CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MENGUNGKAP MASA KELAM 2


__ADS_3

DAVIS POV


FLASH BACK ON_LANJUTAN


Suatu ketika, salah satu dari kami berdelapan mengadakan party di rumahnya yang terletak di pinggir pantai. Aku pun tak peduli dalam rangka apa dia mengadakan party ini. Yang aku tau, dia mengundang DJ dan menghias rumahnya selayaknya club di sebuah pantai. Rumah yang ramai oleh para remaja dengan pakaian ala-ala beach dan untuk ceweknya pun hanya mengenakan bikini, makin malam makin heboh dan ramai.


Selayaknya party di club, di sini pun tersaji berbagai wine dan minuman beralkohol dari berbagai merk. Bagiku, wanita dan minuman adalah perpaduan yang sangat ideal untuk sebuah party. Meskipun aku kurang suka suasana hingar bingarnya music yang dimainkan DJ, tapi aku menyukai minuman dan sekarang menyukai juga wanitanya.


Bermula dari party inilah, menjadi titik balik dari kehancuran moralku. Dalam keadaan sama-sama mabok, dengan keadaan setengah sadar, aku dan Alice berc**ta di tempat terbuka dan tak sungkan ketika ada orang lain yang melihatnya. Pada saat itu aku tak malu melakukannya, karena pasangan yang lain pun melakukannya di tempat umum.


Begitulah aku dan Alice. Meskipun tanpa status, tapi hubungan kami meningkat begitu drastic. Tak hanya di tempat tertutup tapi kami juga tak segan melakukannya di tempat terbuka


--- di kampus ---


Suatu ketika, ketika aku sedang berada di kampus.


“Hai” Alice menepuk pundakku lalu duduk di bangku sebelahku, aku balas sapaannya dengan kata ‘Hai juga’ dan tersenyum.


“Gimana rencanamu untuk semester depan?” Alice menanyakannya padaku.


“Aku mau memadatkan kuliah, karena ingin lulus lebih cepat” jawabku menjelaskan. 


“Yahh, kita gak bisa bareng dong?” Alice mengatakannya dengan nada kecewa, aku hanya tersenyum.


“Tapi masih boleh kan main ke apartemenmu?” tanyanya lagi. 


“Tentu. Datanglah kapan saja kau mau”


“Hmmm,,,kamu tak keberatan kan melakukannya tanpa ikatan?” aku mengernyit mendengar pertanyaannya.


“Harusnya pertanyaan itu yang aku tanyakan ke kamu, biasanya cewek membutuhkan kepastian”


“No. Aku justru lebih suka seperti ini. Tidak terikat.” Ucapnya kemudian. Aku pun masa bodoh denga napa yang disukainya. Bagiku apa yang kami jalani sudah lebih dari cukup, aku tak bisa melibatkan perasaan di hubungan kami.


Begitulah akhirnya aku dan Alice menjalani hubungan tanpa status ini. Memasuki semester baru, aku sudah jarang bertemu dengan Alice, namun tidak demikian halnya dengan sahabat-sahabat party ku. Meskipun kami tak pernah kuliah berbarengan, tapi ketika ada yang mengadakan party, kami akan selalu sempatkan untuk menghadirinya. 


Kali ini, sahabatku yang memiliki villa di tengah pegunungan pinus mengadakan party.

__ADS_1


“Hai, Vis. Hari Sabtu datang ke party ya!” ajak sahabat cowok.


“Alice gak bisa ikut. Males gak da partner”


“Tenang aja, Vis. Banyak Alice yang lain”


“Males. Bagiku Alice is the best”


“What? Mana ada is the best tapi gak ada status?” dia sembari tertawa lepas.


“Ayolah, Vis,,hemm hemm hemm!” bujuknya terus.


“Meskipun kami tidak memiliki status apapun, aku tetap merasa tak selayaknya melakukannnya dengan yang lainnya” aku memang sebenarnya kurang menyukai melakukan hal itu jika tidak merasa cocok dengan partnernya.


“Davis, Alice itu ratu party. Kalau dia gak datang di party ku, dia pasti sedang ada party tempat lain!”


“Maksudmu??” nada bicaraku seolah tak terima dia menuduh Alice.


“Nanti juga kamu bakal tau!”


