
NARITA POV
Setelah kalimatku mengenai keraguanku untuk memilih salah satu di antara 2 orang yang tengah melamarku. Suasana menjadi bergemuruh, tak sedikit yang berbisik-bisik. Aku pun terdiam dalam beberapa detik.
“Namun, setelah aku memasuki ruangan ini. Setelah aku melihat dia, melihat kedua orang tuaku di sini. Aku menganggap bahwa ini adalah jawaban atas doaku selama 2 minggu ini. Pak ustadz, kalau memang bisa disegerakan, kenapa harus ditunda?” lanjutku.
“Alhamdullillahhi robbil ‘alamin” semua serentak mengucapkannya, sebagai tanda lega atas jawabanku.
Kemudian pak ustadz meminta waktu untuk berdiskusi sejenak dengan timnya. Mengingat masih ada 3 pasang lagi yang harus dipertemukan, mereka harus memutuskan apakah pernikahan diadakan saat ini juga, atau menunggu ketiga pasangan dipertemukan terlebih dahulu. Namun karena pertimbangan menghormati pak penghulu yang sudah hadir, maka diputuskan untuk melangsungkan pernikahan saat ini juga.
Pak ustadz dan tim kemudian mulai mengatur posisi duduk lesehan kami di dalam ruangan itu untuk prosesi akad nikah. Selama waktu itu, aku mendekati ibuku, membawanya ke pinggiran deket tembok pintu belakang, lalu menangis dipelukannya. Setelah puas memeluknya, aku meminta ijin bu ustadzah untuk memanggilkan mbak Sriti agar masuk ke ruangan akad nikah. Bu ustadzah pun akhirnya memanggilkan mbak Sriti dan membawanya ke ruangan tempat kami berada. Ketika aku melihat mbak Sriti, langsung aku menghambur ke pelukannya. Aku memeluknya dengan erat dengan tangisan yang masih membuncah.
“Na, selamat ya. Akhirnya kamu menemukan separuh jiwamu, sebelah tulang rusukmu, belahan jiwamu, seseorang yang kamu cintai dan juga mencintaimu. Semoga kalian selalu bahagia ya, Na.” mbak Sriti menepuk-nepuk punggungku.
Mendengar kata-katanya, dahiku mengernyit, segera aku lepaskan pelukanku “Darimana mbak tau Davis mencintaiku?”
“Maafkan aku Na. Aku tak memberitahukan semua ini kepadamu. Aku dan Davis sengaja ingin memberimu kejutan yang indah. Bahkan apa yang terjadi saat ini adalah atas ideku!” mbak Sriti tersenyum jumawa.
“Hah??? Serius loe mbak??? Jadi ini semua idemu dan scenario kalian berdua?” dengan suara keras.
“Maaf Na. Aku juga terkejut ketika Davis mengatakan kalau dia seiman denganmu. Selama ini kan kamu ragu melangkah dengannya karena perbedaan, tapi begitu tau kalau tidak ada penghalang lagi, Davis juga menginginkan sesegera mungkin diberi kepastian, yah akhirnya seperti sekarang inilah!” ucap mbak Sriti.
“Ihhhh, kalian jahat yaa,,,,bikin aku shock, nervous, stress aja!”
__ADS_1
“Apalagi sama tuh anak! Awas yaaa ada balasannya nanti!” aku kemudian melirik tajam Davis, namun dianya sedang fokus dengan hal lain.
“Yah terserah kalian mah kalau itu. Toh nanti malam kan jadi malam pertama kalian ini, xixixixixixiix. Balas dendamnya yang enak-enak aja!” ucap mbak Sriti sambil cengar cengir.
“By the way, terima kasih ya, mbak. Terima kasih sudah menjadi jembatan antara aku dan dia. Terima kasih sudah memberi ide hebat ini. Terima kasih sudah membantu kami untuk bersatu. Semoga apa yang mbak Sriti lakukan kali ini akan mendapat balasan pahala yang berlimpah dari Alloh SWT” ucapku dan diaminin olehnya. Tak terasa air mata mengalir begitu derasnya, meskipun tak ada suara tangisan sama sekali.
Mbak Sriti lalu mengusap air mataku seraya berkata “Sudah jangan nangis lagi. Masa calon pengantin matanya bengkak, bedaknya luntur, jilbab berantakan gini!” dia membenarkan jilbabku.
Aku, mbak Sriti dan ibu kembali duduk lesehan di barisan paling belakang bersandar pada tembok sembari menunggu persiapan selesai.
DAVIS POV
Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah sepanjang hidupku. Hari ini aku resmi melamar seorang gadis langsung di hadapan gadis yang teramat kucintai, cinta pertamaku dan semoga menjadi cinta terakhirku, di hadapan kedua orang tuanya, di hadapan para ustadz dan ustadzah. Hari ini pula secara resmi akhirnya dia menerima pinanganku. Dan….yang teramat membuatku bahagia adalah hari ini juga dia akan resmi menjadi istriku.
