Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 95


__ADS_3

“Beneran? Yakin?”


Faris mengangguk, “Beneran udah gak apa-apa, saya hanya ingin kau di sini.” Ucap Faris.


Rasti pun hanya menurut lalu dia segera kembali ke sofa tempat dia tidur lalu seketika dia sadar akan penampilannya yang tampak acak-acakan karena hijabnya sudah miring-miring. Dia pun segera memperbaikinya, Faris yang melihat itu hanya tersenyum, “Udah cantik kok.” ucap Faris tersenyum.


“Anda kenapa gak mengatakan bahwa jilbabku acak-acakan?” tanya Rasti menatap tajam Faris.


“Gak apa-apa kok, kamu cantik baru bangun tidur.” Balas Faris.


“Hahh,, dasar! Jangan bicara yang tidak-tidak, mana ada cantik jika baru bangun tidur.” Ucap Rasti.


“Sungguh saya gak bohong kau sangat cantik tadi.” Ucap Faris.


“Humm,, sudahlah jangan bahas itu lagi. Cepat anda katakan kenapa bisa menabrak pembatas jalan semalam?” tanya Rasti menatap Faris.


“I-itu,,” ucap Faris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Itu kenapa? Dasar ceroboh!” ucap Rasti.


“Ya ya saya ceroboh tapi itu karena ada kucing yang lewat dengan tiba-tiba jadi saya menabrak pembatas jalan.” Jawab Faris.


“Sungguh? Apa hanya itu?” tanya Rasti menyelidik.

__ADS_1


Faris pun mengangguk, “Iya, sungguh percaya deh sama saya.” ucap Faris.


“Lagian juga saya gak apa-apa kok.” lanjut Faris.


Rasti pun mendekati Faris lalu langsung memegang lengan Faris yang di gips, “Aw,, sakit!” teriak Faris.


“Katanya tadi gak apa-apa lalu kenapa mengeluh sakit?” ucap Rasti cuek.


“Ya sakitlah jika di tekan.” Ucap Faris dengan wajah memelas.


“Makanya itu berarti memang sakit mana tangan kanan lagi yang harus mengalami cedera, kenapa gak dua-duanya aja asal gak bisa gerak sedikit pun.” Ucap Rasti.


“Kamu ko gitu sih? Tega banget doa-in yang seperti itu.” Ucap Faris.


Faris pun tersenyum, “Kenapa?” tanya Rasti.


“Bisa gak temani saya ke kamar mandi?” tanya Faris.


“Mau ngapain ke kamar mandi?” tanya Rasti kaget.


“Jangan pikir negative dulu, saya hanya ingin wudhu dulu, sudah subuh itu. Saya juga mau buang air.” Ucap Faris.


“Ouh yaa sudah ayo!” ucap Rasti.

__ADS_1


Rasti pun segera membantu Faris menuju kamar mandi, “Kamu gak mau masuk?” tawar Faris menggoda Rasti.


“Sudah sana masuk jangan aneh-aneh jika tidak ingin tangan satunya lagi cedera.” Ancam Rasti.


“Tega banget sih.” Ucap Faris lalu segera masuk ke kamar mandi karena tidak ingin tangan yang satu juga jadi korban Rasti.


“Dasar, kenapa aku harus terjebak dengannya. Aku harus menelpon orang tuanya. Aku tidak ingin berurusan dengannya.” Gumam Rasti.


Tidak lama Faris selesai wudhu dan buang air, dia pun segera keluar. Begitu dia keluar sudah Rasti siapkan temap sholat untuknya. Faris tersenyum melihat itu lalu menatap Rasti yang duduk santai di sofa, “Kamu gak mau jama’ah sama saya?” tanya Faris.


“Gak boleh!” jawab Rasti.


“Apanya yang gak boleh?” tanya Faris.


“Saya gak bisa sholat lagi ada tamu, selain itu juga walau gak ada tamu sekalipun tetap gak boleh sholat bersama antara seorang perempuan dan laki-laki yang bukan mahram.” Jelas Rasti dan Faris hanya ber oh ria.


“Sudahlah sana sholat sebelum waktu sholat habis, ohiya apa tangan anda kuat untuk sujud?” tanya Rasti.


Faris tersenyum, “Apa kamu mengkhawatirkan saya?” tanya Faris.


“Gak tuh!” jawab Rasti cuek.


Seketika wajah Faris di tekuk, “Padahal saya senang jika kamu khawatir sama saya.” ucap Faris.

__ADS_1


“Ouh God, ternyata anda sangat cerewet yaa, sudah sana sholat.” Ucap Rasti. Faris pun akhirnya melaksanakan sholat walau dengan susah payah saat akan sujud karena cedera.


__ADS_2