
“Bagaimana kabar calon keponakanku?” tanya Zia segera bergabung dengan adiknya dan anak-anaknya.
“Emm,, mereka baik-baik saja kak. Kau jangan khawatirkan keadaannya.” Jawab Zea sambil menatap ketiga keponakannya.
“Kalau dirimu bagaimana?” tanya Zia lagi menatap sang adik yang terlihat pucat walau bibirnya sudah di tutupi dengan pemerah bibir tipis.
Zea pun segera menatap sang kakak, “Kak, aku baik-baik aja walaupun aku mudah merasa lelah ketika mengerjakan sesuatu dan jantungku akan berdebar-debar dengan sangat cepat tapi semuanya baik-baik aja.” Jawab Zea.
Zia pun mengangguk, “Kak, lebih baik sekarang telpon kak Rasti. Aku juga merindukannya! Please kak ajaklah dia kemari.” Lanjut Zea.
“Kenapa tidak kau yang menelpon sendiri?” tanya Zia.
“Kakak kan tahu aku sekarang sedang menggendong keponakanku.” Ucap Zea ngeles padahal dia tidak menggendong siapapun lalu dia segera mendekati keponakan kecilnya yang sibuk merangkak kesana kemari.
Zia yang melihat itu pun hanya tersenyum lalu segera mengambil ponselnya untuk menelpon Rasti.
Tidak lama segera tersambung, begitu tersambung Zia segera bicara, “Halo, Assalamu’alaikum dek!” salam Rasti.
“Wa’alaikumsalam kak.” Jawab Rasti.
__ADS_1
“Dek, kau sudah lama loh belum ke rumah kakak.” Ucap Zia to the point.
Rasti yang di sana segera mengerti begitu mendengar perkataan Zia, “Ahh kakak aku juga merindukanmu. Aku janji setelah ini aku akan kesana.” Jawab Rasti.
“Berapa lama itu? Dan kamu sedang di mana sekarang?” tanya Zia.
“Emm,, sekitar 30 menit lagi aku akan kesana. Kak, apa sebenarnya yang ingin kau katakan? Jangan bermain teka-teki denganku kak jika kau memang sudah mengetahuinya. Jangan menyindirku dan jika kau ingin menanyakan sesuatu maka nanti di sana saja.” Ucap Rasti.
“Baiklah kakak menunggumu. Zea juga di sini.” Ucap Zia kemudian.
“Zea di sana?” tanya Rasti memastikan.
“Ohiya aku pasti akan segera sampai.” Jawab Rasti. Sambungan telepon pun segera terputus begitu mereka selesai mengucap salam.
“Apa itu nona Zia?” tanya Faris yang memang dari tadi di samping calon istrinya itu karena mereka memang sedang bersama.
Rasti pun mengangguk, “Ayo kita ke rumah kakak tapi kita singgah dulu di supermarket di depan untuk membeli camilan.” Ucap Rasti segera masuk ke mobil Faris.
Faris pun hanya mengangguk lalu segera masuk ke mobil dan melajukannya menuju supermarket sebelum menuju rumah calon kakak iparnya itu.
__ADS_1
Sementara di rumah Zia, “Bagaimana?” tanya Zea melihat sang kakak yang baru saja selesai menelpon.
“Dia akan datang, katanya 30 menit lagi dia akan tiba.” Jawab Zia.
“30 menit? Itu berarti dia ada di sekitar sini. Apa kak Rasti gak ke perusahaan?” tanya Zea bertanya-tanya.
Zia hanya mengangkat bahunya tanda dia tidak mengerti.
“Sudah dari pada kau memikirkan itu ayo sana makan buahnya.” Tunjuk Zia ke arah meja di mana ada buah-buahan segar di sana yang baru saja di antar oleh art-nya.
Zea dan si kembar pun segera menuju meja dan makan bersama, “Kak, apa Zeyyan makan buah juga?” tanya Zea menatap kakaknya lalu kembali menatap keponakan kecilnya itu yang tetap sibuk dengan mainannya.
“Dia gak menyukai itu, dia hanya menyukai jeruk.” Jawab Zia.
“Wah, kau ngikutin siapa sih sayang. Sepertinya kakak menyukai anggur. Apa kakak ipar menyukai jeruk?” tanya Zea lagi.
Zia pun menggeleng, “Kami berdua menyukai anggur.” Jawab Zia.
“Wah,, sepertinya dia berbeda.” Ucap Zea.
__ADS_1
Zea pun melanjutkan makan buahnya itu bersama si kembar karena buah kesukaan si bungsu sudah habis.