Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 18


__ADS_3

“Ya-yah karena mereka adalah anakku. Mereka darah dagingku. Aku ayah mereka.” Ucap Pras.


Seketika semua orang yang ada disana terkejut begitu mendengar perkataan Pras. Ammar, Hanifa dan semua pekerja terkejut mendengarnya kecuali Zia dan Rasti.


“Hahahahh, kau ayah mereka? Jangan bicara ngelantur kak.” ucap Zia tertawa miris.


“Itu memang kebenarannya Zayyan dan Zayyah adalah anakku.” Ucap Pras.


“Apa buktinya kau adalah ayah mereka?” tanya Zia.


Pras pun segera mengambil tes DNA dan memberikannya kepada Zia.


Zia pun hanya tersenyum dan sudah menebaknya bahwa pasti Pras akan memberikan ini padanya, “Apa hanya karena surat ini kau mengatakan mereka adalah anakmu?” tanya Zia menyobek kertas itu.


“Zia mereka adalah anakku, itu tidak akan menghalangi apapun. Walau kau berusaha keras tidak mengakuinya.” Ucap Pras.


“Aku tidak mengakuinya? Kak, mereka adalah anakku. Selamanya mereka adalah anakku. Jika memang kau adalah ayah mereka lalu kenapa baru sekarang kau menyadarinya? Apa hanya karena wajah mereka yang semakin hari semakin mirip denganmu? Kemana saja kau sejak malam itu? Kenapa kau tidak mencariku? Apa kekuasaanmu itu tidak bisa menemukan gadis yang kau paksa tiduri malam itu? Apa hanya begitu kekusaanmu? Menemukan gadis yang kau tiduri saja kau tidak bisa dan sekarang kau datang meminta mereka padaku. Jangan harap kau bisa kak. Aku sudah memberimu banyak waktu untuk menemukanku dan menyadari mereka selama ini. Tapi apa yang kau lakukan? Kau baru saja menyadarinya. Kami tidak butuh laki-laki pengecut seperti kau kak.” Ucap Zia sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Pras pun hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Zia karena semua yang Zia katakan benar. Dia memang pengecut, untuk apa memiliki kekuasaan jika menemukan Zia saja tidak bisa. Semua orang disitu lagi-lagi kaget akan kebenaran itu bahkan Ammar dan Hanifa yang tidak menyangka bahwa ternyata wanita yang mereka tolong adalah wanita yang ditiduri oleh tuan muda mereka.


Tanpa Pras sadari Zia sudah pergi dengan mobilnya, “Kak, apa kau akan diam saja sekarang? Kak Zia sudah pergi.” ucap Rasti.


Pras pun segera sadar dan melihat mobil Zia sudah pergi, dia pun segera pergi ke mobilnya untuk menyusul Zia tanpa menghiraukan orang yang ada disana.


Sementara didalam mobil Zia menumpahkan tangisnya sambil memandang kedua anaknya yang saat ini masih saja tertidur di dalam box tempat tidur mereka.


“Kenapa baru sekarang kau menyadarinya kak? Kemana saja kau selama ini? Aku sudah memberimu banyak waktu tapi tetap saja kau tidak menyadarinya.” Gumam Zia menangis.


“Maafkan bunda sayang memisahkan kalian dengan ayah kalian, hanya saja bunda belum siap jika harus kehilangan kalian. Bunda tidak akan membiarkan kalian diambil oleh mereka. Bunda harap kalian tidak akan membenci bunda nanti.” Ucap Zia memandang kedua anaknya.


Tiba-tiba ada mobil yang menyalip mobil mereka dan menabrak pembatas jalan.


Bugh


“Ada apa pak?” tanya Zia kaget.


“Ada yang menyalip mobil kita nona, sepertinya dia menabrak pembatas jalan.” Jawab sopir.


Zia pun melihat keluar dan seketika dia mengenali mobil siapa itu, “Kak!” ucap Zia begitu mengenali mobil itu.

__ADS_1


Zia pun segera keluar untuk melihat keadaan Pras. Pras masih sadar hanya kepala dan kakinya saja sedikit mengalami luka sementara mobilnya bagian depan sudah penyok.


“Kak, ayo keluar.” Ucap Zia membuka pintu mobil Pras dan mengeluarkannya.


“Maafkan aku Zia, aku mohon maafkan aku. Aku memang pengecut. Tolong menikalah denganku. Please beri aku kesempatan.” Ucap Pras setelah dia keluar dari mobil lalu dia tiba-tiba pingsan memeluk Zia.


“Kak, sadarlah!” ucap Zia sambil menahan beban Pras.


“Nona, sini saya bantu.” Ucap sopir.


