
Lian pun segera berbalik meninggalkan kakeknya tapi berhenti begitu mendengar, “Ingat, kau harus menepati janjimu jika kau tidak ingin ada yang terjadi padanya. Kamu tahu kakek tidak main-main.” Ucap George.
Lian pun segera berbalik, “Kakek jangan main-main, kau apakan dia?” tanya Lian.
“Dia baik-baik saja sekarang tapi semua tidak akan baik-baik saja jika kau berulah. Semua keputusan ada di tanganmu.” Ucap George cuek.
“Kakek!! Kenapa kau mempermainkanku seperti ini?” teriak Lian frustasi.
“Kakek tidak akan menggunakannya jika kau segera menjawab telepon dariku. Tapi semua itu karena kau. Jadi ingat besok kau harus tiba tepat waktu jika tidak kau tahu apa yang akan terjadi.” Ucap George segera meninggalkan cucunya itu.
__ADS_1
Sementara Lian langsung terduduk lesu tapi dia tiba-tiba berdiri mencari seseorang yang sudah mengganggu hatinya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja seperti ucapa kakeknya. Lian mencari sekeliling tempat pertunangannya itu karena tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang sudah mengatakan Zea sudah pulang.
Tapi sayang dia tetap tidak menemukan orang yang di carinya, “Kau di mana? Apa kau baik-baik saja?” tanya Lian frustasi duduk dengan lesu di hadapan dekorasi yang akan menjadi tempat pertunangannya. Dia hanya melihat dekorasi megah itu sekilas bahkan dia tidak memperdulikan namanya dan Rasti yang sudah tertulis dengan indah di dekorasi itu.
“Tuan, ngapain kau duduk di situ?” tanya seseorang.
Lian pun menengahkan kepalanya melihat siapa yang bicara dengannya, Lian begitu melihat siapa yang bicara padanya pun segera berdiri dan menarik gadis itu ke suatu tempat, “Tuan, lepaskan tangan saya.” protes Zea.
Zea pun diam saja tanpa membalas atau melepas pelukan pria itu karena sejujurnya dia juga merindukan pelukan itu. Egois memang tapi itulah yang di rasakannya karena mereka tidak bertemu sekitar dua minggu lebih, terakhir mereka ketemu saat Zia melahirkan, “Maaf!” ucap Zea.
__ADS_1
Lian pun melepaskan pelukannya, “Kenapa minta maaf? Apa kau punya salah?” tanya Lian menatap gadis nya itu. Lian tidak peduli dengan apapun dia tetap akan menganggap Zea gadisnya.
“Maaf karena sudah membohongi kakak datang kesini dan maaf sudah memanggil dengan sebutan tuan hanya saja aku tidak tahu harus bagaimana memanggilmu karena sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku.” Ucap Zea menunduk.
“Kamu gak salah. Jangan pernah minta maaf. Aku yang harus minta maaf karena aku menyakitimu.” Ucap Lian.
Zea tersenyum, “Kakak gak menyakitiku, aku bahagia melihat kakak sebentar lagi akan bertunangan dengan kak Rasti. Selamat untukmu kak.” Ucap Zea.
“Kau sungguh menginginkan pertunangan ini?” tanya Lian menatap Zea.
__ADS_1
Zea pun mengangguk, “Aku tanya sekali lagi dan jawab dengan menatap mataku, apa kau sungguh menginginkan ini?” tanya Lian lagi.
Zea pun menatap pria di hadapannya itu dengan tersenyum, “Aku menginginkannya. Aku ikhlas melepasmu kak. Kau dan aku tahu bahwa kita tidak akan bisa bersatu. Jadi terimalah takdirmu, aku pun sama aku akan menjalani takdirku.” Ucap Zea, Lian pun menatap mata gadis itu dalam untuk melihat kebohongan di sana tapi tidak ada kebohongan di sana.