
Saat ini Zea sedang ada di rumah kakaknya, “Dek, kapan seminar proposalmu?” tanya Zia sambil makan ice cream yang dibelinya tadi saat pulang dari rumah sakit.
“Lusa kak.” Jawab Zea sambil menengahkan tangannya seolah-olah meminta ice cream yang di makan kakaknya itu. Zia pun yang mengerti langsung memberikannya.
“Semoga lancar yaa,, kakak usahakan datang.” Ucap Zia ikut duduk bersama adiknya.
“Hmm,, baiklah terserah kakak saja.” Jawab Zea sambil menghabiskan ice creamnya.
Mereka pun berbincang-bincang mengenai keseharian mereka. Hal ini biasa mereka lakukan saat mereka masih kuliah atau tepatnya sebelum kejadian naas itu terjadi pada Zia. Mereka juga membicarakan usia kandungan Zia yang sudah memasuki usia 6 bulan.
Banyak yang mereka ceritakan hingga si kembar bangun dari tidurnya pun mereka tetap berbagi cerita bahkan Pras pun sudah tiba setengah jam yang lalu. Pras pun yang mengerti bahwa kedua kakak beradik itu sedang berbagi cerita maka dia tidak mengganggu mereka.
Tiba-tiba, “Kakak!” panggil seseorang begitu dia masuk.
“Dek!” sambut Zia segera memeluk adik iparnya itu yang juga datang mengunjunginya.
“Zea kamu disini juga?” tanya Rasti lalu segera beralih memeluk Zea.
Zea pun hanya tersenyum canggung lalu membalas pelukan Rasti.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Pras begitu kembali dari kamar untuk ikut bersama istrinya tapi dia menemukan adiknya ada disana.
Rasti pun melihat kakaknya sekilas tanpa menjawab pertanyaannya, “Hey, kakak bertanya padamu.” Ucap Pras kesal karena tidak di jawab oleh Rasti.
“Tau ah, malas ngomong sama kakak.” Ucap Rasti.
Zia dan Zea pun hanya tersenyum melihat itu, “Baiklah jika memang kau malas ngomong, kakak hanya ingin bertanya bagaimana perjodohanmu?” tanya Pras.
“Iya Dek bagaimana perjodohanmu, apa dia pria baik?” Zia pun ikut bertanya lalu memandang Rasti sementara Zea sudah was-was dari tadi karena jangan sampai hal ini yang akan jadi topik pembicaraan mereka.
“Hmm,, dia sepertinya pria baik. Ehh,, Zea mengenal pria itu kak.” Ucap Rasti.
Pras dan Zia pun segera melihat Zea, “Hmm,, iya benar Zea mengenalnya karena dia adalah rekan kerja Zea. Kalian ingat kan waktu Zea meminta persetujuan kalian terhadap perusahaan yang ingin memasarkan keripik. Yaa,, pria itu adalah pemilik perusahaan itu.” Jawab Zea.
__ADS_1
“Ouh jadi dia adalah pemilik perusahaan itu?” tanya Zia.
Zea pun hanya mengangguk, “Aku mengenalnya. Perusahaannya saat ini perkembangannya sedang pesat-pesatnya. Dia pemuda yang baik dan pekerja keras karena semenjak dia mengambil alih perusahaan kakeknya maka perusahaan berkembang dengan baik.” ucap Pras.
“Kakak mengenalnya?” tanya Rasti.
Pras pun mengangguk, “Sudahlah jangan bahas kekayaannya lebih baik katakan pada kami bagaimana perasaanmu kepadanya.” Goda Zia memandang adik iparnya.
Rasti pun hanya tersenyum malu, “Aku gak tahu tentang perasaanku tapi sepertinya dia masuk dalam kategori tipe ideal calon suamiku. Dia menarik dan siapa saja pasti bisa dengan muda jatuh cinta padanya. Dia memiliki daya tarik tersendiri.” Ucap Rasti sambil tersenyum.
Zea yang mendengar hal itu entah kenapa hatinya terasa sakit, “Yaa Allah kenapa engkau tumbuhkan perasaan ini kepada orang yang salah dan dalam waktu yang salah. Kenapa rasanya sangat sakit mendengar ini.” batin Zea menatap Rasti.
