Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 36


__ADS_3

Keesokkan paginya, Zea yang tidur di Vila di kagetkan dengan kedatangan seseorang, “Kak, kau ngapain kesini pagi-pagi begini?” tanya Zea kaget melihat Lian.


“Apa saya gak bisa kesini?” tanya Lian balik.


Zea pun diam lalu segera memeriksa pembuatan keripik karena setelah dari sini dia harus menuju kampus untuk proposalnya. Zea pun mengabaikan Lian yang kini ikut melihat proses pembuatan keripik. Setelah selesai memeriksa dia pun segera kembali ke vila untuk mengambil beberapa dokumen proposalnya dan juga tasnya.


“Kamu ikut saya!” tarik Lian.


“Tuan apa-apa’an sih? Kenapa menarik saya seperti itu?” tanya Zea.


Lian tetap tidak mempedulikan ucapan Zea dan menarik gadis itu ke mobilnya lalu dia juga segera masuk, “Jangan coba-coba turun dari sini.” Ucap Lian sambil menjalankan mobilnya.


Zea pun hanya bisa menghela nafasnya, “Sebenarnya apa yang ingin tuan bicarakan?” tanya Zea.


Lian tidak menjawab dan tetap fokus menyetir. Kurang lebih satu jam mereka sampai dan Lian segera memakirkan mobilnya di restoran yang sudah buka, “Ayo masuk!” ajak Lian. Zea pun mau tak mau tetap ikut.


“Kakak sebenarnya mau apa?” tanya Zea begitu mereka duduk.


“Tentu saja sarapan. Saya belum sarapan sejak tadi.” Jawab Lian lalu segera memanggil pelayan dan memesan pesanannya, tidak lupa juga dia memesan untuk Zea.


“Kak, apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Zea kesal karena dari tadi pria itu tidak menjawab pertanyaannya.


“Saya hanya ingin sarapan denganmu. Jadi saya mohon temani saya sarapan.” Ucap Lian. Tidak lama pesanan mereka datang. Lian pun segera makan karena dia memang belum sarapan. Zea pun akhirnya ikut sarapan juga karena Lian sudah memesankan makanan untuknya.


“Tuan, terima kasih atas sarapannya. Saya sekarang harus segera ke kampus.” Ucap Zea begitu selesai makan.


“Biar saya antar.” Ucap Lian lalu segera membayar makanan mereka.


“Kak gak usah aku pergi sendiri saja.” Ucap Zea begitu mereka sampai parkiran.


“Saya yang memaksamu kesini hingga kau tidak membawa motormu maka saya bertanggung jawab mengantarmu kemanapun. Sudah kamu ikut.” Ucap Lian lalu membukakan pintu mobil untuk Zea. Zea pun akhirnya masuk karena percuma dia menolak.


Suasana hening dalam mobil itu hingga mereka tiba di kampusnya Zea. Zea pun hendak turun tapi pintu mobil itu dikunci, “Tuan, apa yang anda inginkan?” tanya Zea.


“Jangan panggil aku seperti itu Zea. Aku senang kau memanggilku kakak.” Ucap Lian.


Zea pun menghela nafasnya, “Huh, baiklah apa yang kakak inginkan? Aku harus konsultasi proposalku kak.” Ucap Zea.

__ADS_1


“Aku minta jangan hindari aku! Aku tahu kau menghindariku karena aku mengungkapkan cintaku padaku kan? Tapi percayalah bahwa aku memang benar-benar mencintaimu. Tidak bisakah kau mengizinkanku memiliki hatimu? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat tapi aku pun tidak punya banyak waktu. Jadi maukah kau menikah denganku?” ucap Lian memandang Zea tulus.


Zea pun kaget dengan pengakuan pria itu karena baru seminggu yang lalu pria itu mengatakan mencintainya dan sekarang pria itu memintanya untuk menikah, “Kak, jangan bercanda. Pernikahan bukanlah satu hal yang bisa dipermainkan. Aku yakin kau saat ini masih belum sadar dengan apa yang kamu ucapkan.” Ucap Zea.


“Zea aku serius. Aku ingin menikahimu dan hanya dirimu.” Ucap Lian memohon.


Zea pun hanya bisa diam memandang Lian karena dia tidak tau harus merespon apa, “ Tidak bisakah kau memberiku waktu untuk menjawab ini?” tanya Zea.


“Baiklah aku memberimu waktu tapi jangan lama.” Ucap Lian.


***


Zea saat ini baru saja selesai konsultasi proposalnya dan sejujurnya dia tidak bisa fokus karena dalam pikirannya hanya ada Lian. Akhirnya dia memutuskan menemui Zia karena berhubung Zia juga ada di rumah.


“Ada apa dek?” tanya Zia karena melihat wajah cemberut adiknya.


