
Sebulan berlalu kini twins Z sudah genap berusia sebulan. Zia dan kedua anaknya pun tetap masih tinggal di vila. Zia belum memutuskan kembali, dia sudah memutuskan kembali jika anaknya sudah berumur setahun. Rasti yang sudah mengetahui rencana Zia itupun tidak keberatan jika Zia akan kembali.
Semua orang juga divila sangat bahagia dengan kedua malaikat kecil itu. Mereka membantu Zia mengurus dua bayi mungil itu. Celine dan Andrew pun setiap akhir pekan menghabiskan waktu mereka di vila hanya untuk melihat Zayyan dan Zayyah. Begitupun dengan Pras dia selalu saja datang. Bahkan kedua foto anak itu sudah terbingkai dan digantung diruang kerjanya.
“Hai twins, apa kabar kalian?” tanya Pras memandang kedua bayi mungil itu yang kini dalam gendongan Zia dan Rasti.
“Kami baik-baik aja uncle.” Jawab Rasti menirukan suara anak kecil.
Zia hanya diam saja dan memandang Pras dalam. Zia beberapa hari yang lalu baru saja memperoleh berita yang mengejutkan mengenai kedua anaknya.
“Ah, sini ayo sama nenek!” ucap Celine mengambil Zayyan yang ada dalam gendongan Rasti.
“Nak, sini biar dia sama bibi dulu. Kamu lebih baik sana makan dulu.” Ucap Hanifa. Zia pun akhirnya memberikan Zayyah kepada Hanifa dan dia segera menuju dapur untuk makan.
***
“Kak, apa ini keponakanku?” tanya Zea sambil memandang foto yang dikirimkan Zia.
“Mereka sangat tampan dan cantik kak.” Ucap Zea.
“Apa yang kamu lihat nak?” tanya Alya.
“Gak ada kok Ma.” Jawab Zea.
“Dek, apa yang kamu sembunyikan dari kami?” tanya Gibran
Zea pun memandang kedua orang tuanya itu dalam. “Baiklah, Zea gak akan menyembunyikan apapun lagi dari kalian tapi kalian harus janji kalian harus lebih rajin lagi minum obat kalian.” Ucap Zea.
“Baiklah.”
Zea pun segera memperlihatkan foto yang dikirim Zia, “Foto anak siapa ini?” tanya Alya.
“Mereka anak kakak Ma,Pa. Kakak melahirkan anak kembar, umur anaknya sudah sekitar sebulan.” Jawab Zea.
“Jadi ini foto cucu kami? Apa kamu sering menemui kakak?” tanya Alya.
Zea pun segera menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewati, “Jadi kamu bertemu dengan kakakmu saat wisuda? Jadi dia datang? Kenapa kau tidak mengatakan apapun?” tanya Alya.
“Ma, kakak tidak ingin kalian mengkhawatirkannya. Dia baik-baik saja. Aku sudah membujuknya saat itu untuk pulang hanya saja dia tidak ingin pulang. Maafkan Zea menyembunyikan ini dari kalian.” Ucap Zea.
Alya dan Gibran pun hanya diam saja, “Apa kamu tahu dia tinggal dimana? Mama ingin menemuinya dek.” Ucap Alya.
“Zea gak tahu Ma kakak tinggal dimana. Kakak tidak mengatakan apapun soal itu.” Jawab Zea.
“Apa bisa kamu melakukan video call untuk kami dek. Kami hanya ingin melihat kakakmu.” Pinta Gibran.
Zea yang mendengar papahnya yang mengatakan itu pun tidak bisa menolak karena selama ini papahnya adalah orang yang selalu menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak pernah menanyakan Zia dan selalu menuruti apapun perkataan Zea. Tapi Zea tahu papahnya adalah orang yang paling merindukan Zia.
Zea pun akhirnya menelpon kakaknya.
“Halo, Assalamu’alaikum dek. Ada apa kamu sampai video call?” tanya Zia tidak melihat layar ponsel karena dia sibuk mengatur pakaian Zayyan dan Zayyah.
__ADS_1
“Gak ada apa-apa kok kak.” Jawab Zea.
“Kakak!” panggil Alya dan Gibran.
Seketika Zia menghentikan kerjaanya begitu mendengar suara itu, “Mama, Papa.” Panggil Zia.
“Hiks,, hiks,, kakak! Ini beneran kamu kan?” tanya Alya menangis.
“Mama! Jangan menangis. Ini beneran kakak.” Jawab Zia menangis.
“Apa kamu baik-baik aja?” tanya Gibran menahan airmatanya.
“Papa! Kakak baik-baik aja kok.” jawab Zia.
Lama mereka mengobrol bahkan Zia memperlihatkan kedua anaknya kepada orang tuanya tapi tetap saja dia menyembunyikan dimana dia tinggal.
***
Hari-hari berlalu dengan cepat saat ini Pras sedang menggendong kedua bayi mungil itu. Kedua bayi mungil itu kini sudah genap berusia tiga bulan.
