Cinta Tak Salah

Cinta Tak Salah
Part 172


__ADS_3

Faris pun melongo mendengarnya dan Lian yang juga di samping Faris tertawa melihatnya, “Hey bro jawab tuh pertanyaan kakak ipar.” Ucap Lian.


Faris pun tersadar, “He-eehh kakak ipar jangan menggodaku seperti itu.” ucap Faris gugup.


Pras dan Lian pun seketika tertawa hingga membuat para orang tua dan wanita mereka berbalik lalu kemudian hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan masuk ke dalam rumah itu.


“Faris, jaga adikku dengan baik.” ucap Pras menggandeng adik iparnya itu.


“Tentu saja kakak ipar tanpa kau minta aku akan menjaganya.” Balas Faris yakin hingga membuat Pras tersenyum lalu ketiganya laki-laki itu pun segera masuk menyusul semua orang yang sudah masuk ke rumah Faris dan Rasti itu.


“Ahh aku juga ingin punya rumah di sini agar bisa deketan dengan kalian. Aku iri kak Zia dan kak Rasti akan tetanggaan.” Ucap Zea sedih.


Rasti dan Zia yang memang sedang ada di samping Zea pun segera memeluknya, “Jangan sedih dong dek kamu bisa kapan aja main ke rumah kami bahkan menginap pun bisa.” Ucap Zia yang langsung di angguki oleh Rasti.

__ADS_1


“Terima kasih yaa kedua kakak baikku. Aku menyayangi kalian.” Ucap Zea.


“Kami juga menyayangimu sayang.” balas Rasti dan Zia bersamaan.


Para orang tua yang melihat anak mereka saling menyayangi pun tersenyum begitupun dengan para suami mereka yang juga melihat itu.


***


Lian dari tadi bahkan dari 5 hari yang lalu selalu menemani istrinya itu bahkan pekerjaannya dia lakukan dari rumah sakit karena dia tidak ingin meninggalkan sang istri sendiri padahal Rasti dan Zia selalu bergantian menjaga Zea.


“Aku baik-baik saja boo.” Ucap Zea menenangkan sang suami. Lian pun hanya mengangguk tapi tetap saja dia khawatir karena sebentar lagi istrinya itu akan bertaruh nyawa untuk kedua anak mereka dan juga penyakitnya.


Rasti dan Zia segera mendekati ranjang Zea, “Dek, apa ada yang kau inginkan sebelum operasi dimulai?” tanya Zia.

__ADS_1


“Aku gak ingin apapun kak, aku hanya minta jika nanti ada yang terjadi padaku maka aku mohon jagalah kedua anakku dengan baik dan kalian harus memilih anakku daripada aku jika kalian nanti dihadapkan pada pilihan itu.” jawab Zea.


“Sstt, jangan berkata begitu. Kami yakin kau dan kedua bayimu akan baik-baik saja. Jadi jangan katakan hal yang seperti itu lagi.” Ucap Rasti.


“Aku akan mengusahakannya kak. Aku juga ingin melihat mereka tumbuh.” Ucap Zea sambil mengelus perutnya.


“Kakak yakin kau pasti bisa mewujudkan harapanmu itu.” Ucap Zia.


***


Satu jam kemudian, kini Zea sudah di bawa menuju ruang operasi dan Lian pun masuk mengikutinya ke dalam. Sekitar satu jam lamanya operasi itu dilakukan dan yang terjadi tidak seperti yang mereka bayangkan bahwa mereka akan di hadapkan pada pilihan antara memilih Zea dan kedua anak mereka tapi saat operasi pengangkatan kedua bayi mereka sudah selesai dilakukan saat itulah masa panik di mulai. Zea yang selama operasi masih dalam keadaan sadar tiba-tiba kesadarannya menurun.


Lian yang melihat Zea mulai menutup matanya pun panic, “Dokter kenapa dia menutup matanya?” tanya Lian.

__ADS_1


__ADS_2