
Kini mereka sudah di taman dan Faris langsung menggandeng tangan Rasti menuju taman itu, “Kak, kau belum menjawab pertanyaanku!” ucap Rasti.
“Pertanyaan yang mana?” tanya Faris pura-pura lupa.
“Gak usah pura-pura lupa deh kak!” ucap Rasti.
Faris pun segera menatap Rasti, “Bukankah kau juga sama, kau juga sangat kurus sayang dan kantung matamu ini hanya tertutupi dengan foundation kan? Jadi tanpa aku menjawabmu kau pasti tahu apa yang terjadi padaku karena kau juga mengalaminya.” Ucap Faris.
Mata Rasti pun tiba-tiba memerah dan air matanya jatuh tanpa bisa di tahan lagi karena ternyata apa yang dia lakukan sudah menyakiti mereka berdua, dia pun segera berhambur ke pelukan Faris, “Maafkan aku kak yang pergi meninggalkanmu. Maafkan aku yang belum dewasa ini.” ucap Rasti dalam pelukan Faris.
Faris pun hanya tersenyum karena ternyata perkataan Zia benar bahwa perempuan itu walau perkataan mereka tidak ingin di susul tapi tentu saja itu hanyalah sebuah perkataan yang suatu saat bisa saja di langgar, perempuan itu terlalu banyak menggunakan kata yang mengandung makna tersirat hingga sebagai laki-laki harus punya tingkat kepekaan yang tinggi, “Aku mencintaimu. Aku menerima semua tentang dirimu baik itu kelebihan maupun kekuranganmu. Jadi jangan sedih lagi karena di sini kita sama-sama salah. Untung saja kak Zia mendatangiku!” ucap Faris membalas pelukan gadisnya itu erat.
Rasti yang mendengar nama kakaknya di sebut pun melepas pelukannya, “Kak Zia?” tanya Rasti.
__ADS_1
Faris mengangguk, “Dia mendatangiku dua hari yang lalu dan memintaku menyusulmu. Awalnya aku menolak karena permintaanmu tapi kak Zia menjelaskan sesuatu yang hingga membuatku yakin menemuimu dan menyusulku kesini. Jika kak Zia tidak datang menemuiku mungkin aku tidak di sini sekarang.” Jelas Faris.
“Apa yang di katakan kakak?” tanya Rasti.
“Hmm itu rahasia. Jika kau ingin tahu maka tanya sendiri kepada kakakmu itu.” ucap Faris tersenyum misterius.
Rasti pun segera menekuk wajahnya dan segera melepaskan genggaman tangan Faris dan pergi meninggalkan Faris di belakang. Faris pun hanya tersenyum melihat itu lalu segera menyusul Rasti dan menggenggam tangan Rasti lalu dia segera berlutut di hadapan Rasti.
Rasti yang melihat itu pun terharu, “Kak, apa yang kau lakukan. Ayo berdiri!” ucap Rasti.
“Aku tidak akan berdiri sebelum kau menjawabnya.” Ucap Faris.
“Kak, apa kau bodoh! Aku pasti menerimamu. Tidakkah kau sadari aku memakai cincin lamaranmu lalu apa kau pikir aku tidak akan menerimanya. Tidak peduli berapa kali kau memintanya aku pasti akan selalu bersedia.” Jawab Rasti.
__ADS_1
Faris pun tersenyum lalu segera memasangkan cincin itu di jari Rasti yang terpasang cincin lamarannya waktu itu, “Terima kasih!” ucap Faris lalu membawa Rasti kembali ke pelukannya.
“Lihatlah aku saat ini jari manisku ini pasti keberatan karena sudah memakai dua cincin darimu kak. Mana cincinnya lagi mahal!” ucap Rasti dalam pelukan Faris sambil memandang jarinya yang tersemat dua cincin berlian itu.
Faris pun melepaskan pelukannya lalu segera mengambil tangan Rasti yang terpasang cincin, “Jarimu tidak akan keberatan sayang, karena dia terlihat sangat cantik sekarang.” Ucap Faris.
“Ahh kakak bisa aja tapi memang benar sih!” balas Rasti memandangi jarinya itu.
“Emm,, kita pulang yaa ke Indonesia lalu--” ucap Faris menatap Rasti, Rasti yang mengerti hal itu langsung mengangguk.
Faris pun tersenyum, “Ohiya operasi Zea sepuluh hari lagi. Dia akan melakukan operasi untuk kandungannya. Jika ingin bertanya lebih lanjut nanti akan aku jelaskan.” Ucap Faris.
Rasti pun mengangguk, “Bisakah kita menikah setelah Zea operasi?” tanya Rasti hati-hati.
__ADS_1