
“Ada apa dengan istriku?” tanya Lian menatap Edward tajam.
“Kita harus bicara dulu.” Jawab Edward.
Lian pun mengangguk dan segera keluar di susul Edward di belakang, “Cepat katakan apa yang terjadi dengan istriku?” ucap Lian begitu mereka hanya berdua.
“Maaf jika perkataanku nanti akan membuatmu marah tapi menurut prediksiku istrimu memiliki penyakit jantung.” Jawab Edward.
“Apa maksudnya itu?” tanya Lian.
“Yah seperti kita ketahui bahwa seseorang yang memiliki penyakit jantung akan sulit mengandung dan jika dia hamil maka itu akan membahayakan nyawanya atau janinnya. Tapi kita tidak bisa mencegahnya untuk hamil karena saat ini dia sedang hamil. Tapi ini baru prediksiku, saranku kau segera bawa dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan keseluruhan.” Ucap Edward.
Lian yang diam mendengar penjelasan Edward berusaha mencernanya, “Apa maksudmu kehamilannya memperburuk keadaannya?” tanya Lian.
Edward mengangguk, “Tapi sepertinya penyakitnya ini masih tahap awal, jika kita berusaha maka bisa saja kita mencegahnya. Tapi yang membuatku khawatir keturunan kalian yang akan jadi taruhannya.” Ucap Edward.
“Apa tidak ada jalan lain? Aku bisa menerima untuk tidak memiliki anak tapi dia sudah menunggu ini. Aku tidak ingin kehilangan mereka Ed.” Ucap Lian.
“Aku tahu apa yang kau rasakan tapi ini baru prediksiku.” Ucap Edward menepuk bahu temannya itu.
“Kita harus menyelamatkannya nak, kakek lebih baik tidak memiliki cicit daripada harus kehilangan cucu menantu seperti dia.” Ucap George tiba-tiba.
__ADS_1
“Kakek kau mendengar semuanya?” tanya Lian mendekati sang kakek.
George hanya mengangguk, “Kau harus kuat, kita tidak boleh lemah.” Ucap George.
“Edward kau persiapkan semuanya di rumah sakit untuk pemeriksaannya. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja.” Lanjut George.
Edward pun hanya mengangguk lalu mereka semua kembali ke kamar di mana Zea berada, saat mereka tiba Zea sudah sadar. Lian yang melihat sang istri sudah sadar segera mendekat dan memeluk Zea erat.
“Ada apa suamiku?” tanya Zea heran tapi tetap membalas pelukan suaminya itu.
“Gak apa-apa sayang.” jawab Lian sambil melepas pelukannya.
“Saya datang kesini untuk,,” jawab Edward.
“Kami memanggilnya untuk memeriksamu karena kau tadi pingsan.” Potong Lian.
Zea pun tersenyum, “Aku gak apa-apa suamiku. Aku pingsan tadi mungkin hanya sedikit kelelahan saja.” Jawab Zea.
Lian pun mengangguk, “Mulai hari ini kamu gak usah kerja apa-apa yaa sayang. Aku gak mau kehilanganmu.” Ucap Lian.
“Boo ada apa denganmu? Kenapa kau mengatakan itu seperti aku akan pergi meninggalkanmu saja. Kau tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu dan juga calon anak kita.” Ucap Zea sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Lian dan George yang melihat itu hanya bisa diam menyimpan kesedihan, “Aku harap kau menepatinya sayang.” ucap Lian.
“Tentu saja aku akan menepatinya. Sekarang senyumlah suamiku!” ucap Zea.
Lian pun hanya berusaha tersenyum menyembunyikan kesedihannya. Setelah itu dokter Edward memberikan resep obat untuk Zea.
***
“Nak, kapan-kapan datanglah lagi.” Ucap Alice begitu Rasti akan kembali.
“Hmm,, tentu tante.” Jawab Rasti berpamitan kepada kedua orang tua Faris setelah lama mereka mengobrol.
“Om, tante saya pamit!” lanjut Rasti.
“Hati-hati di jalan nak!” ucap Gifari.
“Tentu om.” Jawab Rasti lalu menuju mobilnya.
“Apa kau tidak ingin berpamitan dengan calon suamimu?” teriak Faris mendekati Rasti.
“Tuan apa yang ada katakan?” ucap Rasti malu.
__ADS_1