebagai gantinya adalah,,” ucap Zia lalu memandang sang adik.
__ADS_1
“Cepatlah menikah dan buatlah keponakan yang lucu untuk kami. Jangan menundanya!” lanjut Zea. Rasti dan Faris yang mendengar hal itu segera terdiam pasalnya mereka tidak menduga bahwa hal itu yang akan keluar dari kedua kakak beradik itu. Tadinya mereka pikir Zia dan Zea akan meminta sesuatu seperti saham misalnya karena sudah menyembunyikan itu dari mereka.
“Bisa?” tanya Zia menatap Faris dan Rasti yang hanya diam saja.
Faris pun hanya menatap Rasti, “Emm,, nona Zia hal ini tergantung kepada calon istriku ini. Apa dia akan menyetujuinya atau tidak.” Ucap Faris tersenyum.
Rasti pun hanya bisa menatap tajam calon suaminya itu begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut Faris, “Ra!” panggil Zia.
Rasti pun segera menatap sang kakak lalu tersenyum, “I-itu akan terjadi kak. Aku memang juga ingin segera memiliki anak juga. Terlebih lagi mami dan papi memang sudah ingin melihat cucu dariku padahal mereka usdha punya cucu tiga dan sebentar lagi akan punya cucu dua lagi tapi yaa begitulah. Jadi aku memang tidak pernah berencana untuk menunda memiliki anak tapi semua itu tergantung rezeki dari Allah nanti dan juga apa calon suamiku ini bersedia untuk menitipkan benihnya padaku.” Ucap Rasti segera menatap Faris dalam.
__ADS_1