Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 43


__ADS_3

Kini Zea dan Lian sudah ada di ruang privat sebuah restoran mewah. Mereka juga sudah memesan.


“Terima kasih sudah mau menemani kakak makan.” Ucap Lian.


“Ee,, seharusnya Zea yang berterima kasih karena kakak mentraktir Zea makan di restoran mewah begini.” Balas Zea tersenyum.


Lian pun tersenyum, jika dia ingin dia pasti ingin mengumumkan kepada semua orang bahwa saat ini dia sedang bahagia karena bisa makan berdua dengan gadis yang sangat dia cintai dan satu-satunya gadis yang ingin dia jadikan sebagai pendampingnya.


Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka pun menikmati makan itu dengan senyuman dan bahagia. Baik Zea maupun Lian tidak memikirkan masalah yang sedang mereka hadapi saat ini. Di pikiran Zea untuk kali ini saja dia ingin memandang Lian sebagai orang yang dia cintai bukan sebagai tunangan kakaknya sementara untuk Lian sendiri dia sangat menikmati makan siang ini tanpa memikirkan sedikit pun tentang perjodohan karena dia memang tidak menganggap perjodohan itu ada.


Mereka berdua sama-sama menikmati makan siang itu dengan bahagia. Setelah acara makan siang itu berakhir. Lian membawa Zea berjalan-jalan untuk menikmati waktu berdua mereka yang entah kapan lagi mereka bisa melakukan itu. Lian pun memberikan hadiah kelulusan kepada Zea. Jika saat Zea proposal Lian memberikan sebuah kalung yang hingga saat ini belum pernah Zea pakai maka untuk hadiah kelulusan ini Lian memberikan sebuah cincin dan langsung memakaikannya di tangan Zea.


Mereka benar-benar menikmati waktu berdua itu dengan sangat baik. Setelah jam menunjukkan pukul 16.00 Lian pun segera mengantar Zea pulang tapi sebelum itu mereka singgah terlebih dahulu di mushola menunaikan sholat.


***


Kini semua keluarga sedang berkumpul dan memulai acara berbeque di rumah Pras dan Zia untuk merayakan kelulusan Zea. Tapi sampai saat ini yang menjadi bintang acara belum juga tiba.


“Kak, kamu sudah menelpon adik?” tanya Alya kepada putri sulungnya.


“Belum Ma.” Jawab Zia.


“Kemana anak itu? Kenapa dia belum juga tiba?” Alya pun mencari teleponnya untuk menelpon putri bungsunya itu.


“Ma, tenang saja. Zea pasti akan tiba, dia mungkin sedang jalan-jalan saja. Dia kan sudah janji akan tiba tepat waktu.” ucap Zia menenangkan mamanya itu.


“Tapi tetap saja..” ucap Alya.


“Tante tenang saja. Zea pasti akan segera tiba. Dia pasti baik-baik saja.” Ucap Rasti ikut menenangkan Alya.


“Tapi nak. Awas saja jika anak itu tiba..” ucap Alya.


Tidak lama kemudian akhirnya Zea pun tiba. Alya yang melihat anaknya itu tiba segera mendekatinya dan menjewer telinganya, “Aaa,, Ma sakit!” adu Zea sambil menggosok telinganya.


“Kenapa baru tiba? Kemana saja kau?” tanya Alya beruntun.

__ADS_1


“Maaf Ma. Zea terlambat.” Ucap Zea segera memeluk mamanya itu karena Alya saat marah akan reda jika dipeluk.


Zia pun mendekati adiknya itu, “Kamu kemana dek? Tahu gak mama sudah panic tadi.” Ucap Zia.


“Maaf kak!” ucap Zea.


“Sudah-sudah, ayo kita makan. Zea ayo makan!” ucap Pras sambil membawakan steak di piringnya.


“Terima kasih kakak ipar.” Ucap Zea.


Acara berbeque itu pun berjalan dengan hikmat dan di iringi dengan tawa karena kelucuan si kembar. Zia yang sudah hamil besar sangat di jaga oleh Pras.


“Dek, cincinmu bagus yaa!!” ucap Rasti.


“Cincin? Sejak kapan kamu pakai cincin?” tanya Zia heran lalu melihat ke tangan adiknya itu.


“Cincin apa ini dek?” tanya Zia. Seluruh keluarga pun melihat ke arah Zea.


