
Seminggu kemudian, Lian dan Zea baru kembali kemarin dari bulan madu mereka. Sementara Rasti dan Faris pelaksanaan kerja sama mereka juga sudah di mulai sejak beberapa hari yang lalu.
Untuk Zia dan Pras, klinik Zia sudah selesai dan mendapat izin, dua hari yang lalu pembukaannya. Kini kedua kakak beradik itu bekerja di sana dan juga sudah ada beberapa tenaga medis lainnya yang juga bergabung.
“Kek, ayo makan ini!” ucap Zea membawakan camilan buatannya itu kepada kakek mertuanya.
George pun tersenyum, “Hmm,, ini sangat enak.” Puji George.
“Syukurlah jika kakek menyukainya.” Ucap Zea.
“Tentu saja kakek menyukainya karena cucu menantu kakek yang membuatnya.” Ucap George menghabiskan camilan yang di buat Zea.
Tiba-tiba, “Ada apa ini? Kok nggak ngajak?” tanya Lian begitu baru sampai dari kantor lalu segera mendekati istri dan kakeknya itu.
“Kak! Kau sudah pulang?” tanya Zea lalu segera menyalami tangan suaminya itu dan Lian mengecup kening istrinya.
“Apa ini?” tanya Lian melihat camilan yang di makan oleh kakeknya dan berencana mengambilnya tapi saat dia akan mengambilnya langsung di tepis oleh George.
“Ini punya kakek.” Ucap George.
“Sayang?” panggil Lian menatap sang istri.
__ADS_1
“Tenang buat suamiku ini ada kok. Sekarang kakak ganti pakaian dulu. Ayo!” ajak Zea lalu menggandeng suaminya itu untuk membersihkan diri.
“Dasar pelit padahal itu istriku yang buat.” Ucap Lian tapi George mengabaikannya.
“Kau juga dasar bucin.” Balas George berteriak begitu Lian dan Zea sudah hampir sampai kamar mereka.
“Kak, kenapa selalu berdebat dengan kakek?” tanya Zea.
“Hahahh, aku hanya suka saja berdebat dengannya karena hubungan kami tidak seperti dulu. Terima kasih kau telah datang dan menyayangiku dengan kakekku.” Ucap Lian.
Sementara George hanya tersenyum melihat bagaimana betapa bahagianya Lian hidup bersama Zea. Dia tidak bisa membayangkan jika dia tetap bersikeras melakukan perjodohan bodohnya itu untuk sang cucu, mungkin sampai saat ini dia tidak akan bisa merasakan bagaimana kasih sayangnya cucunya itu. Jangankan merasakan hal itu mungkin cucunya itu bahkan enggan untuk datang melihatnya.
***
Sebulan berlalu, “Kakak, aku merindukanmu.” Ucap Rasti yang karena sibuk dengan pekerjaannya hingga jarang menemui Zia.
“Hey, tumben datang. Sering-seringlah datang, kakak juga merindukanmu.” Ucap Zia.
“Kak maaf yaa, aku sangat sibuk dengan urusan kantor.” Ucap Rasti.
“Iya kakak mengerti kok.” jawab Zia.
__ADS_1
“Kak, dimana ketiga keponakanku?” tanya Rasti.
“Di kamar mereka.” Jawab Zia.
Rasti pun segera berlari menuju kamar ketiga keponakannya itu dan bermain di sana.
Zia pun hanya tersenyum melihat tingkah Rasti itu, “Apa yang membuatmu tersenyum baby?” tanya Pras yang entah kapan sudah pulang dari kantor.
“Huh, hubby kau mengagetkanku tau. Kenapa gak mengucap salam?” protes Zia tapi tetap menyalami tangan suaminya itu.
“Aku sudah mengucapkan salam loh tapi gak di jawab. Jadi aku masuk saja.” Ucap Pras sambil mengecup kening Zia.
“Hehehhh,, berarti aku terlalu serius menertawakan adikmu itu by. Entah kapan dia akan berubah menjadi dewasa jika bertemu dengan anak-anak.” Ucap Zia.
“Rasti ada di sini?” tanya Pras.
Zia pun mengangguk, “Emang mobilnya gak ada di depan?” tanya Zia balik.
Pras pun menggeleng, “Masa sih? Tadi Zia memdengar ada suara mobil kok.” ucap Zia.
“Apa aku salah dengar?” tanya Zia.
__ADS_1