
DAVIS POV
Rio sudah masuk ke ruanganku dan kembali menginformasikan bahwa sesi pemotretan telah siap. Aku dan Rio menuju ke aula besar lantai 2. Sesampainya di depan aula, sudah berdiri banyak para petinggi perusahaan. Mereka membungkukkan kepala tanda memberi hormat padaku, aku hanya berlalu melewati mereka.
Mereka mengikutiku sampai di dalam aula. Lalu seseorang dari tim kreatif perusahaan iklan menyapaku.
“Selamat pagi Mr. Dav!” sapanya seraya tersenyum.
“Pagi. Apa yang harus aku lakukan?” aku menjawab salam dan bertanya dengan tampang datar. Aku sudah benar-benar badmood.
“Mr. Dav, kami meminta Mr untuk mengganti pakaian yang sudah disiapkan pak Rio” jawabnya lalu Rio membawakanku pakaian yang senada dengan gaun Alin. Aku meliriknya sekilas karena kulihat warna baju kami nampak senada.
Aku pun berlalu untuk berganti baju. Usai ganti baju, aku diminta segera di tempat yang telah siap untuk diambil gambar. Sementara itu para petinggi yang tadi di dalam aula tengah melihatku. Aku serasa menjadi tontonan buat mereka. Kalau aku berpose dengan istriku, dengan senang hati akan aku lakukan, namun kalau tidak, aku merasa kurang nyaman.
“Tolong bagi yang tidak berkepentingan, keluar dari ruangan ini!” perintahku tegas membuat mereka balik badan teratur untuk keluar.
“Rio, kamu jaga di luar! Aku tidak mau sembarangan orang menonton pemotretan ini!” lanjutku memberi perintah pada Rio.
“Baik, Mr” jawab Rio lalu pergi.
Background berupa gambar rumah 4 dimensi telah dibuat sedemikian rupa agar memberi kesan seperti kenyataannya. Beberapa view pemandangan yang memang nantinya akan dibuat di perumahan, benar-benar terpampang seolah kami sedang berada di lokasi.
“Mr, di sini, terus Kak Alin di sini, nanti Kak Alin kedua tangannya memegang stroller sedangkan Mr. Dav nanti menggendong si cantik Alifa dengan 1 tangan turut memegang stroller” Sutradara memberi arahan gaya.
Seorang anak kecil laki-laki berumur sekitar 8 bulan tengah berada di dalam stroller, sedangkan anak kecil perempuan yang berumur sekitar 2 tahun tengah berdiri di sampingku. Keduanya berwajah bule. Aku tersenyum gemas pada keduanya. Arahan sutradara tak begitu aku perhatikan, aku malah asyik bercanda dengan si kecil dan si cantik secara bergantian.
Sutradara dan kru yang memperhatikan betapa aku yang tadinya memasang tampang serius, garang, dan angkuh tiba-tiba bersikap sangat ramah, ceria, tersenyum, bahkan sesekali tertawa lebar pada anak-anak, membuat mereka beberapa kali menjepretkan kameranya ke arah kami. Aku tak begitu memedulikan bagaimana posisi Alin saat ini. Yang aku rasakan, mereka mengambil gambarku secara candid.
Setelah aku puas becanda dengan keduanya, dengan masih diiringi ketawa kecil, si cantik langsung aku gendong. Kulihat Alin mulai mengubah posisinya sesuai arahan sutradara. Kami dari sejak bertemu di aula sama sekali tak bertegur sapa. Namun kulirik beberapa kali sepertinya dia pandai berakting juga.
“Mr, tolong tersenyum seperti tadi!” instruksi sutradara.
__ADS_1
Meskipun pemotretan bukan hal yang baru buatku, tapi aku selalu merasa canggung melakukannya. Aku merasa tidak nyaman dengan sorotan kamera, beberapa pasang mata yang mengamati, mengkritik, lalu memuji atau mencibir, dan sebagainya. Ditambah lagi bila harus berpose dengan seseorang yang membuat tak nyaman, seolah kami disuruh berpura-pura bahagia padahal kenyataannya tidak.
Beberapa arahan gaya, diubah-ubah sudut view, telah aku dan Alin ikuti dengan patuh. Dengan adanya si cantik dan si kecil mampu mengalihkan ketidaknyamananku berada di samping Alin.