Teringat akan kejadian beberapa menit yang lalu, jantungku berdebar kencang ketika aku menunggu jawaban, apakah dia mau menerima lamaranku atau tidak. Aku tidak sepenuhnya percaya diri kalau aku bakal memenangkan hatinya, karena selama ini Narita adalah sosok yang hangat namun juga teramat dingin, ramah namun juga teramat sendu, dia mampu menutupi apa yang dia rasakan dengan sangat rapat. Dia mampu membuat orang lain beropini sesuai dengan apa yang dia inginkan, meskipun itu bukanlah sesuai kenyataan. Namun justru dia yang seperti itu, membuatnya menjadi wanita istimewa. Dia mampu membuatku dan beberapa pria begitu mudahnya jatuh cinta padanya. Kami jatuh cinta padanya tidak serta merta karena fisiknya, tapi lebih kepada kepribadian dan kemampuannya menjaga dengan baik martabatnya sebagai wanita.
Lalu, ketika dia menjawab lamaranku dengan kata ‘Saya bersedia pak Ustadz’, tak bisa kugambarkan kebahagiaan yang seperti apa yang kurasakan saat itu. Rasanya aku sudah terbebas dari batu besar yang selama ini menghimpit dadaku.
Narita, I love you so much…..
I love you more and more…..
Rasanya aku ingin berteriak mengatakan itu di hadapannya. Namun kutahan karena aku menghormati tempat di mana aku berada saat ini.
__ADS_1
Ketika aku mengatakan keinginanku segera menikahinya saat ini juga, aku memang mengatakannya dengan yakin, mantap, seolah tak ada beban. Padahal di sini,,,debarannya makin kencang dan tak dapat aku kendalikan. Ditambah lagi, mendapatkan tatapan matanya yang penuh cinta, ya Tuhan,,,semakin menambah deg-degan dan kegugupanku.
Namun, lagi dan lagi ketika dia menjawab ‘kalau memang bisa disegerakan, kenapa harus ditunda’, aku ingin langsung menangis dan mengucap syukur yang tiada taranya atas apa yang terjadi hari ini. Aku berusaha menahan air mata kebahagiaan demi menjaga nama baikku di hadapan semua orang. Aku ingin nampak gagah, berwibawa, mantap, yakin, dan keren sebagai seorang lelaki yang gentleman mengajak wanitanya menikah.
Sejak tadi, kami sama sekali belum bertegur sapa. Ingin sekali aku menyapanya, namun kutahan. Sekali-kali jaim dikitlah. Tapi nanti setelah kami resmi, setelah dia halal bagiku, bakal langsung kupeluk erat dirinya dan takkan kulepaskan. Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum jahil.
Untuk mengobati rasa kangenku, sesekali aku curi pandang ke dia. Tapi ketika dia dengan sengaja curi pandang ke arahku, ‘hayooo kamu ketauan ya!’ dalam hatiku tersenyum smirk. Dia malu-malu melempar pandangan ke arah lain karena ketauan curi pandang…Ah sungguh manisnya calon istriku ini.
Aku yakin dia tak akan menyangka sebelumnya mengenai hari ini. Kejutan manis ini benar-benar membuatnya menangis. Semoga itu adalah air mata kebahagiaanmu, Sayang.
Setelah semua persiapan selesai, pak Ustadz mempersilahkan kami untuk menempati tempat duduk kami sesuai dengan arahan pak Ustadz dan timnya. Acara yang tanpa persiapan ini, tak membutuhkan susunan acara yang bertele-tele. Seusai pak Ustadz menyampaikan pembukaan, doa, dan sedikit wejangannya, ijab qabul pun dimulai.
Kami semua duduk lesehan dengan pak Bagus dan aku duduk berhadapan hanya dipisahkan sebuah meja kecil. Pak Ustadz memberi komando agar aku dan pak Bagus berjabat tangan. Kami pun dilatih mengucapkan kalimat ijab qabul.
Setelah dirasa cukup latihannya, akhirnya ijab qabul yang sebenarnya dimulai.
Pak Bagus mengucapkan bacaan Ijab:
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara/Ananda Davis Narendra Oxley bin Dawson Oxley dengan anak saya yang bernama Narita Prameswari dengan maskawinnya berupa Logam Mulia seberat 400 gram dan seperangkat perhiasan emas berlian, Tunai.”
Lalu aku mengucapkan bacaan Kabul:
Saya terima nikahnya dan kawinnya Narita Prameswari binti Bagus Permana dengan maskawinnya yang tersebut, Tunai.
__ADS_1
---- TO BE CONTINUED ----