CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MAUKAH KAU MENJADI MENANTUKU?


__ADS_3

NARITA POV


 


--- kampus ---


Hari ini acara ku cukup banyak. Tadi sampai kampus langsung menghadiri presentasi proposal riset teman seangkatan. Setelah itu menemui Professor Stanly dan Mark untuk membahas presentasi proposal risetku yang sudah dijadwalkan minggu depan. Cukup lelah memang, karena tak mudah untuk menemui kedua professor itu di hari yang sama, ditambah sudah musimnya presentasi proposal.


Aku sedang menunggu di depan kelas tempat Prof Stanly mengajar. Cukup lama aku menunggunya, akhirnya pintu kelas dibuka. Ada rasa lega yang membuncah ketika Prof Stanly keluar dari pintu itu.


“Prof,,,” aku mendekatinya dan hendak mengatakan sesuatu namun segera dia menyela.


“Langsung ke ruanganku, Na! Aku sudah janjian dengan prof Mark di sana!” ucapnya sembari berjalan cepat melaluiku.


Dengan langkah lebar dan cepat aku berusaha mengikutinya. Meskipun aku sudah berlari karena mengejarnya yang berjalan cepat, namun nyatanya tak mampu mensejajarkan posisi kami. Badanku yang kecil, kakiku yang pendek, ditambah tas ranselku yang cukup berat membuatku sampai terengah-engah mengikuti jalan cepatnya Prof Stanly.


“Sini kubawain!” tiba-tiba seseorang dari arah belakang merebut tas ransel yang kubawa dengan sebelah bahuku. Karena kekuatannya merebut, dengan secepat kilat tas itu telah berpindah ke tangannya. Aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum dengan sesekali membetulkan posisi tasku yang dipakai di punggungnya. Dia mengikuti langkah cepatku juga.


“Ngapain kamu di sini?” tanyaku masih sama-sama jalan cepat, namun dia hanya tersenyum tak menjawab pertanyaanku.


Aku pun akhirnya lebih memilih diam, karena aku lebih memilih menyimpan tenaga dan nafasku untuk berjalan cepat mengejar Prof Stanly.


Sesampainya di depan ruangan Prof Stanly, dia buka pintu itu dan menoleh ke belakang “Ayo masuk!”, aku menjawab dengan anggukan kepala, lalu dengan hanya gerakan satu tangan aku meminta tasku kembali, dan Ali pun menyerahkan tasnya.


“Makasih ya. Aku masuk dulu!” aku mengambil tasku dari tangannya, tersenyum, lalu berlalu meninggalkannya yang terpaku di tempat.


Di dalam ruangan Prof Stanly, kami berdua berdiskusi mengenai risetku, tak berapa lama Prof Mark masuk ruangan dan kami pun lanjut diskusinya. Jikalau aku tak memiliki hubungan baik dengan mereka, mana mungkin aku akan mendapatkan perlakuan istimewa seperti sekarang ini. Bisa langsung berkonsultasi dengan kedua professor di tempat dan waktu yang bersamaan. Itulah sebabnya aku selalu menjaga hubungan baik dengan keduanya.


Dalam waktu kurang lebih dua jam, kami pun selesai membahas mengenai risetku sekaligus beberapa rencana lanjutan pengambilan data untuk riset kedua Professorku itu. Aku pun berpamitan terlebih dahulu. Setelah aku keluar dan menutup kembali pintu ruang kerja Prof Stanly perlahan, tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku “Sudah selesai, Na?”


Segera aku menoleh ke sumber suara, mataku melotot melihat dia masih di sana.

__ADS_1


“Kok kamu masih di sini?” tanyaku heran. Kulihat dia salah tingkah, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum nyengir.


“Habis ini mau ke mana?” tangannya bergerak cepat meraih ransel yang masih sangat kerepotan kubawa, dia tidak menjawab pertanyaanku malah menanyakan hal lain.


“Aku capek, laper, pengen makan, tapi udah gak kuat kalau makan di rumah” kami pun jalan bersisihan dengan dia menggendong ranselku di punggungnya. Sesekali aku memperhatikan punggungnya yang membawa beban berat ransel itu, kasian dan sungkan rasanya merepotkannya.


“Makan di café Alfabeth, mau?” kujawab dengan anggukan kepala dan senyum lemah tanda capek.


Sesampainya di sana, kami mencari tempat dengan posisi dan tempat duduk paling nyaman. Ali meletakkan ranselku dan bumbag nya di kursi kosong di sebelahnya. Tak berapa lama, pelayan datang dan mencatat pesanan kami.


Saat kami tengah menunggu makanan datang, Ali ijin menyingkir untuk menerima panggilan telepon. Aku pun mempersilahkannya. Dia menjauh dan berada di pojok ruangan. Sesekali dia membalikkan badannya tapi sesekali dia menoleh padaku dan melempar senyuman. Tak berapa lama, dia menutup teleponnya dan kembali ke tempat duduknya.


