Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 100


__ADS_3

“Nak!” panggil Celine menatap sang putri yang baru saja mengganti pakaiannya dan sudah selesai bicara dengan sang kakak.


“Ada apa mih?” tanya Rasti.


“Kenapa kamu gak mengatakan jika dia kecelakaan?” tanya Celine.


“Apa yang sebenarnya ingin mami tanyakan?” Tanya Rasti balik.


“Baiklah, sepertinya mami gak perlu basa basi lagi. Apa kau menyukai tuan Faris?” tanya Celine.


Rasti menatap maminya itu, “Kenapa mami menanyakan ini? Apa mami dan papi juga berpikir aku menyukai tuan Faris? Mih, aku pergi bersamanya saat jamuan itu hanya karena kami membutuhkan pasangan satu sama lain untuk kesana.” Jawab Rasti.


“Sungguh apa hanya itu? Tidak adakah yang lain?” tanya Celine.


Rasti mengangguk, “Mih, apa kalian menyukai tuan Faris?” tanya Rasti balik.


“Dia sepertinya pemuda yang baik dan keluarganya juga mapan. Tapi kekayaan bukan tolak ukur yang penting kau bahagia saja. Kau adalah putri kami dan tentu saja kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami. Kami hanya berharap kau segera menemukan cinta sejatimu karena sejujurnya kami juga ingin melihat cucu darimu.” Ucap Celine.

__ADS_1


“Huh, aku mengerti Mih hanya saja aku dan tuan Faris memang tidak memiliki hubungan apapun.” Ucap Rasti.


Celine mengerti lalu segera bangkit dari ranjang sang putri lalu berlalu tapi sebelumnya dia menyentuh bahu sang putri terlebih dahulu.


Rasti hanya menatap maminya itu dengan tatapan yang tidak bisa di baca, “Apa kalian pikir aku juga tidak ingin menikah dan memiliki anak? Aku cemburu melihat Zea yang sebentar lagi akan memiliki anak juga hanya saja aku juga tidak ingin menikah tanpa cinta.” Gumam Rasti.


***


Keesokkan paginya, kini Rasti yang memang sudah tidak diizinkan oleh Pras ke perusahaan pun bangun tidur dia segera ke dapur membuat sup yang bisa mempercepat penyembuhan luka. Dia di dapur memasak itu dengan di bantu oleh pelayan.


“Nak, apa kau akan pergi merawatnya?” tanya Celine saat mereka sedang sarapan.


“Iya mih!” jawab Rasti.


“Ada apa pih? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Rasti yang melihat papinya menatapnya dalam.


“Papi harap kau bahagia. Papi hanya ingin putri papi bahagia.” Ucap Andrew.

__ADS_1


“Papi! Jangan khawatirkan apapun karena aku pasti akan menemukan kebahagiaanku sendiri.” Ucap Rasti memeluk papinya itu.


Andrew pun hanya mengangguk karena dia tidak menyangka bahwa sang putri yang dulunya manja yang bahkan menolak untuk mewarisi usaha sang mami yang katanya dia tidak tertarik dengan bisnis tapi sekarang putrinya itu sudah berubah menjadi sangat dewasa.


***


“Tuan makanlah sarapanmu atau jika kau bosan memakan sarapan yang di sediakan, katakan saja kau ingin makan apa biar aku belikan.” Bujuk Reno karena Faris dari tadi menolak untuk makan.


“Ren, lebih baik kau pergilah ke kantor. Aku pasti akan makan nanti setelah aku merasa lapar hanya saja saat ini aku masih kenyang dan belum ingin makan.” Balas Faris.


“Huh, baiklah terserah padamu saja tuan.” Ucap Reno pasrah.


“Kenapa anda tidak memakan sarapan anda? Makanlah jika ingin cepat sembuh! Apa anda betah di tempat ini?” ucap Rasti yang baru saja tiba.


Faris yang melihat Rasti datang seketika tersenyum sumringah, “Kau datang?” tanya Faris.


“Menurut anda? Apa anda pikir ini hanya roh saya?” tanya Rasti cuek.

__ADS_1


“Aku hanya tidak yakin kau datang pagi ini padahal kau pasti harus ke kantor.” Balas Faris.


“Sudahlah jangan pikirkan saya, sekarang anda sarapan.” Ucap Rasti.


__ADS_2