
DANIEL POV
Seusai dia menolak lamaranku dan mengembalikan cincin yang pernah aku berikan padanya, dia segera pergi berlalu meninggalkanku. Aku menatap kepergiannya sampai dia menghilang di balik pintu.
Meskipun aku bukan lelaki cengeng, entah dorongan rasa apa membuat beberapa tetes air mengalir dari sudut mataku. Aku tak pernah merasakan sakit yang sesakit seperti saat ini. Baru kali ini aku ditolak wanita. Bagiku ditolak sebelum memulai lebih sakit dibandingkan putus ketika sudah merasa tak sejalan.
Aku melangkah gontai keluar café. Aku duduk di kursi café yang ada di luar.
“Rokok, kak?” seorang SPG cantik menawariku rokok. Segera aku meraih rokok itu, membayar rokok beserta koreknya.
Aku yang jarang sekali merokok, entah kenapa merasakan kepulan asap rokok justru menenangkanku. Awalnya aku hanya ingin duduk sejenak di kursi luar café, ternyata tak terasa sudah hampIr 1 jam aku berada di sana. Tak putus-putusnya aku menghisap rokok dan menikmati kepulan asapnya.
Kuraih ponsel dan mulai menghubungi beberapa teman.
“Arnold, clubbing yuk!” aku mengajaknya ke club tempat biasa kami nongkrong dan dia menyetujuinya. Tak lupa aku mengajak George dan Leonardo.
Aku meninggalkan komplek apartemen Narita dengan sejuta perasaan gundah gulana. Meskipun ini belum terlalu malam, dan bahkan kami janjiannya pun baru jam 21.00, aku memilih langsung ke club. Setelah kuparkir mobil, segera aku meminta ruangan VIP atas namaku.
Aku memesan beberapa bungkus rokok dan miras. Selama waktu menunggu, aku habiskan waktu dengan merokok dan meminum pesananku.
“Daniel?!” Leonardo masuk ke ruangan VIP dengan mata menyapu isi meja yang penuh dengan beberapa botol miras yang telah kosong dan beberapa kotak bungkus rokok. Dia melihatku dengan tatapan keheranan.
“Kamu kenapa, Bro?” dia mendudukkan tubuhnya di sampingku dan menepuk pundakku, sementara aku seolah tak memperdulikan tatapan herannya dan masih berusaha menuang minuman ke gelas.
“Kamu udah mabok, Bro!” dia segera merebut gelasku yang sudah terisi miras.
“Eh aku masih sadar, Leo. Aku masih bisa mengenalimu! Hahhaha”
“Ini bukan kamu yang biasanya, Bro! Kamu kenapa?” tanyanya kemudian menenggak minuman yang sudah dia rebut.
Aku kemudian menjatuhkan tubuhku ke sandaran sofa dengan lemah dan berkata “Lamaranku ditolak!”.
Tak menunggu waktu lama, Leo langsung menyelinapkan lengannya untuk merangkul pundakku dan menepuk-nepuk bahuku seraya berkata “Mati 1 tumbuh seribu, Bro!”
“Kalau cuma nyari cewek asia, kita mah gampang, Bro. Banyak cewek-cewek cantik yang mau sama kita. Bahkan yang lebih cantik dari Narita” lanjutnya.
“Cinta gak hanya karena kecantikan fisiknya, Leo. Aku menyukainya dari sejak pertama bertemu, makin yakin bahwa perasaan ini lebih dari sekedar suka setelah mengenal kepribadiannya” kulihat Leo hanya manggut-manggut.
“Ahh, percuma mah ngomong sama buaya darat macam kamu!” Leo tergelak tawa lebar mendengar ocehanku.
“Aku belum menemukan yang cocok untuk diajak nikah, Bro. Tapi udah menemukan yang diajak ngamar, ya jangan disia-siakan dong Bro!” mendengarnya berkata begitu segera aku dorong tubuhnya.
__ADS_1
Dia kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.
Tak lama kemudian Arnold dan George datang. Mereka menyapa kami dan menikmati miras yang sudah tersaji di meja.
“Kenapa tuh?” tanya George menunjukku dengan dagunya.
“Arnold, kamu juga harus siap-siap patah hati! Narita sudah menerima pria lain!” suaraku yang cukup keras spontan membuat mereka terkaget.
“Whattt?” teriak Arnold.
“Pria lain itu, bukan kamu kan Niel?” Arnold tersenyum smirk.
“Bukan!” jawabku santai sembari terus minum.
“Terus siapa? Mr. Dav?” tanyanya kemudian.
