
DAVE POV
Betapa kagetnya aku mengetahui kenyataan yang terjadi. Ternyata brand ambassador yang baru kuingat namanya adalah Marlyn itu, telah bekerja sama dengan Opa ku sendiri untuk menfitnahku. Sungguh ini hal yang mengagetkan.
Selama ini Opa berusaha untuk melindungi anak dan cucunya dari berbagai rumor dan berita buruk yang akan mempengaruhi citra perusahaan maupun keluarga kami. Ketika ada rumor yang belum sempat merebak, dia pasti akan segera bergerak cepat untuk menghalau agar tidak menjadi konsumsi publik. Bahkan ketika Davis mengalami kecelakaan parah hingga menewaskan Rio asisten pribadi nya, dan kecelakaan itu mengakibatkan Davis selama beberapa bulan terbaring koma di rumah sakit, tidak ada satu pihak pun yang mengetahuinya. Semua tertutup rapat dan rapi. Hanya pihak yang berkepentingan saja yang mengetahuinya.
Tapi ini apa?
Mengapa Opa justru yang menyebarkan rumor menjijikkan seperti ini?
Mengapa Opa tega menfitnah cucu kandungnya sendiri?
“Apa kalian menyelidiki kenapa Opa melakukan ini padaku?” mereka bertiga menggelengkan kepala.
“Anda tau tuan, Opa anda orang yang sangat berpengaruh. Kami bisa menelusurinya saja sudah suatu hal yang sangat sulit bagi kami. Bahkan orang suruhan tuan besar pun tak ada yang tau mengapa tuan besar melakukan ini pada Anda” kata Teddy kemudian.
“Ted, kalau Daddy atau aspri nya menanyakan hal ini, jangan kau beritahu! Aku harus mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Opa sebelum semua pihak mengetahuinya!”
“Baik tuan” jawab mereka bertiga kompak.
“Ted, segera kau hubungi wanita itu! Dia harus mau mengatakan yang sesungguhnya ketika aku mengajaknya konferensi pers nanti!”
“Baik tuan” jawab Teddy mantap.
Kemudian mereka bertiga pun berpamitan keluar ruanganku. Aku segera menghubungi Opa melalui sambungan telepon. Opa dan kedua orang tuaku sudah kembali lagi ke Inggris.
“Ya ada apa Dave?” seperti biasa ketika mengangkat telp, Opa tak pernah berbasa-basi mengucapkan salah terlebih dahulu.
“Opa tidak menanyakan kabarku?”
__ADS_1
“Opa sudah mendengar rumor itu. Tenang saja, tinggal kau nikahi saja dia. Selesai kan?”
“Tumben? Biasanya Opa akan langsung menyelidiki terlebih dahulu ketika kami memberikan nama seorang gadis yang kami pacari?”
“Kau pikir, artis-artis yang menjadi brand ambassador di perusahaan kita itu tidak lulus sensor Opa? Dave,,,,Dave,,,sepertinya kau tidak mengenal Opa!”
“Iya. Sejauh ini aku memang tidak mengenal Opa, bahkan aku tak habis pikir ada seorang kakek kandung yang tega menfitnah cucunya sendiri demi kepentingan pribadinya”
“Apa maksudmu?” Opa mulai berbicara dengan nada keras dan tinggi.
“Kenapa Opa harus menggunakan cara licik dan kotor ini untuk membuatku menikahi wanita itu?”
“Kau---” aku segera menyela ketika Opa hendak mengatakan sesuatu.
“Opa, aku sudah tau! Dan sekarang makin tau mengapa Opa melakukannya!” suaraku tak kalah kerasnya.
“Dave, sudah saatnya kau memikirkan untuk memberi Opa cucu. Inget Dave! Kalau memang Davis belum bisa kita paksa untuk menikah terlebih dahulu, kau yang harus menikah! Opa sebenernya tak peduli mendapatkan cucu kandung dengan cara apa pun, tapi Opa menghargai keyakinanmu, Dave! Hanya dengan cara ini membuatmu menikah dan memberi keluarga kita keturunan. Kau harus move on dari Miley, Dave!”
“Opa, aku sudah move on! Aku sudah memiliki seseorang untuk kujadikan istri! Justru dengan adanya fitnah ini, membuat jalanku makin sulit, dia akan berpikir berulang kali untuk menerimaku, Opa!”
“Aku akan menikah dengannya, dengan atau tanpa persetujuan Opa! Sudah cukup Opa mengatur kehidupan pribadi kami! Tolong biarkan kami berjalan sendiri!”
“Dave, Opa---” aku kembali menyela bicara Opa.
“Opa, please!! Fitnah yang sudah Opa sebarkan, sudah membuatku tidak respek lagi denganmu. Selama ini kami diam dan menurut karena kami merasa bahwa apa yang Opa lakukan adalah demi kebaikan keluarga dan perusahaan kita. Tapi, aku sungguh kecewa! Opa tega menfitnah cucu sendiri! Opa, please!! Berikan kesempatan pada kami untuk menentukan jodoh kami sendiri”
“Tidak, Dave!”
“Opa!!!” baru kali ini aku berani membentak Opa meski hanya melalui telepon.
“Siapa wanita itu? Setidaknya Opa akan menyelidikinya, selebihnya terserah padamu! Opa tidak akan menghalanginya”
__ADS_1
“Aku akan membawanya ketika konferensi pers!” aku segera menutup telpon tanpa menunggu respon dari Opa.
Jujur aku sudah berbicara kasar dengan orang yang selama ini amat sangat kuhormati. Namun, aku sudah cukup bersabar menghadapi keegoisannya selama ini. Aku hanya ingin bahagia dengan wanita pilihanku.
Owh ya, bagaimana dengannya? Apa reaksinya mendengar rumor ini? Semoga dia tidak terpancing dengan fitnah ini.
Usai menutup telpon dari Opa. Aku segera menelpon Teddy dan memintanya kembali masuk ke ruanganku.
“Iya tuan, ada apa?” Teddy sudah kupersilahkan duduk di balik meja kerjaku.
“Ted, kapan keluarganya bisa kita bawa ke Aussie?”
“Semua passport sudah jadi, tinggal menunggu perintah Anda saja, Tuan” jawab Teddy.
“Apa pesanku sudah kau sampaikan juga pada mereka?”
“Sudah, Tuan”
“Apa mereka percaya?”
“Percaya, Tuan”
“Syukur Alhamdullillah!”
“Ted, segera kau suruh orang kita di sana untuk mengurus dan membawa mereka ke sini!”
“Kalau semuanya mau ikut, bagaimana tuan?”
“No problem” jawabku singkat.
“Baik tuan. Owh ya, terus untuk konferensi pers, kapan Anda akan melakukannya? Lebih cepat lebih baik, tuan. Jangan sampai kegaduhan ini berlarut-larut”
__ADS_1
“Secepatnya bawa mereka ke sini. Aku ingin konferensi pers didampingi mereka, sekaligus mengumumkan sebuah pengumuman penting yang hanya akan bisa dihadiri aku, Marlyn, dan mereka”
“Baik, Tuan. Saya permisi” Teddy segera beranjak dari duduk dan keluar ruanganku.