
Dua bulan berlalu dengan sangat cepat, kini Zea sedang mengunjungi berada di rumah Zia mengunjungi keponakannya karena ini weekend tapi Lian tidak ikut karena masih ada yang harus dia kerjakan. Zea memang sering mengunjungi Zia karena dengan begitu dia melupakan kegundahan hatinya yang hingga kini belum juga hamil.
“Dek, kau datang kan pass ulang tahun si kembar?” tanya Zia.
“Tentu saja aku akan datang kak. Mana mungkin aku melewatkannya.” Jawab Zea yang memandang kedua keponakan kembarnya itu sedang asik bermain.
“Apa kau belum juga hamil?” tanya Zia hati-hati.
Zea menggeleng, “Aku gak tahu kak. Ini aku sudah hampir dua bulan belum menstruasi hanya saja aku tidak ingin melakukan test. Aku tidak ingin berharap.” Jawab Zea.
Zia pun tersenyum, “Hmm,, menurut kakak coba cek deh, kita kan gak tahu kapan Allah mengabulkan doa kita. Siapa tahu aja di sini sudah ada keponakanku.” Ucap Zia lalu mengusap perut sang adik.
“Gak ah aku takut kecewa kak.” Jawab Zea menolak.
“Hmm,, dek gak boleh gitu dong.” Ucap Rasti tiba-tiba saja dia sudah tiba. Dia memang sudah menelpon akan datang ke rumah Zia begitu mendengar Zea ada di rumah kakaknya itu. Selain itu juga dia ingin melihat si kembar yang sebentar lagi berusia 2 tahun.
“Kamu harus mengeceknya, aku kakak temani untuk hasilnya nanti kita berdoa saja semoga kau hamil.” Lanjut Rasti segera duduk di samping Zea.
“Aku takut kecewa kak.” Jawab Zea.
__ADS_1
“Ouh ayolah, kemana adikku yang pemberani.” Ucap Rasti.
Zea pun menatap Zia yang menyetujui Rasti, “Huh, baiklah aku akan mencobanya.” Ucap Zea.
“Apa kamu punya testpeck?” tanya Zia.
Zea mengangguk, “Aku selalu membawanya kak. Aku memang berencana mengeceknya hanya saja aku takut tapi karena melihat dukungan kalian aku akan mencobanya.” Ucap Zea.
“Nah gitu dong. Apa perlu kakak bantu?” tanya Rasti.
“Ahh gak usah kak, aku bisa sendiri.” Jawab Zea lalu dia segera menuju kamar mandi di kamar si kembar.
“Hmm,, bagaimana hubunganmu dan tuan Faris?” tanya Zia menggoda Rasti.
“Tapi kok yang kakak dengar kalian sering keluar sama-sama. Dia juga sering menjemputmu.” Goda Zia.
“Ouh God, apa kau mengirimkan mata-mata kepadaku kak?” tanya Rasti.
“Mungkin saja.” Jawab Zia tersenyum.
__ADS_1
“Kak percaya padaku kami tidak memiliki hubungan apapun. Kami sering ketemu karena untuk kerja sama begitu juga saat dia menjemputku.” Jawab Rasti.
“Hahahhh,, kakak percaya padamu.” Ucap Zia tertawa.
“Huh, lebih baik kau mengatakan tidak percaya saja kak, tawamu itu seolah-olah mengejekku.” Ucap Rasti lalu memakan camilan di hadapannya. Zia pun hanya tertawa lalu tiba-tiba Zeyyan menangis. Zia pun segera berlari menuju putra bungsunya itu lalu kembali dengan Zeyyan dalam gendongannya.
“Kak, biar aku yang menggendongnya.” Pinta Rasti.
Zia pun segera memberikannya, “Kau sudah cocok loh dek punya sendiri.” Goda Zia.
“Ouh kakak, berhenti menggodaku.” Ucap Rasti.
“Kak dimana kak Pras? Kok gak kelihatan? Ini kan weekend?” tanya Rasti begitu menyadari sang kakak gak ada.
“Tuh!” tunjuk Zia kepada sang suami yang baru saja masuk habis bersepeda bersama clubnya.
“Kamu kok bisa di sini?” tanya Pras menatap Rasti.
“Emang gak boleh aku ke sini?” tanya Rasti balik.
__ADS_1
“Huh, sudahlah aku tidak ingin bertengkar denganmu. Hari ini aku sedang bahagia.” Ucap Pras berlalu.
“Padahal dia yang mencari masalah.” Ucap Rasti. Zia pun hanya tersenyum lalu menyusul sang suami.