“Oke sip. Bagus”
“Saling berpandangan!”
“Tangan kanan merangkul”
“Badan keduanya menyamping, wajah Mr. Dav menoleh ke si cantik, Kak Alin menatap Mr Dav!”
Arahan demi arahan, telah kami ikuti.
“Yak untuk berempat di background ini cukup. Sekarang berdua!”
Beberapa orang mulai mendorong stroller dan mengambil si cantik dari gendonganku. Aku mulai merasa mati gaya ketika diminta berpose hanya berdua dengan Alin. Namun Alin justru sebaliknya, dia begitu luwes mengikuti arahan pose demi pose.
Saat aku tengah konsentrasi berpose, dari kejauhan aku melihat Narita dan Daniel sedang berbincang cukup intim. Bahkan kalau dilihat dari sisiku, seolah sebagian badan Daniel tengah menempel pada punggung Narita.
Aku yang awalnya bisa mengikuti arahan, tiba-tiba mataku tak bisa lepas dari memandang mereka. Ada pertanyaan di benakku, untuk apa Narita datang ke sini? Apa Daniel yang mengajaknya? Apa Daniel ingin menunjukkan bahwa dia juga masih bisa mendekati Narita? Lalu kenapa Narita berdiri dekat sekali dengan Daniel?
“Mr,,,,Mr,,,,Mr,,,,” Sutradara memanggilku berkali-kali dan aku baru menyadarinya.
“Hmmm, iyaa, kenapa?” jawabku.
“Tolong ikuti arahan saya, Mr!” ucap sutradara.
“Bisa, aku minta istirahat dulu?” Kulihat Rio tengah mendekatiku.
“Kita istirahat dulu!” ucap Rio pada Sutradara seraya memberiku air mineral, lalu aku pun keluar dari tempat foto.
__ADS_1
“Vis, mau ke mana?” Alin mengejarku yang tengah berjalan cukup cepat mendekati Narita. Aku tak mempedulikan pertanyaannya.
“Ngapain kamu di sini!” ucapku cukup keras saat aku telah berada di dekat mereka. Daniel dan Narita yang tengah berbincang serius, kaget.
NARITA POV
Aku yang tengah berdebat dengan Daniel tiba-tiba dikagetkan oleh suara berat seseorang yang cukup keras. Aku yang saat itu posisi membelakangi sumber suara, langsung balik badan, dan kulihat suamiku tengah marah.
“Mr…” serempak aku dan Daniel menyebut ‘Mr’ ke Davis.
“Ngapain kamu di sini!” Davis mengulangi pertanyaannya lagi dengan menatapku tajam.
“Saya yang mengajaknya, Mr!” jawab Daniel.
“Aku tidak suka pemotretan ini jadi bahan tontonan orang yang tidak berkepentingan!” ucapnya tegas.
“Rio, kenapa dia bisa masuk?” Davis menunjuk padaku.
“Maaf Mr, saya tadi ke toilet sebentar” jawab Rio.
“Maaf, Mr. Saya sengaja mengajak Narita bukan sekedar menonton pemotretan, tapi saya bisa berdiskusi dengannya mengenai hasil gambarnya.” Daniel memberi alasan.
“Kamu bisa mengajak manajermu, Niel! Bukan dia!” Davis melirikku tajam.
Aku yang menjadi bahan perdebatan mereka, merasa jengah dengan situasi ini. Kenapa Davis bisa begitu marah padaku? Harusnya aku yang marah ketika dia tak pernah bilang bahwa dia menjadi model iklan berpasangan dengan Alin. Harusnya aku yang marah ketika dia mengikuti begitu saja arahan gaya untuk berpose mesra dengan Alin. Harusnya aku yang geram ketika dia tiba-tiba nunjuk-nunjuk aku seolah dia tidak terima aku melihat dia bermesraan dengan Alin.
Sebelum menikah bahkan Davis tak pernah berbuat seperti ini. Kenapa sekarang jadi keliatan aslinya, jadi suka marah-marah, egois, sok paling benar.
__ADS_1
Astaghfirullahaladzim --- aku mengucapkannya dalam hati seraya menenangkan hati dan pikiranku yang sedang panas.