
“Gak usah dramatis deh adik ipar. Daripada kau meminta belas kasihan kami lebih baik jawab tuh pertanyaan papa.” Ucap Zia lalu mendekati Zea di ranjangnya yang sedang makan tidak memedulikan sang suami yang kesulitan.
“Sudah-sudah Lian gak usah jawab pertanyaan papamu karena dia hanya menggodamu.” Ucap Alya membela sang menantu.
“Ahh hanya mama yang mengerti aku.” Ucap Lian segera mendekati Alya dan berniat memeluknya tapi belum juga di peluk langsung mendapat tatapan tajam dari Gibran hingga membuatnya tidak jadi melakukannya.
“Kenapa gak jadi nak?” tanya Celine yang dari tadi hanya menonton padahal dia sudah tahu apa yang membuat Lian berhenti.
“Gak mih, Lian masih sayang tubuh Lian ini.” balas Lian hingga mengundang tawa seluruh keluarga lagi.
“Sudah-sudah daripada kita membahas hal ini lebih baik katakan siapa nama kedua cucu baru kami ini. Kami sudah melihat mereka seminggu ini tapi kami tetap belum mengetahui nama mereka.” Ucap Andrew.
“Ahh kau benar. Lian siapa nama cucu kami ini.” tanya Gibran menatap kedua cucunya.
Lian pun menatap Zea, “Kak, bisakah aku menggendong mereka?” tanya Zea kepada Zia.
__ADS_1
“Tentu saja bisa dek. Berat badan mereka sudah melebihi batas normal kok dan mereka sudah bisa di keluarkan dari sana. Kamu mau menggendong mereka?” tanya Zia dan Zea pun mengangguk.
Zia pun segera menggendong bayi Zea dan memberikannya kepada adiknya lalu dia segera mengambil bayi satunya dan di gendongnya, “Kak, siapa yang lahir duluan?” tanya Zea.
“Kau gak tahu?” tanya Zia balik.
Zea menggeleng, “Aku gak tahu gak. Mereka juga sepertinya mirip. Aku hanya mendengar bahwa mereka laki-laki tapi aku gak tahu yang mana putra pertamaku.” Ucap Zea.
“Ahh benar mereka sangat mirip, yang ada dalam gendonganmu yang putra pertamamu dan ini putra bungsumu.” Ucap Zia menjelaskan.
“Apa sekarang kalian sudah bisa memberi tahu kami nama mereka?” tanya Celine.
“Ahh benar kami sudah penasaran ini.” sambung Rasti.
Lian pun memandang sang istri, “Kakak saja yang bilang.” Ucap Zea memandang kedua buah hatinya bergantian.
__ADS_1
“Baiklah aku akan memberitahukan nama kedua putra kami ini. Putra sulung kami akan di beri nama Dhafin Alvaro Putra dan putra bungsu kami Dhefin Alvero Putra.” Ucap Lian memandang putranya yang ada dalam gendongannya.
“Nama yang bagus. Apa mereka akan di panggil dengan twins D?” tanya Rasti.
“Mereka akan di panggil dengan Varo dan Vero.” Ucap Zea.
“Ouh baiklah hai Varo, Vero!” ucap Rasti tersenyum lalu dia memeluk Faris. Faris pun balik tersenyum.
Setelah itu Zea menyusui kedua buah hatinya itu bergantian dan tentu saja para keluarga keluar dari ruangan itu dan memilih pergi makan dan kembali setelah selesai makan.
“Boo terima kasih telah bersabar menungguku sadar.” Ucap Zea lalu mengecup kening sang suami.
“Hey jangan berterima kasih sayang. Ini sudah kewajibanku menjagamu dan memastikan kau selalu terlindungi. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau telah berjuang dengan keras demi melahirkan anak kita ke dunia ini, demi memberiku keturunan. Terima kasih dear.” Ucap Lian mengecup bibir sang istri sekilas.
“Aku bahagia bisa menjadi istrimu boo.” Ucap Zea.
__ADS_1
“Aku lebih bahagia bisa memilikimu sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku.” Balas Lian.