Pras pun menidurkan kedua bayi itu, Zia hanya melihatnya dari jauh. Pras pun memandang wajah kedua bayi mungil itu yang semakin hari semakin menggemaskan. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Setelah memastikan kedua bayi itu tidur dia segera pergi dari vila dengan buru-buru untuk memastikan sesuatu.
“Hans! Apa kau sudah tahu?” tanya Pras memandang asistennya tajam.
Hans hanya diam saja, “Hans! Aku sedang bicara padamu. Jawab!” Ucap Pras berteriak.
“Sepertinya tuan sudah menyadarinya? Kedua bayi itu adalah darah daging tuan. Gadis itu adalah nona Zia, seperti harapan tuan selama ini. ” ucap Hans.
“Sebelum nona Zia melahirkan tepatnya seminggu setelah tuan mengatakan jika seandainya nona Zia dan gadis itu adalah orang yang sama. Saat itu saya segera menyelidiki nona Zia dan ternyata pada tanggal yang sama dia memang datang ke hotel Zeus untuk mewakili dokter pembimbingnya pada pertemuan malam itu dilantai 6. Dan kenapa kamera CCTV tidak mereka jejak nona Zia sedikit pun karena dokter Erina yang menyuruh menghapus rekaman tentang nona Zia. Saya mengetahuinya setelah menemui dokter Erina. Dia melakukan itu hanya untuk kebaikan nona Zia tapi ternyata dia tidak tau bahwa karena itu dia justru membuat nona Zia dalam masalah.” Ucap Hans.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Hah?” tanya Pras.
“Tuan besar dan nyonya besar melarangnya.” Jawab Hans.
“Maksudmu mami dan papi juga sudah tahu tentang ini?” tanya Pras kaget.
“Tidak hanya nyonya dan tuan, nona Rasti juga sudah mengetahuinya.” Jawab Hans.
“Apa hanya aku yang tidak mengetahuinya? Apa kalian membodohiku?” tanya Pras.
***
“Mami! Papi!” panggil Pras berteriak.
“Ada apa kamu teriak-teriak nak?” tanya Celine.
“Apa ini yang telah kalian lakukan padaku mih, pih?” tanya Pras lesu.
“Ada apa denganmu nak?” tanya Celine.
“Kenapa kalian tega membodohiku selama ini?” tanya Pras.
__ADS_1
“Jadi kamu sudah mengetahuinya?” tanya Andrew setelah mengerti yang dimaksud putranya.
Pras pun mengangguk, “Aku baru saja mengetahuinya. ” ucap Pras lemah.
“Kenapa kalian menyembunyikannya dariku? Bukankah kalian tahu aku mencintainya?” tanya Pras.
“Justru karena hal itu kami menyembunyikannya darimu. Kami ingin melihat siapa sebenarnya yang kau cintai. Ternyata kau mencintainya dan melupakan janjimu untuk mencari gadis itu.” Ucap Andrew.
“Tapi gadis itu adalah dia pih.” Ucap Pras.
“Iya, kami tahu. Tapi kau butuh waktu lama menyadarinya. Iya kan? Dan papi yakin kau juga pasti tidak tau bahwa Zia sudah berencana pulang.” ucap Andrew.
“Maksud papi?” tanya Pras.
“Ternyata benar, kau memang bodoh. Dia akan segera pulang ke rumah orang tuanya. ” ucap Andrew.
“Kalian tahu dari mana?” tanya Pras.
“Itu benar kak, Kak Zia akan segera pulang. Awalnya dia berencana tinggal selama setahun tapi sepertinya dia sudah berubah pikiran. Seminggu lagi dia akan kembali.” Ucap Rasti tiba-tiba masuk.
“Kamu dengar kan? Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Andrew.
“Aku akan menghalanginya sampai dia menjadi istriku.” Ucap Pras yakin.
Andrew hanya tersenyum, “Baiklah, jika begitu kau harus mendapatkannya. Jangan sampai kau kehilangannnya untuk kedua kali. Papi tidak ingin kehilangan cucu dan menantu seperti dia.” Ucap Andrew.
“Kamu harus memastikan dia tidak pergi. Awas saja jika kau kehilangannya lagi. Mami hanya ingin mendengar kabar baik darimu.” Ucap Celine kemudian.
“Sepertinya itu tidak akan mudah kak. Sepertinya dia sudah menyadari bahwa kau adalah ayah biologis anaknya. Ini tidak akan mudah bagimu kak.” Ucap Rasti.
“Apa maksudmu perkataanmu?” tanya Pras.
“Sepertinya kakak mendengarnya dengan jelas. Kemungkinan besar dia juga sudah mengetahui bahwa kau adalah laki-laki yang menghamilinya.” Ucap Rasti tajam.
“Ingat kak, aku tidak ingin kehilangan sahabat, kakak dan calon kakak ipar seperti dia. Jadi kau harus bisa memastikan dia mau memberimu kesempatan lagi.” Ucap Rasti.
*
*
Yeay, akhirnya Pras sadar juga.
*
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