
Seminggu berlalu.
“Ada apa sih pih, mih?” tanya Rasti karena melihat gelagat kedua orang tuanya.
Celine dan Andrew pun saling menunjuk siapa yang akan menjelaskan kepada Rasti, “Begini sayang, mami dan papi berencana menjodohkanmu dengan seseorang.” Jelas Celine akhirnya.
Rasti yang saat itu tengah menikmati buah langsung tersedak, “Ma-mami gak salah bicara apa?” tanya Rasti setelah dia minum air.
“Masa iya jaman beginian masih ada perjodohan? Rasti gak mau.” Tolak Rasti.
“Dengar dulu penjelasan mami nak, dia adalah pria baik dan juga mapan. Selain itu juga kami sudah menjodohkan kalian sejak kecil.” Jelas Celine.
“Hahahh,, penjelasan mami makin gak masuk akal. Masa iya ada orang tua yang ingin menjodohkan anaknya bahkan itu dari kecil.” Ucap Rasti sambil tertawa.
“Jangan tertawa nak, kami serius. Jangan kamu anggap kami sedang bercanda.” Ucap Andrew.
Rasti pun akhirnya terdiam dari tawanya karena Andrew jika sudah bicara serius begitu maka itu berarti benar karena dia sangat tahu bagaimana sifat papinya, “Jadi beneran? Pih ini gak mungkin kan?” tanya Rasti tetap tidak percaya.
“Huh, itu benar nak. Kamu sudah dijodohkan sejak kalian kecil.” Jawab Andrew.
“Ouh aku gak mempercayai ini. Pih bisakah aku menolak perjodohan ini?” tanya Rasti.
“Kami juga ingin membatalkan perjodohan ini nak karena orang tua laki-laki itu sudah lama meninggal tapi sayang kakeknya tetap bersikeras untuk melanjutkan perjodohan ini.” jelas Celine.
“Sudahlah, kamu jangan pikirkan ini, papi akan membantumu jika memang kau ingin membatalkan perjodohan ini tapi setidaknya temui dia sekali.” Ucap Andrew.
“Huh, baiklah. Aku akan menemuinya. Segera atur saja pertemuannya.” Ucap Rasti akhirnya setelah lama berpikir.
***
Sementara di sisi lain, Zea dan Lian sudah menandatangani surat kontrak mereka bahwa mulai saat ini perusahaan Lian akan membantu memasarkan produk Zea dan tentu saja keputusan ini atas persetujuan dari Pras dan Zia juga Rasti. ZP keripik memang sudah secara sah telah diberikan kepada Zea tapi Zea tetap meminta saran kepada mereka atas keputusan yang akan dia ambil terlebih lagi perusahaan Pras juga adalah perusahaan yang ikut membantu memasarkan ZP keripik.
“Semoga kerja sama kita akan berjalan dengan baik kedepannya.” Ucap Lian memberikan tangannya tapi Zea hanya melihatnya.
“Maaf tuan, saya harap juga begitu.” Balas Zea.
Lian pun hanya tersenyum mengerti kenapa Zea tidak membalas tangannya, “Baiklah. Sebagai bentuk kerja sama kita mari kita makan bersama.” Saran Lian.
Zea pun hanya menganguk saja.
***
“Halo, Assalamu’alaikum honey!” jawab Zia.
__ADS_1
“Baby, aku merindukanmu!” ucap Pras.
Zia pun hanya tersenyum mendengar itu, “Masa iya baru juga pergi ke kantor sudah rindu aja.” Ucap Zia.
“Beneran baby, aku sangat merindukanmu. Rasanya aku tidak ingin berpisah lama-lama darimu.” Ucap Pras.
“Dasar gombal.” Ledek Zia.
“Baby datang ke kantor dong.” Pinta Pras.
“Ouh ayolah honey, jangan manja kaya gitu. Fokus aja ke pekerjaan. Honey kan tahu aku saat ini ada di rumah sakit. ” ucap Zia.
“Apa aku harus membeli rumah sakit itu agar kau bisa bebas kemana saja?” tanya Pras.
“Jangan lakukan itu.” Ucap Zia.
“Jika begini lebih baik aku akan membuatkanmu rumah sakit sendiri. Baby aku sungguh sangat merindukanmu.” Ucap Pras.
“Honey, ouh ayolah.” Ucap Zia.
“Baiklah, aku akan kembali bekerja tapi tidak dengan membeli rumah sakit atau membuatkanmu rumah sakit sendiri. Karena dengan begitu aku bebas menemuimu.” Ucap Pras lalu segera memutuskan panggilan di antara mereka.
Zia pun hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya itu yang dia anggap hanya sebagai candaan. Tapi lain hal dengan Pras, “Hans, kau dengar kan apa yang aku bicarakan dengan istriku?” tanya Pras kepada Hans yang memang dari tadi ada di ruangannya membantunya memeriksa beberapa dokumen.
“Rumah sakit?” tanya Hans.
