
Tiba-tiba, “Ada apa nih? Apa yang mami dan papi bicarakan?” ucap Pras langsung bergabung dengan kedua orang tuanya itu.
“Gak ada kok Pras. Ohiya bagaimana dengan pekerjaanmu?” ucap Andrew.
“Semuanya baik-baik aja pih.” Jawab Pras.
“Pras, kamu mau gak mami jodohin?” tanya Celine tiba-tiba.
“Mami jangan aneh-aneh deh!” ucap Andrew.
“Jodohin? Mami kan tahu aku sedang mencari gadis itu.” Ucap Pras.
“Tapi Pras mami berubah pikiran.” Ucap Celine.
“Ah, mami jangan aneh-aneh deh. Aku hanya ingin menikah dengan gadis itu. Dia sedang mengandung anakku Mih, cucu kalian. Aku tidak akan menikah dengan gadis manapun.” Ucap Pras.
“Tapi kamu sudah mencarinya tapi belum ketemu juga. Ini sudah hampir enam bulan tapi kau juga belum menemukan petunjuk apapun.” Ucap Celine marah dan tidak sengaja foto USG itu terlepas dari tangannya. Sementara Andrew hanya diam saja sambil mencerna perkataan putranya.
Pras yang melihat kertas dari tangan maminya jatuh segera mengambilnya dan melihatnya. Tiba-tiba saja tanpa ada apapun air matanya menetes melihat foto USG itu. Andrew dan Celine seketika terdiam melihat putra mereka yang saat ini meneteskan airmatanya sambil melihat foto USG ditangannya.
“Nak, kenapa kau menangis?” tanya Celine kemudian.
“Mih, USG punya siapa ini?” tanya Pras balik mengabaikan pertanyaan maminya.
“Itu,,” ucap Celine.
“Bolehkah aku menyimpannya?” potong Pras.
“Tapi itu,,” ucap Celine terpotong karena suaminya memegang tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, kau boleh menyimpannya.” Ucap Celine.
Pras pun segera pergi setelah maminya mengizinkannya menyimpan foto USG yang sudah berhasil membuatnya menangis itu.
Sementara diluar, “Pih, kenapa papi membiarkannya menyimpan USG itu?” tanya Celine.
“Apa mami belum mengerti? Air matanya seketika jatuh setelah melihat USG itu?” ucap Andrew.
“Apa maksud papi?” tanya Celine.
“Sepertinya kita harus memastikannya sendiri mih.” Ucap Andrew.
“Apa maksud papi Zia bisa jadi gadis itu?” tanya Celine.
Andrew mengangguk, “Kita harus memastikannya.” Ucap Andrew.
***
“Tuan, hari ini kita harus menandatangi kontrak dengan usaha teman nona muda.” Ucap Hans.
“Ah, baiklah.” Ucap Pras sambil memandang ponselnya yang dimana disana ada foto USG Zia.
Yah, dia mengabadikannya diponselnya. Entah kenapa setiap dia memandang foto USG perasaannya campur aduk.
Mereka pun segera berangkat. Dijalan Pras tetap menatap ponselnya.
“Hans, dimana pabrik mereka?” tanya Pras melihat sekeliling.
“Hans, bukankah ini jalan menuju vila?” tanya Pras lagi.
__ADS_1
“Iya benar tuan. Saya juga bingung karena alamatnya memang ada disekitar vila keluarga anda.” Jawab Hans.
Pras pun kembali diam. Tidak lama kemudian mereka tiba dan benar saja itu ada disekitar vila keluarganya lebih tepatnya disamping vila utama keluarganya.
“Kakak!!” panggil seorang gadis begitu mengenali mobil kakaknya.
“Kenapa kau ada disini? Apa ini usaha temanmu itu?” Tanya Pras kepada adiknya.
“Hey, kakak apa kau lupa ini vila keluarga kita jadi tentu saja aku ada disini. Selain itu juga aku ini pemilik pabrik keripik ini dengan temanku. Hebat kan aku? Ayo kita bicarakan kontraknya?” ucap Rasti.
“Hey, aku ini klienmu. Kau itu harus bersikap manis pada klienmu.” Ucap Pras.
“Ah, baiklah tuan. Silahkan masuk! Temanku sudah menunggu didalam.” Ucap Rasti sinis.
“Klien seperti apa kau ini?” tanya Pras tak kalah sini.
“Ah, menyebalkan bekerja sama denganmu kak. Ayo masuk! Jika aku tidak masuk maka segera kembali aku tidak ingin bekerja sama denganmu.” Ucap Rasti.
“Dek, ada apa rebut-ribut? Apa tamunya sudah datang?” tanya Zia tiba-tiba sudah dipintu.
Pras menoleh ke sumber suara dan disana dia kaget melihat seorang gadis cantik berhijab, kecantikannya tetap terpancar walau ditutupi oleh hijabnya. Pras pun menatap Zia tanpa berkedip.
“Kak, kenapa kau keluar. Ayo masuk ke dalam. Aku kan sudah bilang kau tunggu saja didalam. Aku tidak ingin kau kelelahan.” Ucap Rasti seraya menyuruh Zia masuk.
