
Lian dan Zea pun memandang keduanya, “Hadiah? Hadiah apa sayang?” tanya Zea.
Zayyan dan Zayyah pun segera mengeluarkan hadiah mereka itu dan segera memasangkan di jari keduanya, “Jangan di lepas!” ucap Zayyah setelah selesai memasangkannya.
Lian dan Zea pun memandang cincin itu dan tersenyum, “Terima kasih sayang. Tapi aunty ingin bertanya kenapa tidak bisa di lepas?” tanya Zea.
“I-itu,,” ucap Zayyan dan Zayyah memandang Pras dan Zia.
“Sudahlah Zea, Lian kalian pakai saja dan jangan pernah di lepas seperti permintaan mereka. Kami juga memakainya!” ucap Pras menunjukkan jarinya dan Zia.
“Kami juga!” ucap Faris dan Rasti bersamaan sambil menunjukkan jari mereka yang memakai cincin yang sama dengan Zea dan Lian.
Zea dan Lian pun mengangguk mengerti, “Baiklah aunty dan uncle tidak akan melepasnya. Terima kasih yaa!” ucap Lian sambil mengajak kepala keduanya gemas.
Zayyan dan Zayyah yang gak menyukai hal itu pun segera memandang Lian tajam. Lian yang di tatap seperti itu segera mengatupkan kedua bibirnya karena sudah melakukan kesalahan, “Maaf!” ucap Lian.
__ADS_1
“Huh, untuk kali ini kami maafkan tapi awas saja jika lain kali masih uncle lakukan. Tahu gak Zayyah gak suka hijab Zayyah ini berantakan.” Ucap Zayyah.
Zayyan pun mengangguk, “Zayyan juga gak suka rambut Zayyan berantakan. Awas saja jika uncle dan aunty melupakan itu lagi.” Ucap Zayyan menatap keempat orang itu dengan tajam hingga membuat Pras dan Zia tertawa karena tidak menyangka kedua anak mereka mampu mengintimidasi orang seperti itu.
Setelah itu si kembar pun segera kembali ke meja para kakek dan nenek mereka berada meninggalkan Zia dan Pras yang masih tertawa melihat ekspresi ke empat orang di hadapan mereka.
Rasti segera mengelus dadanya, “Kak, kakak ipar, apa mereka berdua itu keponakanku yang dulunya sangat lucu?” tanya Rasti tidak percaya.
“Iya kak, apa mereka masih anak-anak yang berusia dua tahun? Kenapa mereka bisa seperti itu?” tanya Zea.
“Kau benar boy. Aku juga baru melihat mereka seperti ini.” ucap Faris.
Zia dan Pras pun kembali tertawa, “Makanya kalian jangan nakal kepada anak kami. Rasain tuh gimana rasanya di tatap mengerikan seperti itu.” ucap Pras.
“Kak, apa ada yang salah dengan mereka?” tanya Rasti.
__ADS_1
Zia hanya mengangkat bahunya, “Aku gak tahu!” ucap Zia lalu kembali makan.
Keenam orang itu pun kembali melanjutkan makan siang mereka yang tertunda.
***
Malamnya, kini Faris dan Rasti sedang ada di hotel untuk malam pertama mereka, sebenarnya Faris dan Rasti sudah menolak hal ini tapi kedua orang tua mereka di tambah dengan Pras, Zia, Zea dan Lian mereka pasti tetap akan kalah jika menolak. Akhirnya kini mereka berada di kamar khusus untuk pengantin menikmati malam pertama mereka.
Rasti pun memandang kamar itu dengan seksama dan membaca apa yang ada di sana, “Kak Faris kenapa kita tidak terjebak di sini?” tanya Rasti setelah membaca kartu ucapan yang ada di sana.
“Kita memang sudah di takdirkan untuk menerima ini, sudahlah kita nikmati saja fasilitas yang sudah di berikan untuk kita.” Ucap Faris segera menuju ranjang tapi di tahan oleh Rasti.
“Kenapa?” tanya Faris menatap sang istri.
“Aku hanya ingin memotretnya sebelum nanti keindahan hiasan kamar ini rusak.” Ucap Rasti cengesan lalu segera mengambil ponselnya dan mulai memotret. Faris pun hanya membiarkannya dan akhirnya mereka pun berfoto dan berselfie ria di kamar itu dengan diliputi canda tawa bersama.
__ADS_1