
AUTHOR POV
H-1 sebelum konferensi pers
Dave ditemani Teddy dan beberapa orang bodyguard naik mobil menuju ke sebuah restoran. Restoran ini sangat besar dan mewah, dengan di dalamnya banyak ruangan yang bisa disewa secara privat. Dave melangkahkan kaki dengan tegap, mata menatap lurus ke depan, di belakangnya para bodyguardnya mendampinginya dengan gegap gempita. Kedatangan Dave dan rombongannya tak begitu menyita perhatian karena memang suasana restoran yang masih sepi karena memang baru buka.
Seorang pelayan mendampingi rombongan Dave lalu membukakan pintu ketika Dave sudah sampai di ruangan yang disewanya. Dave dan Teddy memasuki ruangan itu, sementara yang lainnya duduk di kursi yang terletak di luar ruangan, mengamati dan menjaga ruangan itu dengan seksama.
Setengah jam kemudian, terdengar suara beberapa orang yang cukup riuh. Berjalanlah dengan sangat anggun seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai, rambut pirang, dan mengenakan pakaian casual. Kaos putih ketat berpadu dengan hotpants jeans warna terang dan sepatu kets putih. Rambut panjang curly blonde digerai begitu saja memancarkan kecantikan alami gadis eropa pada umumnya. Sebuah kacamata hitam bertengger di kepala sebagai penghiasnya. Langkah anggun bak model internasioal, tanpa senyum namun terkesan sangat cool dan cantik. Sementara di belakangnya beberapa orang mendampinginya. Penampilan mereka tak kalah keren dibanding para bodyguard Dave.
Pelayan mengantarkan rombongan mereka sampai depan pintu ruangan lalu membukanya. Si gadis cantik ditemani seorang laki-laki berumur paruh baya memasuki ruangan itu dengan mantapnya.
Dave yang menyadari kehadiran gadis yang ditunggunya, hanya melirik sekilas lalu melambaikan tangan pertanda mempersilahkan mereka duduk.
Dengan anggunnya si gadis duduk dan kakinya disilangkan. Beberapa kali dia mengatur rambut panjangnya ke belakang bahu. Masih tak ada senyuman di antara mereka berempat.
“Kau pasti tau kenapa tuan kami mengajakmu bertemu?” Teddy mulai buka suara.
Gadis cantik itu tersenyum sinis.
“Jika besok kau berani berkata bohong, kau akan tanggung akibatnya?” lanjut Dave menatap gadis itu tajam seolah tatapannya bisa membunuh. Namun lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum tipis.
Dengan bahasa isyarat menggunakan mukanya, Dave memerintakan Teddy. Teddy yang tau bahasa isyarat dari Dave, segera berdiri dan menghampiri gadis itu lalu menyodorkan ipadnya. Gadis itu menerima ipad itu, lalu lelaki paruh baya yang diduga adalah manajer gadis itu, turut mendekat dan melihat apa yang ada di sana.
__ADS_1
Sontak wajah mereka berdua menjadi merah padam. Beberapa kali si lelaki mengeretakkan giginya seolah tengah memendam kemaraham. Si gadis melempar tatapan sengit beberapa kali ke arah Dave dan hanya dibalas senyuman smirk oleh Dave.
Setelah itu, si gadis meletakkan ipad itu dengan kasar hingga terdengar bunyi gemletak yang cukup keras.
“Apa kalian masih berani mempermainkanku?” tanya Dave dengan senyum kemenangan.
Si gadis langsung memundurkan kursinya dengan kasar dan menimbulkan bunyi cukup keras. Dia menghentakkan kakinya lalu pergi begitu saja dari ruangan itu.
“Kau tau apa yang harus kau lakukan?! Atau kau memilih hancur reputasimu?” ucapan Dave mampu menghentikan sesaat langkah kedua orang itu. Tanpa menjawab dan bersuara apapun, keduanya lansung membuka pintu, setelah keluar, mereka tutup dengan membantingnya hingga terdengar suara yang cukup menggelegar.