Zia pun menyerahkan Pras kepada sopirnya untuk memindahkan Pras ke mobil mereka untuk dibawa ke rumah sakit.


“Kak, apa yang terjadi?” tanya Rasti begitu saja tiba. Yah, Rasti mengikuti kakaknya bersama Ammar dan Hanifa dimobilnya.


“Kakakmu kecelakaan dan saat ini dia pingsan. Dia mengalami beberapa luka. Kakak harus membawanya ke rumah sakit.” Ucap Zia.


“Ah, baiklah jika begitu Zayyan dan Zayyah tinggalkan saja dulu bersama kami kak.” Ucap Rasti.


“Iya nak.” Ucap Hanifa.


Zia pun mengangguk dan segera meberikan kedua anaknya kepada Rasti dan Hanifa karena tidak mungkin dia membawa mereka ke rumah sakit.


***


“Bagaimana keadaanya dokter?” tanya Zia kepada dokter yang baru saja keluar dari UGD.


“Dia baik-baik saja, hanya saja dia mengalami geger otak ringan yang kemungkinan kesadarannya akan lama kembali. Dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Dia membutuhkan beberapa hari perawatan.” Ucap dokter itu.


Zia pun hanya mengangguk, “Ah, bagaimana ini? Aku harus pulang. Kenapa dia harus mengalami kecelakaan.” Ucap Zia frustasi karena dia tidak tahu harus melakukan apa. Disatu sisi dia ingin lari dari Pras tapi disisi lain jiwa kemanusiaannya dan juga jiwa perawatnya menyuruhnya untuk merawat Pras. Akhirnya setelah melawan pemikirannya dia pun mengikuti kata hatinya.


***


“Kak, kenapa kau belum sadar juga?” tanya Zia memandang laki-laki yang ada dihadapannya ini.


“Assalamu’alaikum kak, bagaimana keadaan kak Pras?” tanya Rasti tiba-tiba masuk.


“Wa’alaikumsalam Dia baik-baik saja. Hanya saja dia mengalami geger otak ringan sehingga sampai sekarang dia belum sadar juga. Ohiya dimana Zayyan dan Zayyah?” tanya Zia.


“Kakak gak perlu mengkhawatirkan mereka, mereka baik-baik aja.” Ucap Rasti.

__ADS_1


“Ohiya, apa mami dan papi sudah mengetahui bahwa kakakmu kecelakaan?” tanya Zia.


“Sudah kok, mereka sebentar lagi akan kesini.” Jawab Rasti. Zia pun akhirnya hanya mengangguk.


Malam harinya,


“Maafkan aku!” batin Pras menyentuh hijab Zia yang saat ini sedang tertidur di samping ranjangnya. Yah, Zia ada disana sebagai rasa tanggung jawabnya karena Pras mengalami kecelakaan karena menyusulnya.


“Aku harap kau tidak akan membenciku karena membohongimu lagi.” Batin Pras.


Tiba-tiba Zia bergerak, Pras pun akhirnya menutup matanya kembali. Zia yang melihat Pras tetap belum sadar pun kembali tidur.


***


Pagi harinya setelah Zia sarapan dan menanyakan anak-anaknya kepada Rasti dia pun segera kembali ke ruang rawat Pras yang dijaga oleh Hans.


“Nona, saya pamit dulu karena saya harus menghendel pekerjaaan tuan.” Ucap Hans.


“Baiklah, kau boleh pergi.” ucap Zia tersenyum.


“Kau belum sadar juga? Apa kau membohongiku?” ucap Zia memandang Pras yang masih saja menutup matanya.


“Awas saja jika kau melakukan ini hanya untuk menghalangi kepergianku. Asal kau tahu saja aku tidak peduli jika ada yang terjadi padamu. Aku tetap pergi membawa Zayyan dan Zayyah walau kau ayah mereka. Aku disini hanya karena rasa tanggung jawabku karena kau kecelakaan gara-gara menyusulku. Entah kenapa juga orang tuamu itu hanya datang sebentar melihatmu dan meninggalkanmu sendiri disini.” Ucap Zia.


“Oh, apa kau tetap tidak akan sadar. Baiklah jika begitu aku pergi saja.” Ucap Zia.


“Ah, sepertinya kau memang masih nyaman ya tidur. Kau berkata ingin mengajakku menikah sebelum kau pingsan. Ayo katakan lagi. Bukankah kau ingin aku beri kesempatan maka cepatlah sadar dan ayo kita menikah.” Ucap Zia.


Pras yang hanya pura-pura begitu mendengar Zia berkata begitu, “Sungguh?” tanya Pras.


*


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻

__ADS_1


Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻


__ADS_2