
Setengah jam setelah jam pulang kantor, tiba-tiba asisten Daniel mendatangi mejaku.
“Bu Na, saya diminta Mr. Daniel untuk menjemput ibu!” aku mengernyitkan dahiku menandakan kebingunganku.
“Maksud saya, saya minta kunci mobil ibu, untuk selanjutnya saya bawa mobil ibu ke lobby. Mr. Daniel sudah menunggu ibu di depan lobby. Jadi Mr. Daniel nanti yang akan menyetir sendiri mobil ibu!” jelasnya kemudian, sepertinya dia memahami kebingunganku.
“Owh,,,” jawabku singkat sambil manggut-manggut.
Aku pun segera menyerahkan kunci mobilku dan menginformasikan kepadanya di mana aku memarkir mobilku. Setelahnya aku memberesi meja kerjaku dan berpamitan dengan rekan kerjaku.
Aku menoleh ke arah Anabelle, lalu dia pun berkata “nanti kalau sempet, aku nyusul!” dan aku balas dengan anggukan kepala.
Sesampainya di teras lobby, kulihat mobilku sudah terparkir di depannya dan Daniel menyambutku dengan senyumnya.
“Silahkan tuan putri” candanya sembari membukakan pintu penumpang baris depan.
“Terima kasih” jawabku sembari masih menatapnya dan tersenyum.
“Waduh, jangan sampai nanti kita digosipin dan jadi trending topic nie?!” keluhku saat aku melihat Daniel sudah duduk di balik kemudi dan tertawa terkekeh.
“Biarin aja!” lalu dia melajukan mobilku.
Kami meninggalkan kantor pukul 17.30, sudah dapat dipastikan bahwa aku harus mampir di masjid yang kami lewati untuk menunaikan sholat maghrib. Karena kalau menunggu sampai café baru sholat, tak akan keburu.
Sesaat kami berdua sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku yang jelas memikirkan waktu sholat, namun entahlah apa yang Daniel pikirkan.
“Ke mana kita?” tanyaku memecah keheningan.
“Café biasa” jawabnya singkat.
“Siapa aja yang bisa gabung?” tanyaku lagi.
“Anak-anak pada sok sibuk. Tadi mereka cuma bilang -liat entar-“ jawabnya lagi.
“Yah jangan negative thinking lah Niel! Mungkin memang mereka lagi ada kesibukan!” mataku masih menatap lurus dan sesekali menengok ke samping kiri untuk mencari-cari jikalau ada masjid yang bisa kami singgahi.
Tiba-tiba Daniel membelokkan mobilku ke kiri ke sebuah halaman masjid besar, bahkan sebelum kami mendengar suara Adzan Maghrib.
“Wuihhhh,,,,keren,,,,,kok kamu tau isi hatiku Niel?” aku tersenyum dan menunjukkan kedua jempol tanganku. Daniel hanya tersenyum dan masih fokus dengan posisi parkirnya, mengingat banyak mobil yang singgah juga.
“Udah sampai.” Katanya lagi masih dengan senyum manisnya.
“Ah, emang Direkturku yang satu ini TOP. Gak ada duanya” aku masih tak henti-henti memujinya.
__ADS_1
Jujur aku cukup terharu dengan apa yang dilakukan Danniel kali ini. Dia sangat tinggi toleransinya. Meskipun aku yang akan menunaikan ibadah, tapi dia cukup pengertian dan tanpa aku minta sudah langsung memikirkan untuk singgah di masjid. Ya, seorang pria asing yang belum lama tinggal di Indonesia, yang mungkin juga tak banyak memiliki teman muslim, tapi bisa terpikirkan hal seperti sekarang ini. Salut aku.
“Bolehkah aku numpang buang air kecil, cuci muka, dan menggosok gigi di toilet masjidnya?” tanyanya padaku.
“Boleh dong! Tapi kamu harus ikuti petunjuk itu ya!” tunjukku padanya pada sebuah papan bertuliskan –PRIA—WANITA.
“Maksudnya?” Daniel masih belum paham dengan apa yang aku tunjuk tadi.
“Iya, di masjid atau di toiletnya di pisah antara pria dan wanita. Jangan sampai kamu salah masuk, jadi kamu harus perhatikan tanda itu!” jelasku lagi sambil masih menunjuk ke arah tanda tulisan itu. Akhirnya dia pun mengangguk tanda paham
Kami pun sama-sama keluar dari mobil.
