
Lian yang melihat Zea mulai menutup matanya pun panic, “Dokter kenapa dia menutup matanya?” tanya Lian.
Dokter yang mendengar hal itu pun segera mengeceknya, “Tuan Lian lebih baik anda keluar sekarang.” Ucap dokter itu.
“Tapi dok--” tolak Lian.
“Percaya kepada kami tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk melakukannya.” Jawab dokter itu sambil tetap menjaga kesadaran Zea yang tiba-tiba menurun.
“Baiklah dok, tolong selamatkan dia apapun yang terjadi.” Ucap Lian pilu dengan air mata yang sudah menetes di pipinya bahkan tangis kedua anaknya yang bersahut-sahutan di ruang operasi itu tak dia hiraukan dan matanya terus menatap istrinya yang sedang ditangani oleh dokter sampai dia keluar dari ruang operasi itu.
Para keluarga yang sedang cemas diluar begitu melihat Lian keluar segera mendekat, “Tenanglah dia pasti kuat.” Ucap Pras langsung memeluk Lian karena tanpa Lian katakan dia sudah mengerti apa yang terjadi karean mereka semua sudah diberitahu dengan segala kemungkinan terburuknya.
“Dia menutup matanya kakak ipar. Aku takut dia--” ucap Lian tidak mampu melanjutkan perkataanya.
__ADS_1
“Tenanglah boy, dia akan baik-baik saja. Dia wanita kuat.” Ucap Faris menepuk bahu sahabatnya.
Lalu kedua suster segera keluar dari ruang operasi dengan kedua bayi mungil di tangan mereka. Zia dan Rasti yang melihat hal itu segera mendekat, “Apa akan di bawa ke NICU?” tanya Zia dan suster itu hanya mengangguk.
Rasti dan Zia pun mengikuti mereka serta Alya dan Celine dari belakang. Mereka pergi dari sana karena tidak ingin mendengar kemungkinan terburuknya dan juga untuk melihat cucu mereka serta keponakan mereka itu.
***
“Bagaimana?” tanya Zia kepada Pras.
Pras menggeleng tanda bahwa dia juga belum tahu karena memang dokter belum ada yang keluar sudah selama itu. Zia pun mengangguk mengerti dan segera mendekati adik iparnya yang memandang pintu operasi itu dalam seolah-olah dia tidak ingin kelewatan satu pun yang keluar dari sana.
“Lian, lebih baik kau ganti dulu pakaianmu itu dan pergilah makan.” Ucap Zia.
__ADS_1
Lian memandang Zia sekilas, “Gak usah kakak ipar, aku gak lapar.” Jawabnya.
Zia pun menghela nafasnya, “Kami tahu apa perasaanmu itu tapi ingat kau juga harus menjaga kesehatanmu. Zea pasti akan marah jika melihatmu begini, ayo sana kau makan siang. Jika memang kau tidak ingin makan setidaknya lakukan ini demi kedua putramu yang ada di NICU menunggumu untuk melihat mereka.” Ucap Zia.
Lian yang mendengar ucap Zia pun menatapnya dalam, “Putra?” tanya Lian karena dia memang tidak tahu jenis kelamin anaknya itu dan fokusnya dalam ruang operasi itu hanya tertuju pada istrinya.
Zia pun mengangguk, “Yaa putra, mereka sangat tampan. Ayo sana kau makanlah. Kami janji akan segera memberitahumu jika Zea sudah keluar.” Ucap Zia.
Lian pun akhirnya luluh dan segera berdiri, Faris segera mengikuti sahabatnya itu.
George yang baru saja datang karena memang permintaan Zea yang tidak ingin kakeknya itu datang karena dia tidak ingin sang kakek nanti khawatir dan kondisinya juga tidak begitu memungkinkan ke rumah sakit di mana di sana tempat di mana banyak penyakit berada.
“Bagaimana dia?” tanya George kepada semua orang di sana.
__ADS_1