Hans pun hanya bisa mengangguk sambil berpikir bahwa sekarang ini pikiran tuannya hanya tertuju pada satu orang saja dan itu adalah Zia. Menurut Hans sikap Pras berubah seratus delapan puluh derajat semenjak bertemu dan menikah dengan Zia. Dan semua perubahannya itu ke arah yang positif hanya saja sikap posesifnya kepada Zia terlalu overprotektif dan dia juga terlalu bucin kepada Zia bahkan bisa dikatakan dia menjadi orang gila jika menyangkut Zia. Segitu cintanya dia kepada Zia hingga apapun akan dia lakukan untuk Zia.
***
Tiga hari berlalu, hubungan Zea dan Lian pun semakin intens karena Lian selalu saja mengikuti kemanapun Zea pergi dengan alasan pekerjaan padahal dia hanya ingin lebih dekat dengan gadis yang dicintainya itu.
Zea juga yang awalnya rishi pun menjadi terbiasa diikuti oleh Lian, “Kok tumben dia belum datang?” Gumam Zea duduk di tempat biasa dia menunggu atau istrirahat.
Zea pun melihat-lihat ke sekitar tapi sayang mobil yang biasanya sudah menunggunya jika selesai bimbingan proposal hari ini tidak terlihat. Zea pun berusaha mengabaikan hal itu dengan menyibukkan diri memperbaiki proposalnya yang sudah dikoreksi oleh dosen pembimbingnya.
Tapi sayang Zea tidak bisa fokus, pikirannya di penuhi oleh Lian. Dia sudah berpikiran yang macam-macam jika laki-laki itu berada dalam bahaya. Zea pun berusaha menghentikan pemikiran itu dan kembali berusaha fokus dengan laptopnya.
Tidak lama kemudian, Adzan Asar berkumandang, Zea pun menghentikan aktivitasnya lalu memandang kembali ke tempat dimana biasanya mobil Lian di parker namun tetap saja tidak ada, “Mungkin dia sibuk!” pikir Zea lalu membereskan dokumennya karena dia akan segera pulang berhubung juga dia masih berhalangan sholat jadi dia segera pulang.
Tiba-tiba, “Maaf saya terlambat. Apa kamu sudah lama menunggu?” Zea pun segera melihat ke belakang begitu mendengar suara yang di kenalnya.
“Kak Lian?” panggil Zea tanpa sadar memanggil Lian dengan sebutan kak karena biasanya dia selalu memanggil laki-laki itu dengan sebutan tuan.
__ADS_1
Lian pun tersenyum mendengar Zea memanggilnya seperti itu rasanya rasa lelahnya karena berlari segera sirna begitu Zea memanggilnya, “Terima kasih sudah menunggu.” Ucap Lian.
Zea pun segera tersadar, “Siapa yang menunggu anda. Saya di sini karena di sini adalah tempat terdamai untuk membuat proposal.” Ucap Zea mengelak.
Lian pun lagi-lagi tersenyum mendengar itu karena dia tahu bahwa gadis di hadapannya itu sedang berbohong, “Jika memang benar seperti itu maka pasti coretan di kertas itu tidak makin parah.” Tunjuk Lian kepada kertas yang sudah dipenuhi oleh cakaran tinta.
Zea pun melihat itu, “I-ini itu,,, Ah, baiklah Zea akui memang tadi Zea menunggu kakak. Puas?” tanya Zea.
Lian pun mengangguk tersenyum, “Makanya dek jika memang tidak pandai berbohong jangan coba berbohong. Apa susahnya sih mengakui?” tanya Lian.
“Dek? Sejak kapan Zea jadi adik anda?” tanya Zea.
“Bukankah kamu juga tadi memanggil saya kakak?” tanya Lian balik.
Zea pun terdiam, “Sudah ah malas ngomong dengan anda.” Ucap Zea segera menuju motornya.
“Tunggu sebentar! Apa kamu tidak ingin tahu kenapa saya terlambat datang?” tahan Lian.
Zea pun hanya diam dan Lian mengerti hal itu bahwa Zea ingin mendengarnya, “Tadi saya harus menghadiri rapat dadakan di kantor pusat dan saat akan ke sini mobil saya mogok. Jadi saya berlari kesini tapi untunglah tinggal dekat.” Jelas Lian.
“Kenapa gak naik ojek?” tanya Zea.
“Karena jika saya harus menunggu ojek datang maka itu akan membutuhkan waktu lama dan kamu akan semakin lama menunggu.” Ucap Lian tersenyum.
“Sudah aku katakan bahwa aku hanya menunggu anda hanya sebentar. Jangan geer deh.” Ucap Zea.
“Sudah ah Zea mau pulang.” Ucap Zea segera menaiki sepeda motornya.
“Apa kamu tidak ingin mengajak saya?” tanya Lian.
“Gak. Naik aja sana ojek atau tidak hubungi saja asisten tuan.” Jawab Zea segera menghidupkan motornya lalu pergi.
“Zea! Aku mencintaimu!” Teriak Lian.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉
__ADS_1
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh
🙏🏻🥺😁