Aku pun memenuhi undangan sahabatku itu. Ternyata benar katanya, di party kali ini, banyak lagi muda mudi yang datang. Dengan mudahnya kami saling mengenal, mengobrol, dan selanjutnya yaaa seperti itulah. Pengaruh minuman dan jiwa muda yang menggebu, membuat kami menggila. Pada suatu acara, ada sebuah game di mana kami ber***** secara bebas di mana pun, dengan siapapun, lalu berganti pasangan. Begitulah kami muda mudi menikmati party ini sampai pagi.


Seperti sebuah candu. Aku dan sahabat-sahabatku mengadakan party hanya untuk internal kami, hanya diisi dengan acara, minum, ber*****, dan berganti pasang** sampai pagi dan kami lelah.


Minimal kami menyelenggarakannya seminggu sekali. Tempat berganti-ganti, bahkan pernah diselenggarakan di apartemenku.


Aku menikmati kehidupanku yang bebas seperti ini selama 2 tahun lamanya, hingga suatu kejadian membuat aku jera.


Iya, 3 di antara sahabatku tertular hiv. Alice yang kukenal sebagai partner yang paling asyik, ternyata juga sampai meninggal karena tertular hiv. Tak bisa aku pungkiri kalau aku sangat bersedih atas musibah yang menimpa sahabat-sahabatku, dan juga Alice.


Meskipun Alice yang mengenalkanku pada dunia bebas, bagiku Alice adalah sosok yang akan selalu terkenang sepanjang sejarah hidupku. Meskipun aku tak pernah memiliki perasaan lebih kepada Alice, tapi aku sangat iba pada nasibnya, meninggal muda karena akibat pergaulan bebas.


Daddy dan kakakku yang mengetahui kejadian itu, segera memeriksakan kesehatanku secara menyeluruh. Semua gerak gerikku selalu dalam pengawasan orang-orang suruhan Daddy ku. Aku tak bisa berkutik, bahkan sekedar menghubungi sahabat-sahabatku yang lain untuk turut memberikan simpatik aja tidak diperkenankan. Jangankan menghadiri pemakaman Alice, tak bisa.


Selama hasil pemeriksaan belum keluar, aku hanya diperkenankan melakukan aktifitas di luar untuk kuliah dan ke kantor. Bahkan sejak kejadian itu, Mommy menyuruhku pindah dari apartemen ke rumah utama. Mereka menyesali keputusan mereka memberikanku keleluasaan untuk mandiri ternyata malah membuatku bebas tak terkendali.


“Davis, kau ingat lagi, apakah kau pernah melakukannya tanpa pengaman?” Mommy heboh kalau sudah berhubungan dengan anak-anaknya.

__ADS_1


“Mom, percayalah padaku. Aku tak sebodoh itu!”


“Awas ya kalau sampai kamu ketularan! Mending kamu jadi ***** aja!” teriak Daddy.


“Dad, please!” aku pun merajuk.


“Sudah berapa lama kalian party-party gitu?” tanya Mommy marah.


“Gak lama Mom.” Jawabku bohong dan pelan.


“Bohong!” teriak Mommy karena tak percaya.


“Sudahlah Mom, Mommy and Daddy tenang aja dulu sebelum hasil kesehatannya keluar” ujar kakakku.


“Jangan terlalu banyak berspekulatif!” sambungnya.


“Ihhhh bisa gila Mommy mikirinnya!”


“Apa jadinya kalau dia---” Mommy tak mampu melanjutkan kata-katanya. Di sela-sela amarahnya, dia menangis tersedu-sedu.


Aku yang sangat-sangat mencintai dan menyayangi Mommy, tak tega melihatnya menangis karena kebodohanku. Mommy memang orang timur, tapi dia memberikanku kebebasan untuk menjalani kehidupanku asalkan aku mampu mempertanggungjawabkan tindakanku. Namun tidak sama halnya dengan kejadian kali ini, meskipun ini kehidupanku tapi juga menyangkut kehidupan keluargaku, percuma jika hanya diriku sendiri yang mempertanggungjawabkannya.


Pikiran-pikiran negatif mulai menghantuiku dan membuatku takut. Meskipun aku selalu menggunakan pengaman, tapi kami yang selalu berganti-ganti pasangan tak menutup kemungkinan tertular juga.


Bagaimana jika aku tertular?


Bagaimana aku menghadapi kesedihan Mommy?


Apakah pintu maaf Mommy akan terbuka untukku?


Lalu bagaimana dengan masa depanku?


Bagaimana dengan cita-citaku untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari saat itu?


Bagaimana aku akan bahagia?


Bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2