Seusai aku ibadah, aku kembali ke mobil dan kulihat Daniel sudah ada di dalam. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju café.
---- Café----
Kami berdua duduk di bagian outdoor café. Meskipun ini masih di Jakarta dan cuaca juga cukup panas, namun karena ada tipas angin dan pepohonan rindang, kami tak merasakan panas yang menyengat. Kami memesan makanan dan mulailah aku bertanya “Jadi mau cerita apa nie?”
“Belum”
“Kok bisa? Bukannya waktu itu dia ingin rapat khusus dengan bagianmu terkait project baru ya?”
“Iya, beliau sudah banyak request yang disampaikan melalui Mr. Al maupun yellow message (post it) yang ditempel di dokumen! Kenapa ?”
“Mr. Dav berbeda 180 derajat dibanding Pak Bowo!”
“Iya aku tau itu. Sekretarisnya sendiri yang cerita”
“Orangnya keras, maunya harus diturutin, tidak mau mendengar argument pembelaan, kalau ngomong ketus. Sebel jadinya!”
“Sama percis apa yang dikatakan sekretarisnya padaku tadi”
“Apa iya pria macam itu ada wanita yang mau dan kuat mendampingi?”
“hahaahahhahah ngelantur aja kamu Niel!”
“Iyalah, Na. Aku aja kalau bukan karena karir dan gaji di sini yang sudah bagus, muak aku melihatnya! Hampir tiap hari dia mengeluhkan kerja bagianku, kalau kami memberikan argument, kami malah dibantai habis-habisan. Padahal kami udah bagus lho pencapaiannya, tapi menurutnya masih aja ada yang kurang. Dasar perfeksionis!”
Akupun hanya menepuk-nepuk punggung tangannya yang ada di atas meja berusaha untuk menenangkannya dan berkata “Sabar”.
“Ini jaman apa? Udah gak jaman lagi penindasan karyawan kaya jaman dulu! Karyawan walaupun posisi di bawah tapi harus dianggap partner kerja lho, karena perusahaan tanpa orang bawah, gak akan bisa berjalan lancar!” Daniel masih nerocos tak menghiraukan adanya pelayan restoran yang sudah mulai menyajikan makanan yang kami pesan.
__ADS_1
Akhirnya Daniel tak henti-hentinya menceritakan Mr. Dav sesuai versinya.
“Aku penasaran dengan wanita yang jadi tunangannya!” Daniel kembali kepo hal pribadi Dirutnya.
“Kamu penasaran dengan siapa tunangannya, kalau aku penasaran kaya mana Mr. Dav ini. Secaraaaaa udah hampir sebulan beliau menjabat tapi aku belum pernah bertemu!”
“Ishhh, kalau gak terpaksa. Jangan maulah ketemu!”
“Hahahahahahhaha,,,aku udah beberapa kali gagal bertemu. Bagus dong ya?”
“Iya.”
Kami pun telah menyelesaikan makan besar kami. Aku memanggil pelayan untuk mengangkat piring dan gelas kotor. Kami kembali memesan coffee ala-ala yang menjadi minuman favorit kami saat nongkrong di café ini.
“Owh ya gimana S2 mu?” Daniel kembali bertanya namun mengalihkan bahan pembicaraan.
“Alhamdullillah aku udah dinyatakan lulus. Tinggal nunggu jadwal wisuda aja!”
“Owh syukurlah kalau gitu. Aku salut sama kamu. Posisi karir sudah bagus, tapi masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.”
“Iya untuk menghabiskan waktu dan pikiran” jawabku dengan menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Dadaku masih terasa sesak ketika kembali teringat akan jodoh dan menikah.
Ehemm –Daniel berdehem sedikit keras.
“Hmm,,,,Na” panggilnya pelan sesaat setelah berdehem.
“Kenapa?”aku menatapnya dengan lekat.
“Sebenernyaaaa,,,,,sebenernya aku sudah lama jatuh hati padamu!” kaget mendengar pernyataan Daniel, aku tersedak ludahnya sendiri dan mataku melotot seolah tak percaya dengan apa yang kudengar.
Daniel kembali berkata “Aku tau aku bukan pria yang kamu inginkan, aku tak masuk kriteria pendamping hidupmu! Aku-----”
“Ka ka kata siapa?” tanyaku padanya dengan segera menyela perkataannya, tapi entah kenapa aku jadi gugup begini.
__ADS_1