“I-ini cincin aku beli di mall kok kak. Tadi setelah dari kampus aku pergi ke mall dan melihat cincin ini. Karena menyukainya jadi Zea membelinya.” Ucap Zea berusaha menutupi kegugupannya.


Gibran yang mendengar perkataan istrinya itu pun tersenyum, “Bisa aja kamu Ma.” Ucap Gibran.


“Yaa siapa tahu aja Pa.” timpal Alya.


Zia menatap adiknya itu dengan seksama, “Beneran ini cincin yang kamu beli?” tanya Zia berbisik tapi masih bisa di dengar oleh Rasti dan Pras yang duduk bersama mereka.


“Iya kak.” Jawab Zea.


“Beneran? Kamu belum di lamar oleh seseorang kan?” tanya Zia lagi.


“Ah kakak bisa aja deh.” Ucap Zea.


“Baby, kamu kok nanyanya gitu?” tanya Pras.


“Yaa bisa jadi kan By. Pasalnya kami itu anti memakai perhiasan walau itu hanya cincin.” Ucap Zia.

__ADS_1


Pras pun tersenyum dan membenarkan perkataan istrinya itu buktinya Zia saja hanya memakai cincin pernikahan mereka padahal dia membelikan banyak perhiasan untuk istrinya itu. Mana perhiasan pemberian Alya dan Celine sebagai hadiah pernikahan mereka.


Rasti pun hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua kakaknya itu sambil memikirkan sesuatu tapi tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan.


“Aunty!” panggil Zayyah sambil berlari mendekati Rasti dan Zea.


Rasti pun segera menghampiri keponakan cantiknya itu dan memeluknya, “Kamu sangat lucu sayang.” Ucap Rasti gemas kepada keponakannya itu. Zayyah pun hanya tersenyum. Zayyan yang sedang ada dalam gendongan Andrew pun meminta turun dan berlari mendekati Rasti seperti meminta untuk di gendong juga.


“Aduh keponakan aunty yang ganteng ini juga apa mau di gendong?” tanya Rasti yang langsung mendapat anggukan dari Zayyan.


Rasti pun akhirnya turun menyamaratakan tinggi dengan keponakannya. Zea yang melihat itu pun segera mendekati Rasti, “Zayyan biar sama aunty Zea aja.” Pinta Zea tapi langsung di tolak oleh Zayyan.


Zayyah yang merasa kakaknya ingin di gendong oleh Rasti pun segera turun dan meminta di gendong Zea, “Ah, baiklah jika begitu Zayyah saja.” Ucap Zea lalu membawa Zayyah ke gendongannya sementara Rasti segera menggendong keponakan gantengnya itu.


Pras dan Zia yang melihat sifat cemburuan Zayyan yang berlebihan itu pun hanya tersenyum karena mereka sudah sangat hafal bagaimana sikap posesifnya anak lelaki mereka itu. Untung saja Zayyah memiliki sifat mengalah sehingga dia mengerti akan kecemburuan kakaknya, “Lihatlah anakmu itu By. Sangat posesif!” ucap Zia.


“Anak kita Baby!” ucap Pras mengecup kening Zia.


Para orang tua yang melihat itu tersenyum bahagia.


***


Seminggu berlalu, semuanya kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Zia yang sedang menanti kelahiran anak ketiganya pun mulai mempersiapkan diri karena tanggal perkiraan kelahirannya anaknya itu tinggal seminggu lagi.


“Apa sakit?” tanya Pras sambil memicat kaki istrinya itu yang terlihat membengkak.


“Gak kok By. Ini normal kok untuk wanita yang akan melahirkan.” Ucap Zia.


“Iya hubby tahu tapi kenapa kamu mengalami ini? Sepertinya saat hamil si kembar kamu gak mengalami ini.” ucap Pras.


“Itu karena aku kurang beraktivitas By. Apa-apa kamu melarang.” Ucap Zia.


“Itu kan aku lakukan karena aku tidak ingin kamu kecapean.” Ucap Pras tidak mau kalah.


“Ah terserahlah.” Ucap Zia.

__ADS_1


Pasalnya sikap Pras itu 11 12 dengan sang putra yang sangat posesif. Gen posesif Pras memang menurun kepada putra pertama mereka itu. Pras sangat menjaga istrinya itu, dia menepati janjinya untuk selalu menjaga dan membahagiakan Zia.


__ADS_2