
AUTHOR POV
--- Kantor Dave---
Di ruang kerjanya, Dave tengah disibukkan dengan kerjaan sehari-hari Beberapa berkas harus segera diperiksa dan selanjutnya ditandatangani jika tidak ada perubahan. Selain itu, Dave juga harus memeriksa beberapa laporan proyek yang telah terangkum dalam sebuah aplikasi. Di era digital seperti sekarang ini, sangat membantu dalam proses marketing, promosi melalui media sosial, maupun digitalisasi dalam proses perberkasan sebuah rencana proyek sampai dengan tahap laporan proyek. Semua sistem telah berjalan dengan teratur tinggal bagaimana orang-orang di dalamnya mengawasi sistemnya, mengembangkan, serta membuat suatu inovasi demi tercapainya target-target yang ditetapkan.
Karena kesibukannya, Dave dapat mengalihkan perhatiannya dari yang sebelumnya mengurusi masalah pengobatan Rafina dan Davis ke pekerjaan. Dia pun akhirnya dapat bernafas dengan lega ketika dokter mengabarkan bahwa golongan darah Davis sangat cocok dengan Rafina sehingga Rafina dapat segera mendapatkan darah yang saat ini sangat dibutuhkannya.
Acara konferensi pers pun berjalan dengan lancar, meskipun acara lamarannya gagal total. Publik sudah tidak menjudge dirinya sebagai pengusaha yang hanya mengutamakan azaz manfaat demi mencapai tujuannya. Masyarakat menjadi tau, apa permasalahan sebenarnya yang terjadi.
Situasi kantor sudah kembali kondusif. Sudah tidak ada lagi para pencari berita yang beberapa hari terakhir ini memenuhi lobby kantor. Para karyawan sudah bisa berkerja dengan tenang dan fokus.
Sesekali Davis masih memikirkan rencana proyek yang ternyata gagal. Dia harus memiliki rencana cadangan sebagai sebuah strategi. Meski dia menduduki puncak pimpinan tertinggi di OXC benua Australia, tapi justru ini tanggung jawab besar yang harus dia pikul. Dia selalu ingin membuktikan bahwa meskipun ini perusahaan keluarga yang telah dijual sahamnya secara bebas, tapi bukan berarti dia yang memegang tampuk puncak pimpinan hanya berstatus anggota keluarga pemilik saham terbesar saja tapi juga memiliki kompetensi yang patut untuk diperhitungkan. Sungguh sangat sulit untuk mempertahankan sebuah kesuksesan daripada membangun kesuksesan itu sendiri.
Hari ini Dave memiliki rencana sepulang kerja langsung ke rumah sakit. Informasi dari dokter tadi siang bahwa Davis sudah diambil darahnya dan sudah mulai diberikan kepada Rafina. Sepanjang perjalanan, Davis tidak pernah bisa tenang memikirkan bagaimana efek dari pendonoran darah ini, mengingat dia membaca di beberapa literatur, ada efek sampingnya.
Berulang kali dia mengedarkan pandangan ke jendela samping, lalu menatap ponselnya, begitu terus berulang kali. Entahlah apa yang dikhawatirkannya.
Teddy yang duduk di kursi depan samping sopir, sempat beberapa kali melirik pada spion. Dia tau kalau tuannya itu sedang gelisah.
Perjalanan dari kantor menuju rumah sakit hanya memakan waktu 1 jam saja. Sekarang waktu menunjukkan pukul 21.00, perkiraan Dave kemungkinan Rafina sudah tidur. Dia sudah dapat menebak mungkin malam ini yang kebagian giliran menunggui Rafina adalah Arjuna. Seperti hari-hari sebelumnya, Narita dan kedua orang tuanya akan menunggui di siang hari, sedangkan malam harinya bergantian dengan Arjuna.
Meskipun tau belum tentu bisa mengobrol dengan Rafina atau Narita, tapi bagi Dave melihat kondisi Rafina adalah hal yang melegakan untuknya.
Kini Dave telah melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit. Tidak ada istilah jam besuk bagi pemegang saham terbesar rumah sakit ini. Dia pun tadi sempat membeli beberapa makanan untuk dibawa ke sana.
Setelah sampai di depan pintu kamar, dari kaca kecil yang menampakkan suasana di dalam ruangan, cahaya remang-remang, Dave meyakini semua sudah istirahat. Ya memang di kamar VVIP ini dapat diatur pencahayaannya sesuai dengan selera. Bagi yang tidak menyukai terang, lampu dapat diatur remang-remang agar dapat beristirahat lebih tenang.
Perlahan, Dave memegang knop pintu lalu mendorongnya ke dalam. Dia sengaja membuka pintu perlahan karena tidak ingin mengganggu mereka yang sedang beristirahat. Dia hanya ingin memastikan Rafina baik-baik saja.