“Bukan!” jawabku sok tau.
“Lalu siapa?” Arnold, George, dan Leo serempak.
“Mana kutahu, dia belum mau mengatakannya.” Aku menaikturunkan bahuku.
“Dari pada pusing mikiran calon istri orang, hayuklah kita minum sepuasnya!” aku mengajak mereka chears dan mereka menyambutnya.
NARITA POV
Sementara itu di tempat terpisah, Narita telah selesai mengemasi pakaiannya. Mereka ibadah berjamaah, lalu bersiap untuk meninggalkan apartemen.
Ketika mobil Alphard memasuki pintu gerbang sebuah rumah gedongan, tak henti-hentinya mataku menatap takjub pemandangan rumah besar beserta halamannya. Aku kira hanya bisa melihat rumah mewah seperti ini di layar kaca, ternyata sekarang ada di depan mataku. Bahkan sebentar lagi kami akan memasukinya.
Aku yang seorang lulusan ekonomi, langsung berhitung-hitung. Konyolnya pikiranku saat ini. Aku cuma menghitung, kalau aku mau punya rumah kaya gini, dengan gajiku seperti sekarang, aku membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memilikinya. Bahkan sampai anak cucu pun belum tentu bisa memilikinya.
Setelah mobil terparkir dengan sempurna, kami pun turun.
“Ibu sama bapak nginep di rumah ini?” aku mengedarkan pandangan penuh kekaguman pada besar, megah, dan mewahnya rumah ini. Ditambah halaman luas, asri dan terdapat taman-taman yang menambah keasriannya.
“Bahkan ini kali pertamaku menginjakkan kaki di sini!” Davis hanya tersenyum melihatku bertingkah seperti orang kampung. Dia merangkul pundakku dan membawaku ke sebuah lorong di mana di kanan kirinya terdapat kolam ikan dan beberapa tanaman rambat yang menjadi peneduh lorong ini.
“Wahhh,,, ini rumah orang tuamu, mas?” aku menatapnya namun dia segera cemberut.
“Orang tuaku kan orang tuamu juga.” Jawabnya.
__ADS_1
Setelah melewati lorong, tibalah kami di teras yang lebar dan sejuk lalu berhenti di depan pintu yang sangat lebar dan tinggi.
Davis membukakan pintu seraya berkata “Selamat datang istriku dan bapak ibu mertuaku!”
“Assalamu’alaikum” salamku memasuki rumah.
“Wa’alaikum salam” serempak mereka bertiga menjawab.
Kulihat dari jauh seorang wanita paruh baya berhijab mengenakan seragam casual menyambut kami lalu berkata “Selamat datang den Davis, bapak, ibu” dengan senyum ramahnya. Aku menganggukkan kepala tanda memberi salam perkenalan.
“Ini?” tanya nya melihatku masih dipeluk Davis.
“Istriku, bi Jah” jawab Davis tersenyum lebar.
“Owh ya den? Lalu kapan nikahnya?” dia mengernyitkan dahinya.
“Tadi di majelis taklim, bi.”
“Kenalin Sayang, ini bi Ijah, bibi yang sudah ikut keluargaku cukup lama, sedari aku masih kecil”
Aku dan bi Jah saling berjabat tangan.
“Saya Narita, bi”
"Panggil saya bi Ijah, nyonya muda"
“Selamat ya den atas pernikahannya” bi Jah kini mengulurkan tangan dan disambut Davis “Makasih bi”.
Kami pun telah disiapkan makan malam oleh bi Jah dan tak menunggu waktu lebih lama, Davis mempersilahkan kami untuk makan malam.
Seusai makan malam, Davis dan aku mendampingi bapak dan ibu untuk kembali ke kamarnya. Rumah ini besar dan banyak kamar, sehingga bapak ibu selalu takut kesasar atau salah masuk kamar. Setelah mereka memasuki kamar, kami berdua pun berjalan menyusuri lorong ruangan.
“Sayang, kamu sudah siap kan?” tanya Davis dengan mengedipkan satu matanya.
“Hah?” aku tergagap menjawabnya. Dia tertawa terbahak-bahak.
Sesampainya di sebuah pintu kamar yang tak kalah besar dengan pintu-pintu yang lain, Davis segera memegang knop dan membukanya.
“Selamat datang di kamar pengantin, Pengantin Wanitaku!” aku tak dapat menutupi wajahku yang bersemu merah karena rasa malu diperlakukan seromantis itu olehnya.
__ADS_1
----- TO BE CONTINUED -----