“Dek, tamunya.” Ucap Zia.
“Ah, kakak jika kau tidak ingin masuk maka diluar saja.” Ucap Rasti menggandeng Zia masuk.
Pras tidak fokus dengan perkataan adiknya. Dia seolah-olah terhipnotis oleh Zia.
“Tuan, apa yang kau lihat? Nona sudah menyuruh kita masuk? Apa kita pulang saja?” tanya Hans tiba-tiba.
Pras pun segera tersadar, “Ah, Iya. Ayo kita masuk.” Ucap Pras segera masuk meninggalkan Hans diluar. Sementara Hans hanya bisa menghela nafas diluar karena ditinggalkan tuannya begitu saja.
“Kakak! Jangan menatap kak Zia seperti itu. Apa kau tertarik dengan kak Zia.” Ucap Rasti setelah menyadari bahwa kakaknya itu menatap Zia daritadi.
Seketika menjadi hening, “Kakak, sana kau pulang.” Usir Rasti karena penandatangan kontrak sudah selesai.
“Hey, aku ini klienmu.” Ucap Pras.
“Klien apa-an?” cuek Rasti.
“Dek, jangan begitu. Terimah kasih tuan! Semoga kerja samanya bisa berjalan lancar.” Ucap Zia tersenyum.
Pras pun tersenyum dan mengulurkan tangannya tapi Zia menjadi bingung, “Kakak, gak usah modus deh.” Ucap Rasti meraih tangan kakaknya.
“Kamu,,” ucap Pras.
“Apa?” tanya Rasti tajam.
Pras pun segera pergi karena kesal dengan adiknya. Setelah kerja sama itu berlangsung Pras selalu datang ke vila sekedar melihat Zia. Kadang dia hanya mengamati Zia dari jauh. Entah kenapa dia merasa memiliki ikatan dengan Zia tapi dia tidak tau apa itu. Hatinya seolah-olah menyuruhnya untuk datang sekedar melihat Zia.
***
“Nak, apa hari ini jadwal USG-mu?” tanya Hanifa.
“Iya, benar bi.” Ucap Zia.
Drt,, drt,, drt,,
__ADS_1
“Halo, kak. Maafkan aku tidak bisa lagi menemanimu USG hari ini. Ah, tugas ini.” ucap Rasti.
“Ya sudah gak apa-apa dek. Kamu kerjakan saja tugasmu. Kakak biar pergi sendiri saja.” Ucap Zia.
“No, kakak pergi dengan paman atau bibi. Jangan pergi sendiri atau kita tunda saja jadi besok. Aku akan mengubah jadwalnya.” Ucap Rasti.
“Jangan dek. Kasihan dokternya harus mengubah jadwalnya lagi. Biar kakak pergi sendiri saja. Kamu jangan khawatir.” Ucap Zia.
Tiba-tiba, “Assalamu’alaikum.” Ucap Pras masuk vila.
“Wa’alaikumsalam. Silahkan masuk tuan.” Jawab Hanifa dan Zia.
“Kak, apa itu kak Pras?” tanya Rasti dari seberang.
“I-iya.” Jawab Zia.
“Kak, coba berikan ponselnya kepada kakak.” Ucap Rasti.
Zia pun hanya memandang Pras diam, “Ada apa?” tanya Pras.
“Hmm,, Rasti mau bicara.” Ucap Zia sambil menyerahkan ponselnya.
Pras pun menerima ponsel itu dari Zia, “Halo, kenapa Ra?” tanya Pras.
“Kak, boleh gak kau temani kak Zia untuk USG? Aku tidak bisa menemaninya karena aku harus mengerjakan tugasku. Jika dia harus pergi sendiri aku khawatir. Mau ya kak? Please!” bujuk Rasti.
Pras pun memandang Zia, “Baiklah. Tapi jika dia menyetujuinya.” Ucap Pras.
“Okay. Kalau begitu berikan ponselnya kepada kak Zia.” Ucap Rasti.
Pras pun memberikan ponsel kepada Zia. Rasti pun membujuk Zia agar mau diantar oleh Pras. Zia awalnya menolak karena dia tidak ingin merepotkan Pras. Tapi bujuk rayuan Rasti memang sangat kuat hingga Zia pun akhirnya menyetujuinya.
***
“Maaf tuan, merepotkan anda.” Ucap Zia begitu mereka dimobil.
“Gak apa-apa kok. Gak repot. Ohiya, panggil saja Pras. Karena kita tidak sedang dalam lingkungan pekerjaan.” Ucap Pras.
“Ah, itu. Saya gak enak tuan.” Ucap Zia.
“Jangan merasa gak enak. Saya gak masalah kok, panggil saja Pras.” Ucap Pras.
“Hmm,, bagaimana dengan kak Pras? Apa itu bisa?” tanya Zia hati-hati.
“Emm,, boleh juga. Kau boleh memanggil seperti itu.” Jawab Pras tersenyum.
Entah kenapa hatinya menghangat saat Zia memanggilnya seperti itu.
*
*
Akhirnya Zia dan Pras bertemu juga.
*
*
Happy reading guys !!😊
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