CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MAKAN MALAM BERDUA


__ADS_3

DAVIS POV


Senin ini, Daddy telah berangkat ke salah satu kantor cabangnya yang ada di Jakarta. Mommy biasanya kalau sedang di Indonesia akan memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke rumah sanak saudaranya, atau meet up sama temen-temennya. Maklumlah Mommy kan mantan model Internasional, jadi banyak menjalin banyak pertemanan.


Sedangkan aku baru sempet memindahkan foto-foto tour ke curug kala itu dari kamera ke laptop. Aku pilih sebagian untuk selanjutnya kuposting ke blog ku. Mataku terbelalak saat aku menemukan foto yang unik namun kuingat kalau foto itu bukan aku yang mengambilnya. Foto yang menampilkan wajah Narita dari samping saat dia menatapku, saat aku sedang asyik berenang di air. Tak kusadari ternyata dia bisa juga menatapku dengan lekat seperti ini. Aku tersenyum, lalu kuambil ponselku, kukirim pesan kepadanya.


Aku : Sudah di kantorkah?


Kutunggu 1 menit, 2 menit, 5 menit, belum dia baca pesanku. Kembali ku pilih-pilih foto yang akan kuposting.


Tling.


Ponselku berbunyi dan segera kuraih.


Dia membalas pesanku.


Senyum merekah di bibirku, melihat nama seseorang yang mengirimkanku pesan.


Jantungku berdebar sedikit kencang.


Narita : Sorry 🙇‍♀️ tadi lagi di jalan.


(Disertai foto ruangannya)


Aku : Sudah sarapankah?


Narita : Sudah. Kamu?


Aku : Sudah. Sarapan apa?


Narita : Aku masak nasi goreng seafood


Aku : Mau dong dimasakin nasi goreng seafood! 🤩


Narita : Oke, kabarin aja kalau mau main. Nanti aku masakin yaa…👌


Aku : See u soon. Met kerja 😘


Narita : Study hard, Boy!


Aku : 👌


Kembali aku fokus pada laptopku dan blog ku. Ada rasa bahagia meski hanya berbalas pesan dengannya.


NARITA POV


Baru kali ini dia berkirim pesan basa basi gini. Aku seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri membaca pesan-pesannya. Ah, ni si Boy pake acara emoticon cium segala.


Dasar bocil -batinku


Lalu setelah dia mengakhiri pesannya, aku kembali fokus pada kerjaanku.


Jam menunjukkan pukul 12.10.


Tling


Ada pesan masuk ke ponselku, seketika aku melirik ke arah ponselku.


Kulihat nama pengirim pesan.


Lalu aku tersenyum dan segera kuraih ponselku.


Davis : Ishoma 😇

__ADS_1


Aku : Iya nie lagi siap-siap keluar makan siang bareng Mbak Sriti. Lagi ngapain?


Davis : Siap-siap bimbel


Aku : 👍 semangat belajar, Boy!


Davis : Pulang kantor jam berapa?


Aku : 17.00


Davis : Ok. See u later 😉


Aku : 🖐️


Mbak Sriti dan beberapa temen lain sudah memanggilku untuk mengajakku maksibar aka makan siang bareng. Aku masih tersenyum sembari memasukkan ponselku ke dalam tas kecil, lalu beranjak untuk mendekat ke mereka.


 


DAVIS POV


Selesai bimbel, segera kumasukkan buku-bukuku ke tas ranselku.


“Buru-buru amat Bro, mau kemana?” tanya Bagas melihatku nampak tergesa-gesa membereskan buku-bukuku.


“Ada perlu, gue duluan Bro” segera aku berdiri dan menepuk pundak Bagas dan Aldi bergantian, lalu berlalu keluar ruangan.


Sesampainya di parkiran motor, segera aku memakai helm dan bersiap menaiki motorku. (Kala itu ponsel belum dilengkapi GPS, jadi aku hanya mengandalkan ingatanku menuju ke tempat yang kutuju). Sesampainya di depan gerbang kantornya, aku mematikan mesin motorku dan masih duduk di atas motorku, menunggunya keluar.


Kulihat dia dari kejauhan, dia keluar gedung bersama teman perempuannya. Senyum manis itu….Ya senyum manis itu yang membuatku ingin selalu melihatnya lagi dan lagi.


Dia mendekat ke arah gerbang tempatku berada, tapi sepertinya dia tak menyadari ada aku. Ya, karena aku masih memakai helm, kacamata, dan masker.


Aku turun dari motorku dan “Surprise!!!!!!!” teriakku, sesaat setelah dia ada di dekatku.


“Kamu?” ekspresi terkejutnya.


“Ayo!” kuambilkan helm dan kuulurkan kepadanya. Dia menerima dan memakai helm pemberianku, lalu naik ke atas motorku.


Ketika dia sudah duduk manis di atas motorku, “Ehem….ehem….berlanjut nie” tiba-tiba suara Mbak Sriti mengejutkan kami berdua. Kami pun spontan menoleh ke arah Mbak Sri. Kulihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah berkata, ini gak seperti apa yang kamu pikirkan Mbak.


Mbak Sri mendekat padanya dan menepuk pundaknya, lalu menoleh pada ku dan berkata “Ati-ati Vis, anter sampai kosnya dengan selamat ya!” pintanya.


“OK” jawabku singkat.


Lalu aku menyalakan mesin motorku, dan berlalu dari sana.


Sesampainya di gerbang kos, dia segera turun dari motorku, membuka gerbang lalu mempersilahkan aku dan motorku masuk gerbang.