__ADS_1
Namun alangkah terkejutnya Dave ketika dia mendapati suara dua orang yang sangat dikenalnya tengah berbicang perlahan di sana. Begitu pun halnya dengan kedua orang yang sedang bercengkerama melepas kerinduan itu pun nampak terkejut ketika tiba-tiba cahaya masuk bersamaan dengan terbukanya pintu secara tiba-tiba.
Awalnya posisi mereka yang saling merangkul dalam posisi sedikit rebahan, kini mereka telah duduk dengan tegak.
Di bawah cahaya remang-remang, ketiga orang yang saat ini tengah saling menatap tajam dalam diam, seolah memancarkan suatu kemarahan yang tak bisa diungkapkan.
Melihat siapa dua orang yang posisinya saling menempel ketat meskipun posisi sama-sama duduk, Dave mengepalkan tangannya, matanya tidak melotot tapi terlihat tegas, tajam, dan seolah bisa mematikan bagi siapa saja yang bersitatap dengannya.
Sementara itu, dua orang yang menyadari kehadiran seseorang yang sangat mereka kenal itu mendapati mereka dengan posisi yang sangat mesra, hanya bisa terdiam terpaku. Mereka seolah kedapatan sedang berselingkuh oleh pasangannya.
Dalam beberapa menit lamanya, mereka bertiga tidak mengeluarkan suara, tidak bergerak, namun seolah saling membunuh hanya dengan tatapan mata.
Hingga akhirnya Narita pun memberanikan diri untuk membuka suara “Permisi,,,,” Narita hanya meminta ijin untuk berdiri lalu menyalakan lampu.
Setelah lampu menyala dan ruangan kembali menjadi terang, Dave mendudukkan diri di sofa seberang tempat duduk mereka berdua lalu mencoba membuka makanan yang sudah dia bawa. Yang terdengar saat ini hanya suara kertas dari pembungkus makanan itu.
Menyadari kemarahan dari raut muka Dave, akhirnya Narita memilih duduk di samping brankar Rafina sembari berpura-pura membenarkan posisi selimutnya dan mengecek aliran darah yang masuk.
“Kak,,,,” panggil Davis seolah tidak terjadi apa-apa.
Dave tidak menjawabnya, dia hanya menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Suasana dingin di antara hati yang memanas sangat terasa di ruangan ini. Entahlah, Davis yang mengalami amnesia sebagian, mengetahui kemarahan Dave atau tidak.
“Sejak kapan kau di sini?” Dave bertanya pada Davis tapi tatapannya masih memandang ponselnya. Dari suaranya yang berat dan tegas, dapat diartikan kalau dia tengah memendam amarah.
“Aku di sini dari tadi siang. Setelah mendonorkan darah, aku menungguinya di sini!” jawabnya dengan suara biasa, tidak ada kesan takut.
“Seharusnya kau pulang! Kau butuh istirahat Vis!”
“Bagaimana mungkin aku bisa tidur lelap di rumah, sementara anakku terbaring lemah di sini?” mendengar jawaban Davis, sontak Dave mengangkat wajahnya dan kembali menatap lekat pada Davis.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Kak, ternyata anak yang kuberikan darah adalah darah dagingku sendiri. Raffa dan Rafina adalah anak-anakku” Davis menceritakannya dengan sangat antuasias, berkebalikan dengan raut keterkejutan yang nampak di wajah Dave.
Mendengar penjelasan Davis, Dave langsung berdiri dengan kasar hingga terdengar suara kursi yang bergerak mundur dengan cukup keras. Hingga membuat Rafina sedikit menggeliat. Melihat Rafina seolah terusik dalam tidurnya, Narita kembali berusaha menenangkannya dengan menepuk-nepuk lembut di atas bahu yang tertutupi selimut tebal. Sementara itu, Davis beranjak dari duduk dan segera berlari mendekati brankar Rafina, dia memilih berdiri di samping Narita dan membelai ujung kaki Rafina yang juga tertutup selimut sambil berkata “ssstttttt…..stttttt”
Melihat pemandangan yang aneh di depan mata, Dave langsung menarik lengan Davis dan memaksanya untuk keluar. Davis pun hanya bisa menuruti tanpa melawan. Setelah keduanya keluar kamar, Narita kembali mematikan lampu, mendudukkan diri di sofa dan menghela nafas panjang.
Ya Tuhan,,,,apa yang akan terjadi?
Kami belum sempat menjelaskannya?
Apakah dia akan salah paham?
Mr. Dave, maaf……….---batin Narita berkecamuk.
------******-------
Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,
Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.
Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”
Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE
__ADS_1
Terima kasih