
Kini Zea sedang menuju tempat akad di laksanakan menemui sang suami baru saja selesai mengucap ijab qabulnya. Zea kesana dengan di apit oleh Rasti dan Zia.
Lian yang melihat sang istri sudah berjalan menuju pelaminan pun tersenyum menyambut Zea. Rasti dan Zia pun menyerahkan Zea kepada Lian. Zea sebenarnya sangat gugup tapi dia mencoba menetralkan kegugupannya. Zea pun segera mencium tangan Lian sementara Lian mengecup kening Zea yang sudah sah sebagai istrinya itu.
Setelah itu mereka menandatangi surat-surat pernikahan mereka lalu mereka bertukar cincin pernikahan dan berfoto bersama keluarga sebelumnya mereka sudah melakukan sungkem kepada para tetua.
Setelah itu mereka segera mengganti pakaian mereka untuk acara resepsi.
“Selamat bro, selamat juga untukmu gadis taman.” Ucap Faris mengucapkan selamat kepada sahabatnya dan istrinya itu.
“Hmm,, jangan menatap istriku seperti itu.” Ucap Lian.
“Hahah,, ayolah boy jangan cemburu padaku. Bukankah dia sudah menjadi istrimu?” ucap Faris.
“Jika memang kau sadar dia istriku kenapa kau menatapnya begitu?” ucap Lian balik.
“Hahah,, baiklah aku akan pergi.” ucap Faris.
Zea pun menatap suaminya itu dengan penuh tanya, “Cemburu? Apa maksudnya kak? Kakak cemburu kenapa?” tanya Zea.
“Yah, karena dia menyukaimu.” ucap Lian.
__ADS_1
“Menyukaiku? Kapan?” tanya Zea.
“Hmm,, bukankah kau pernah bertemu dengannya?” tanya Lian.
Zea pun mengangguk, “Yah dia menyukaimu di pandangan pertama sepertiku mencintaimu makanya aku cemburu.” Ucap Lian.
Zea pun terkekeh mendengarnya, “Jadi karena itu?” tanya Zea.
“Jangan meledekku sayang.” ucap Lian.
“Siapa yang meledek kakak. Aku kan hanya tertawa.” Ucap Zea tersenyum.
“Ahh ingin rasanya aku segera menciummu sayang.” ucap Lian yang langsung mendapat cubitan di pinggang dari Zea.
“Salah sendiri mesum.” Ucap Zea.
“Mesum? Apakah mencium istri sendiri mesum? Lagian aku juga mesum hanya padamu sayang.” goda Lian.
“Jika kakak tidak menghentikannya sekarang aku akan pergi dari sini. Mau?” ancam Zea.
“Jangan sayang. Masa iya aku harus menyalami tamu-tamu itu sendiri.” Ucap Lian.
__ADS_1
“Jika begitu omongannya di jaga.” Ucap Zea.
“Hmm,, baiklah.” Ucap Lian.
Tidak lama kemudian acara lempar bunga, “Rasti pergilah.” Ucap Zia mendorong adik iparnya itu.
“Ahh kakak aku tidak percaya yang beginian.” Ucap Rasti.
“Apa salah mencobanya.” Ucap Zia.
“Huh, baiklah. Aku memang tidak bisa menolakmu kakak ipar.” Ucap Rasti segera bergabung dengan beberapa gadis dan pria yang bersiap menerima lemparan bunga. Di sana ada Faris juga yang ikut meramaikan, “Wah, aku tidak menyangka nona Rasti juga tertarik dengan acara beginian.” Ucap Faris.
“Huh, lalu bagaimana dengan tuan sendiri?” ucap Rasti balik.
“Ahh aku hanya ikut meramaikan saja karena aku tidak percaya dengan hal seperti ini.” ucap Faris.
“Kalau begitu kita sama.” Jawab Rasti cuek.
Lian dan Zea pun bersiap-siap untuk melempar bunga tapi saat akan melempar Zea segera mendekati kepada Rasti dan memberikannya kepada Rasti, “Aku tahu kakak tidak mempercayai hal seperti ini tapi aku akan memberikannya kepada kakak sebagai ucapan terima kasih dan sebagai harapan semoga kakak segera menemukan orang yang kakak cintai dan juga mencintaimu.” Ucap Zea menyerahkan bunga kepada Rasti.
Rasti pun terharu dan segera memeluk Zea, “Kau ini, baiklah aku menerima bunga ini karena ada doa dan harapanmu.” Ucap Rasti.
__ADS_1
Zia, Pras dan para orang tua pun tersenyum melihat itu.