Kini tinggal Dave dan Teddy di dalam ruangan.
“Anda yakin dia akan mengikuti permainan kita, tuan?” Teddy nampak sedikit gusar dengan sikap si gadis dan manajernya. Pasalnya mereka tak mengucapkan sepatah kata pun di sana.
“Dia tau posisinya. Dia tau sedang berhadapan dengan siapa. Dia tau apa yang harus dilakukannya” jawab Dave mantap.
***
Dave dan Teddy masuk ke sebuah mobil. Mereka pulang dari kantor sebelum jam pulang kantor. Teddy melajukan mobil ke sebuah tempat yang cukup jauh dari kota. Setelah perjalanan beberapa jam lamanya, akhirnya sampailah mobil di sebuah perumahan elit di pinggiran kota. Mobil telah memasuki pintu gerbang rumah mewah itu.
Setelah mobil berhenti, Dave segera melepas seat belt nya dan keluar mobil. Langkah gagahnya memasuki sebuah pintu utama rumah disambut oleh teriakan kedua anak kecil yang nampak sangat akrab dengannya.
“Uncle,,,,” Dave segera jongkok dan mensejajarkan tingginya dengan kedua anak ini. Kedua anak ini langsung mengulurkan tangan meminta pelukan hangat Dave. Dave pun menyambut pelukan mereka.
“Kami merindukanmu, uncle” sahut anak perempuan seumuran Karen, lalu pipi gembulnya dicium mesra oleh Dave.
__ADS_1
“Uncle juga merindukan kalian” jawab Dave yang secara bergantian mencium pipi kedua anak itu dan mengeratkan pelukannya.
Beberapa orang dewasa yang telah datang, mengelilingi mereka dan memperhatikan interaksi di antara mereka. Mereka tersenyum melihat keakraban di antara mereka bertiga meskipun mereka baru saling mengenal.
Dave menggendong keduanya di sebelah kanan dan kiri, lalu dia pun berdiri dan membawa mereka ke sofa di ruang tengah.
“Nak, sepertinya kau sangat capek. Sudah turunkan saja mereka!” ujar wanita paruh baya yang berjalan membuntuti Dave.
“Iya maaf bu,,kemaren saya tidak bisa ke sini karena urusan sangat banyak. Ada hal yang harus saya selesaikan. Maaf kalau membuat kalian jadi bosan” Dave segera menjawab ucapan wanita paruh baya itu, lalu dia mendudukkan diri di sofa.
Kini posisi kedua anak itu sudah duduk di pangkuan kedua paha Dave. Kedua lengan Dave memeluk erat tubuh keduanya sementara lengan kecil kedua anak itu memeluk erat tubuh Dave yang keras.
Di ruang tengah itu pula, telah duduk Teddy, wanita paruh baya, lelaki paruh baya, dan seorang lelaki muda yang seumuran dengan Davis. Mereka duduk memenuhi sofa empuk dan lebar itu. Televisi telah dinyalakan semenjak tadi tapi suaranya sengaja dikecilkan agar tidak mengganggu percakapan mereka.
“Apakah rencana Anda lancar?” tanya si pemuda itu pada Dave.
“Alhamdullillah”
“Kapan eksekusinya?” tanyanya kembali.
“Besok”
Akhirnya Dave menceritakan semua yang sudah direncanakannya pada acara besok. Dia sudah mengatur semua skenario agar apa yang direncanakan berjalan lancar. Tanpa terasa sudah 2 jam mereka mengobrol di sana. Dave pun berpamitan.
“Uncle, kapan kami bertemu Bunda?” sahut si cantik yang sudah bergelayut manja di gendongan Dave menemani Dave keluar rumah.
__ADS_1
Dave menurunkan si cantik, lalu dia berjongkok. Tangannya terulur mengusak rambut si cantik. Dia menebar senyuman setampan mungkin, lalu berkata “Sabar yaa sweety, besok kamu akan bertemu Bunda”