“Jadi kamu mau kubikinin nasi goreng seafood sekarang?” tanya nya setelah dia membuka helm yang dipakenya dan menyerahkannya padaku.


“Kalau tidak merepotkanmu” jawabku singkat dengan senyum malu-malu.


“Ayo masuk sekalian ke dapur aja, tunggu di sana aja!” ajaknya, lalu aku mengikutinya masuk. Dia belok ke kanan untuk masuk kamarnya, sedangkan aku lanjut ke dapur setelah dia menunjuk arah dapur yang terletak di bagian paling belakang bangunan itu.


Aku masih berdiri memperhatikan suasana dapur dan sekitarnya. Nyaman juga kosannya. Dapurnya terbuka dan ada taman terbuka hijau. Sejuk meski cuaca panas, hawa masakan juga langsung keluar bercampur dengan udara bebas. Di dapur itu terdapat bangku kayu panjang, sepertinya itu biasa dipake untuk siapapun yang sedang mengantri untuk masak sembari mengiris sayur dan bumbu-bumbunya.


Kulihat dia kerepotan membawa beberapa bahan masakan, lalu dia letakkan di bangku kayu itu.


Aku duduk di bangku itu dan memperhatikannya yang mulai sibuk mengupas, mencuci, mengiris, dan bahkan ada sebagian bahan yang ditumbuknya.


Sesekali kami bercerita hal-hal yang gak penting tapi seru saat dia yang menceritakannya.


“Apa makanan favoritmu, Vis?” tanyanya sembari mulai menumis.

__ADS_1


“Pecel lele” jawabku singkat dan sesekali membantunya meratakan tumisannya, ketika dia sedang mengerjakan yang lainnya, pikirku takut gosong aja.


“Kalau Kakak?” tanyaku lagi.


“Aku suka bakso, tapi aku gak bisa masak bakso, hehehhe” jawabnya membuat kami berdua tertawa terkekeh.


Aroma bumbu, seafood, dan telur oreknya menyeruak membuatku makin lapar. Sesaat setelah itu, masakannya matang. Dia mengambil semua nasgornya ke dua buah piring, lalu dia mencuci peralatan masaknya.


“Vis, minta tolong ini bawa ke teras depan ya, kita makan di sana aja”


“Aku ambil minum dulu” pintanya sembari menyerahkan 2 buah piring isi nargor kepadaku.


“Oke” jawabku sembari menerima kedua piring itu dan berniat pergi meninggalkannya untuk ke teras depan.


“Kamu makan duluan ya Vis, aku mau sholat dulu” kata dia lagi yang langsung menghentikan langkahku sesaat. Aku pun mengganggukkan kepalaku.


Memang seusai masakannya matang, terdengar Adzan Maghrib berkumandang.


Akhirnya kami berdua pun mengakhiri pertemuan malam itu dengan memakan masakan nasgor seafood buatannya yang menurutku uenakkk pake banget. Baru kali ini aku merasakan nasgor yang pas di lidahku.


Malam itu, waktu menunjukkan pukul 21.15 aku sampai rumah.


“Baru pulang, Vis?”


“Bimbelnya sampai malam?” Mommy ku melihatku dengan curiga.


“Tadi habis bimbel, mampir ke rumah temen Mom” jawabku.


“Tadi Alin ke sini nyariin kamu, tadi katanya mau nelpon kamu?” mendengar pertanyaan Mommy, langsung kubuka ranselku dan kucari ponselku. Baru aku sadari ada pesan masuk dan beberapa kali Alin menelponku.


“Hehehhe, aku baru liat Mom” jawabku senyum-senyum sembari menunjukkan ponselku ke Mommy.


“Ngapain aja sie emangnya? Sampe gak sempet buka ponsel?” tanya Mommy ketus.


“Makan aja kok Mom” jawabku masih sambil menatap ponselku dan membaca pesan-pesan dari Alin.


“Davis masuk kamar dulu ya Mom, capek” Mommy mengangguk dan menepuk pundakku, lalu aku berlalu masuk ke kamar.


Sesampainya di kamar, segera kutelpon Alin. Lalu dia mulai bercerita, dan aku hanya mendengarkan dan sesekali menanggapinya.


Setelah Alin tutup telponnya, aku beranjak ke toilet untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, kuraih kembali ponselku dan berkirim pesan ke Narita.


Aku : Aku sudah sampai rumah dengan selamat.


Narita : Alhamdullillah


Aku : Terimakasih Nasgornya 😚


Narita : Udah berapa kali tadi kamu ngucapinnya. Sama-sama.


Aku : Ini lagi ngapain?


Narita : Udah bersiap masuk selimut


Aku : Good night, have a nice dream 😘


Narita : Have a nice dream too. Jangan lupa berdoa ya.


Aku : 👌


Pesan berakhir, aku kembali tersenyum sembari kuletakkan ponselku. Kurebahkan tubuhku di kasur, kutarik selimut, kumatikan lampu kamar melalui remote control. Dan memejamkan mata.


Namun entah mengapa, saat kupejamkan mataku, bayang-bayang kenangan kami tadi selalu menari-nari di otakku. Ada apa dengan otak dan hatiku? Kenapa aku tidak tenang memikirkannya. Rasanya pengen segera bertemu dengannya lagi.

__ADS_1


Lalu kualihkan perhatianku dengan mulai menghafal beberapa rumus pelajaran yang tadi aku dapat dari bimbelku. Lama-lama aku tak sadarkan diri, dan tertidur lelap.


__ADS_2