
Kini Rasti dan Faris sudah tiba di rumah sakit dan segera menuju langsung ruang perawatan di mana Zea berada karena Faris memang sudah mengetahuinya.
“Assalamu’alaikum!” salam Rasti dan langsung membuka pintu ruang perawatan itu.
Zea dan Lian langsung menatap siapa yang datang dan Zea begitu mengetahui siapa yang datang dia segera tersenyum terharu, “Wa’alaikumsalam kakak, akhirnya kau pulang.” Ucap Zea menahan tangisnya.
Rasti pun segera mendekati Zea dan memeluk adiknya itu, “Maafin kakak perginya lama. Ayo katakan di mana yang sakit?” tanya Rasti melepas pelukannya dan memeriksa keadaan Zea.
Zea pun tersenyum, “Aku baik-baik aja kak.” Ucap Zea.
Rasti pun tersenyum dan kembali memeluk Zea, “Zea sangat rindu kepadamu kak!” ucap Zea dalam pelukan Rasti.
“Kakak juga sangat merindukanmu sayang.” balas Rasti. Kedua kakak beradik yang tidak memiliki hubungan darah itu saling melepas kerinduannya mereka.
Lian dan Faris pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu menatap kedua wanita mereka yang saling merindukan. Mereka memberi keduanya saling melepas kerinduan.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Faris memecahkan keheningan yang terjadi antara mereka berdua.
__ADS_1
Lian pun menatap sahabatnya, “Seperti yang kalian tahu, dia sudah semakin melemah maka untuk itu dia harus di rawat di sini agar nanti saat operasi dilakukan dia dalam keadaan fit tapi aku tetap takut--” ucap Lian menahan kesedihannya.
“Aku mungkin tidak merasakan apa yang kau rasakan tapi aku bisa mengerti penderitaanmu sekarang. Aku berdoa semoga kau dan dia bisa melewati ini, aku yakin dia wanita kuat.” Ucap Faris.
“Terima kasih!” ucap Lian.
“Kau seperti dengan siapa aja boy. Aku ini sahabatmu.” Ucap Faris.
“Ohiya kalian sudah pulang kapan kalian akan mengadakan kembali pernikahan kalian?” tanya Lian.
“Emm aku belum tahu kami belum membicarakannya.” Ucap Faris.
“Hey, aku baru saja menjemputnya dan aku tidak ingin dia pergi lagi.” Jawab Faris.
“Makanya segera nikahi dia.” Ucap Lian. Faris pun hanya mengangguk.
Faris dan Lian pun segera mendekati Rasti dan Zea yang di mana Rasti menyuapi Zea dengan buah, “Kak Faris terima kasih sudah menjemput kakakku pulang.” Ucap Zea.
__ADS_1
“Gak usah sungkan begitu karena selain dia sebagai kakakku dia adalah orang yang kucintai. Jadi mana mungkin aku tidak menjemputnya.” Jawab Faris.
Zea pun tersenyum, “Iya itu memang benar dek tapi sayang dia menjemput kakak hanya karena permintaan kak Zia.” Ucap Rasti menyindir.
“Sayang gak usah di perjelas juga kau kan tahu apa alasanku tidak menjemputmu--” ucap Faris membela diri.
“Yaya karena permintaanku tapi kan setidaknya peka dikit lah.” Ucap Rasti.
“Sudahlah bro kita itu memang selalu salah.” Ucap Lian.
“Yah memang begitulah kalian karena perkataan kami itu selalu benar dan jika kami salah maka kembali ke pernyataan bahwa perempuan selalu benar. Jadi kalian bersabarlah!” ucap Rasti dan diangguki oleh Zea.
“Yaya kami tahu!” ucap Lian dan Faris bersamaan. Zea dan Rasti pun tertawa melihat pria mereka itu yang tertindas.
Setelah sekitar satu jam mereka di sana akhirnya Rasti dan Faris pun segera pulang dan kini mereka sedang dalam perjalanan pulang dan keduanya sama-sama hening. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.
“Kak, Sayang!” ucap Rasti dan Faris bersamaan.
__ADS_1
“Kamu saja duluan!” ucap Faris kemudian.
“Bagaimana jika kita melakukan akad dulu!” ucap Rasti.