“Sorry, nunggu lama” basa-basinya lalu menyeruput orange juss pesanannya yang telah datang.


“Ahh gak kok” jawabku sembari memperhatikannya yang masih sibuk mengamati ponselnya, sepertinya dia sedang membalas pesan.


“Kalau kamu sibuk, gakpapa aku sendiri, Al!” lanjutku ketika dia masih fokus menatap ponselnya dengan dahi berkerut seolah ada hal penting yang hendak dilakukannya.


“Gak ada, tenang aja Na” kepalanya mendongak dan melihatku sementara itu ponsel segera dia letakkan di atas meja.


 


10 menit kemudian


“Jadi ini pacarmu Al?” suara seseorang sontak mengagetkan kami yang sedang makan. Seorang wanita paruh baya, mengenakan jilbab besar, gamis besar berwarna serba gelap. Wajah khas timur tengah, kulit putih, hidung mancung, bibir sedikit tebal, alis tebal dengan wajah sedikit tirus kini tengah berdiri di dekat meja kami dengan tersenyum ramah.


Ali langsung berdiri dan aku yang menatap bergantian pada keduanya akhirnya ikut berdiri. Aku hanya ingin sama-sama menghormati seperti halnya Ali yang berdiri hendak menghormati wanita itu.


“Mam,,,ka ka kapan sampai?” Ali menatap lekat wanita itu dan berkata dengan sedikit gugup.


Aku masih diam mengamati interaksi keduanya. Sesekali wanita itu menoleh padaku, melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala, tersenyum, lalu melipat tangannya di depan dada. Mereka berbicara dengan bahasa Arab jadi aku sama sekali tak memahami apa yang tengah mereka bicarakan.

__ADS_1


“Kamu tak ingin mengenalkannya dengan Mam?” dia menatap aku dan Ali bergantian, lalu atas inisiatifnya sendiri, dia mendudukkan badannya di kursi sampingku.


“Mam, mam salah paham” melihat wanita paruh baya itu duduk, Ali ikut duduk dan aku pun mengikutinya. Masih belum bisa kutebak hal apakah yang membuat suasana menjadi kaku begini.


“Hai, perkenalkan aku Mama nya Ali!” ucap wanita paru baya itu dengan mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan denganku, kali ini aku mengerti yang diucapkannya karena dia menggunakan bahasa Inggris. Aku menyambut uluran tangannya lalu membalas senyuman ramahnya dengan senyuman dengan anggukan kepala pelan tanda hormat sembari berkata “Saya Narita, teman Ali”


“Mam….” Ali hendak protes tapi tangan kanan mamanya diangkat mengisyaratkan Ali untuk diam, tatapan mata masih lekat menatapku.


Bener-bener aku tidak paham situasi ini, kenapa Mama Ali menatapku seperti ini. Aku jadi salah tingkah sendiri.


“Mama senang Ali bergaul dengan teman yang tepat” ucapnya sembari membetulkan posisi jilbabku di bagian lengan yang sedikit terlipat.


“Terima kasih” ucapku pelan karena merasa canggung diperlakukan seperti ini. Dia sama sekali belum memutus tatapannya dan aku sesekali menundukkan kepala, namun saat kembali mengangkat kepala dan menoleh padanya, ternyata dia masih menatapku dengan senyuman yang selalu merekah.


“Aku menyukainya, mama merestui!” ucapan mama Ali kembali menggunakan Bahasa Arab.


“Mam..” Ali sedikit berteriak. Sepertinya apa yang diucapkan mamanya barusan yang membuat Ali berteriak menyebut mamanya. Aku masih terdiam, mencuri pandang ke keduanya lalu pelan-pelan tangan kananku meraih gelas juss di meja lalu menyeruputnya hingga tandas, hingga tanpa sadar menimbulkan bunyi.


Srroooott,,,,srooottt


Keduanya langsung menoleh dan menatapku dengan tatapan tajam. Duh kenapa aku jadi berada di situasi menegangkan seperti ini sie? Apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan?


“Al, kalau kamu menyukainya, mama setuju!” mama Ali menoleh pada Ali dengan tatapan lembut.


“Tapi dia menolakku” wajah Ali tertunduk lesu.


“Whattt?” teriak mama Ali.


Aku yang plonga plongo menatap mereka bergantian yang sedang berbincang dengan bahasa yang tak bisa kumengerti, ikut kaget ketika mama Ali berteriak. Ingin hati beranjak dan pergi dari sini, tapi kok sungkan ngomongnya ya…


“Narita, apakah kamu mau menjadi menantu tante? Istri Ali?”

__ADS_1


“Whaattt!” mendengar pertanyaan mama Ali, sontak aku berteriak.


Apaaaa? Istri??? Maksudnya apa ini???


__ADS_2