“Gak ada kak.” Jawab Zea.


“Hmm,, sejak kapan kamu bohong begitu dek?” tanya Zia.


“Kak, aku ingin bertanya, bagaimana pendapatmu tentang sebuah ajakan menikah?” tanya Zea sambil meletakkan kepalanya di bahu Zia.


“Ah kakak! Aku kan hanya bertanya bagaimana pendapatmu. Hal itu bukan berarti ada yang melamarmu. Aku masih ingin menyelesaikan kuliahku dulu.” Ucap Zea.


“Hahahh kakak bercanda kok. Baiklah menurut pendapat kakak tentang ajakan menikah, kita perlu mengetahui dulu siapa itu yang mengajak kita menikah karena jangan sampai kita menyesal nanti. Sudahlah jangan pikirkan hal itu, lebih baik kau pikirkan proposalmu.” Ucap Zia mengusap kepala adiknya itu lalu segera pergi menuju kamar si kembar.


Zea pun mengangguk mengerti dan langsung mengirim pesan kepada seseorang, “Mari bertemu besok!” dan langsung dengan ada balasan “Okay!”


***


“Halo, Assalamu’alaikum kak! Ada apa kak?” tanya Zea.


“Wa’alaikumsalam dek! Kakak menghubungimu memintamu menemani kakak untuk menemui seseorang. Bisa gak?” tanya Rasti.


“Menemui seseorang? Apa tunangan kakak?” tanya Zea menggoda Rasti.


“Kamu gak usah menggoda kakak seperti itu, lagian ini juga baru pertemuan pertama. Jadi belum pasti dia tunangan kakak, baru calon tunangan. Ee,, kamu tahu dari mana soal ini?” tanya Rasti pasalnya dia belum memberitahu Zea karena kesibukannya di kantor.

__ADS_1


“Dari mami Celine.” Jawab Zea.


“Ouh baiklah. Kamu mau yaa temani kakak? Please!!” mohon Rasti.


“Baiklah tapi jam berapa?” tanya Zea.


“Jam satu. Kamu nanti kakak jemput deh.” Ucap Rasti.


Zea pun menyetujuinya dan segera mengirim pesan kepada seseorang, “Kak, bisa gak pertemuan kita jam satu di undur nanti sesudah asar begitu karena Zea masih punya urusan yang lain.”


Lian yang menerima itu pun segera membacanya, “Kok bisa sama’an begini sih? Aku juga berpikir bagaimana cara memberitahunya untuk menunda pertemuan.” Gumam Lian. Lian pun segera menjawab pesan itu.


***


Keesokan harinya saat selesai zuhur Rasti segera menuju rumah Pras dan Zia karena Zea sudah menunggu disana. Singkat cerita kini Rasti dan Zea sudah menuju restoran yang sudah di janjikan akan menjadi tempat Rasti dan calon tunangannya bertemu.


Sesampainya di sana mereka segera menuju ruangan VIP karena calon tunangan Rasti sudah memesannya. Mereka pun segera duduk dan tidak lama kemudian datanglah seseorang dan segera masuk. Zea yang melihat siapa yang masuk kaget begitupun dengan pria itu tapi Zea berusaha seperti tidak ada yang terjadi.


“Tuan, ini adalah nona Prasti Permata Mahendra dan Nona ini adalah Alvan Aulian Putra.” Ucap Alan sekretaris Lian memperkenalkan mereka. Alan sejujurnya kaget seperti tuannya saat melihat Zea bersama calon tunangan tuannya.


“Rasti! Ohiya ini adik saya Zea.” Ucap Rasti memperkenal dirinya dan Zea. Zea pun hanya tersenyum sambil menahan sesuatu yang seperti pisau melukai salah satu bagian tubuhnya.


“Saya sudah mengenalnya!” ucap Lian memandang dalam Zea.


Rasti pun melihat ke arah Zea, “Ee,, itu memang benar kak, aku mengenalnya karena tuan ini adalah pemilik perusahaan yang membantu memasarkan ZP keripik” uca Zea.


Rasti pun mengangguk mengerti. Akhirnya mereka makan siang setelah membicarakan beberapa hal. Lian menikmati makan siangnya saat itu sambil terus menatap Zea dalam sementara Zea berdoa bagaimana makan siang ini segera berakhir. Alan yang juga ikut makan siang bersama mereka pun hanya bisa diam saja karena dia juga tidak mengerti jika berkaitan dengan masalah hati.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊


Mohon maaf jika ada typo guys !!🙏🏻😉

__ADS_1


Mohon mampir di novel author yang berjudul “Di Kala Cinta Menyapa”. Tinggalkan jejak ya, author tunggu. Heheheheh


🙏🏻🥺😁


__ADS_2