“Itu tandanya kamu tertarik padanya dek.” Ucap Zia.
“Iya kan Zea?” lanjut Zia.
“Hmm,, iya benar kak.” Jawab Zea kaget karena Zia tiba-tiba melempar pertanyaan itu kepadanya.
***
Hari ini akhirnya Zea selesai seminar proposalnya, semuanya berjalan sangat lancar bahkan hampir tidak ada yang akan di revisi oleh Zea terhadao proposalnya. Zia dan Pras datang untuk memberikan selamat kepadanya begitupun Rasti dia juga ikut datang memberikan selamat kepada adiknya itu.
“Terima kasih kak.” Ucap Zea memeluk Zia dan Rasti yang ikut datang memberinya selamat.
“Semangat skripsinya dek.” Ucap Rasti.
Zea pun memeluk Rasti erat karena entah kenapa dua hari terakhir ini sejak terakhir kali mereka ketemu di rumah Zia dan Pras entah kenapa Zea memiliki pemikiran untuk memperjuangkan cintanya. Jadi untuk itulah dia memeluk Rasti erat karena sudah memiliki pemikiran seperti itu.
“Dek kamu kenapa? Tenang saja kok kakak gak akan pergi.” ucap Rasti.
“Kakak!” ucap Zea tertawa.
Akhirnya semuanya pun tertawa. Setelah itu mereka menuju restoran yang sudah di pesan oleh Pras untuk merayakan seminar proposalnya Zea yang berjalan sangat lancar.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, “Tuan apa anda tidak akan menghampirinya?” tanya Alan karena dari tadi tuannya itu hanya berdiri saja dan melihat dari jauh gadis yang dicintainya. Sebenarnya Lian yang lebih dulu datang tapi saat dia akan menghampiri Zea keluarganya datang. Akhirnya dia pun hanya bisa melihat pemandangan keluarga itu.
“Biarkan saja.” Ucap Lian segera kembali ke mobil dan melempar bunga ke bangku kedua mobilnya. Alan pun segera mengikuti bosnya itu.
“Kok aku merasa seperti ada kak Lian disini.” Gumam Zea melihat sekeliling untuk memastikan kecurigaannya tapi dia tidak melihat orang yang dia cari disana.
***
Seminggu berlalu dengan sangat cepat, Zea pun kembali sibuk dengan penyusunan skripsinya karena proposalnya sudah selesai di revisi. Dia pun ke kampus untuk melakukan bimbingan kepada dosen pembimbingnya.
Saat dia baru saja keluar dari ruangan dosen pembimbingnya tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya. Zea pun segera melihat siapa yang melakukan itu, “Kak Lian? Kau? Apa yang kau lakukan?” ucap Zea mencoba melepaskan tangan Lian yang memegang kuat lengannya.
Lian hanya dia saja dan terus menarik Zea tanpa mempedulikan rengekan Zea untuk dilepaskan, “Kak, sakit!” ucap Zea lirih.
Lian pun segera melihat ke arah Zea lalu dia segera melepaskan pegangan tangannya, “Maaf meyakitimu.” Ucap Lian.
Zea pun segera mengelus lengannya yang memerah, “Sebenarnya apa yang ingin kakak katakan hingga harus menarikku seperti itu?” tanya Zea menatap tajam Lian.
Lian pun menjadi merasa bersalah karena tujuannya menarik Zea hanya karena dia sangat merindukan gadis itu karena akhir-akhir ini hanya karyawan Zea yang menyambutnya datang ke vila untuk membahas pekerjaan. Akhirnya karena rasa rindunya itulah yang membuatnya menarik Zea tapi tanpa sengaja dia membuat lengan gadis yang dia cintai kesakitan, “Maaf!” ucap Lian.
Zea pun hanya menghela nafasnya, “Apa kakak hanya ingin mengatakan itu? Jika memang hanya itu maka aku harus segera pergi.” ucap Zea segera pergi.
Lian pun kembali menahan lengan Zea tapi dengan pelan, “Bisa gak kamu ikut dengan kakak?” tanya Lian penuh harap.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !! 🙏🏻😉
__ADS_1