
“Baiklah saya menyetujuinya karena saya tidak ingin di cap sebagai orang yang tidak menepati janji.” ucap Rasti akhirnya setelah berpikir cukup keras.
Faris pun tersenyum, “Terima kasih!” ucap Faris.
“Ingat saya menyetujui ini karena saya sudah berjanji bukan karena saya membutuhkan pasangan ke pesta itu karena saya tidak ingin memanfaatkan siapa pun. Lagian juga saya bisa kesana sendiri tanpa harus punya pasangan.” Ucap Rasti.
Faris pun lagi-lagi hanya tersenyum karena dia memang sudah hafal siapa itu Rasti dan beberapa kata-kata pedasnya, “Yah, apapun itu. Terima kasih!” ucap Faris.
“Baiklah karena urusan kita sudah selesai. Silahkan tuan kembali.” Ucap Rasti kembali duduk di meja kerjanya.
“Tidakkah anda kejam membiarkan tamu pergi tanpa duduk bahkan tak di beri minum.” Ucap Faris.
“Salah anda sendiri tadi gak mau duduk dan untuk minumannya maaf hanya ada air putih di sini.” Ucap Rasti.
“Hmm, baiklah karena aku menyukaimu aku akan memaafkan ketidakramahanmu ini. Baiklah saya akan pergi, ohiya besok jam 7 malam saya akan menjemputmu.” Ucap Faris lalu segera keluar sambil bersiul-siul ria.
Gaby yang membawa minuman untuk Faris kaget karena melihat Faris sudah pergi sambil bersiul ria. Gaby pun segera masuk, “Nona kenapa tuan Faris hanya cepat, bahkan dia belum minum.” Ucap Gaby.
“Aku gak tahu.” Jawab Rasti sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
Gaby pun akhirnya kembali ke ruangannya lalu meminum minuman itu untuk dirinya sendiri dari pada rugi kan.
***
Keesokan malamnya, setelah isya Rasti sudah siap dengan gaun mintnya dan tidak lupa dengan hijab senada.
“Sayang, kamu yakin akan datang sendiri? Lebih baik kamu ikut papi dan mami saja.” Ucap Celine.
“Iya nak.” timpal Andrew. Yah Andrew dan Celine juga di undang ke sana mereka juga sudah siap dan tinggal berangkat.
“Gak usah Pih, Mih. Aku gak datang sendiri kok.” ucap Rasti.
Tiba-tiba anda yang mengucapkan salam dan pelayan segera membukakan pintu dan munculnya seorang pria dengan setelan jasnya yang senada dengan gaun Rasti padahal mereka tidak janjian, “Assalamu’alaikum om, tante.” Sapa Faris.
Celine dan Andrew hanya menatap sang putry, “Pih, Mih ini tuan Faris, aku akan pergi bersama hari ini. Tuan Faris ini papi dan mamiku.” Ucap Rasti memperkenalkan mereka.
“Hah,, nak Faris duduklah.” Ucap Celine.
Faris pun duduk, “Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?” tanya Andrew to the point.
__ADS_1
“Pih, aku dan tuan Faris tidak menjalin hubungan apapun. Ayo tuan Faris kita pergi. Papi, Mami kami pamit duluan.” Izin Rasti lalu segera menyalami kedua orang tuanya itu.
“Kamu harus menjelaskan ini nanti.” Bisik Celine kepada Rasti.
Faris pun hanya tersenyum lalu berpamitan kepada Andrew dan Celine, “Saya harap kamu menjaganya dengan baik.” ucap Andrew begitu Faris menyalaminya.
“Tentu om!” jawab Faris yakin.
“Mami merestui kamu nak.” ucap Celine yang memang sudah tertarik dengan Faris. Dia juga sudah mendengar dari Pras.
“Makasih atas restunya.” Jawab Faris.
Faris pun akhirnya segera pergi menyusul Rasti yang sudah lebih dulu keluar.
“Aku harap Faris adalah jodohnya.” Ucap Celine. Andrew pun hanya mengangguk lalu mereka pun segera keluar untuk pergi ke jamuan yang sama.
“Apa yang papi dan mami katakan?” tanya Rasti begitu mereka sudah di jalan.
“Ada apa? Apa kamu takut orang tuamu menceritakan hal-hal yang buruk tentangmu?” goda Faris.
__ADS_1
“Huh, terserahlah. Aku gak peduli juga.” Jawab Rasti padahal jauh di lubuk hatinya dia penasaran.