CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) CEMBURU II


__ADS_3

Kakiku terasa lemas, bibirku kelu, dan mataku sudah panas sedikit berair dan hampir menetes dari sudut mataku. Namun aku berusaha menahannya. Menahan tetesan air di mata dan gemuruh rasa di d*da.


Saat ini Davis tak bergeming sama sekali, dia tak memperhatikan kedatanganku.


“Mr. Dav, saya menyampaikan data yang diminta. Ini rekapannya sudah saya print, sedangkan detail perhitungannya sudah saya sampaikan ke Mr. Al, kemungkinan sudah beliau forward ke Anda” dengan sekuat tenaga aku menyampaikan maksud kedatanganku.


Saat aku hendak menunduk, kulihat dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum manis padaku.


Jujur ini situasi yang tak nyaman untukku. Aku gugup. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa harus masuk ke ruangannya sekarang! Harusnya aku menunggu ½ jam lagi. Jangan-jangan kedatanganku mengganggu mereka. Jelas-jelas tadi pintu ditutup, mungkin memang mereka sengaja tidak mau diganggu.


Ahhh betapa bodohnya aku begitu saja percaya pada mulut manis Davis—aku pun hanya merutuki diriku dalam hati ketika mengingat kejadian satu minggu yang lalu.


Tanpa aku sadari, ternyata Davis sudah mendekatiku. Aroma maskulin yang menguar begitu kuat menusuk ke hidung dan seolah menembus otakku, ketika tiba-tiba dia mencondongkan badannya untuk meraih map yang tadi aku letakkan di mejanya. Meskipun tangannya meraih map di atas meja, tapi tatapan matanya lekat menatap mataku dan senyum manisnya tersungging membuatku tak berkedip


“Kamu yang menyusunnya?” kata-katanya membuyarkan lamunanku.


“Iya. Manajer keuangan cuti beberapa hari” jawabku sedikit mendongakkan wajahku dan aku memberanikan diri melihat ke wajahnya.


Ya aku hanya mampu melihat selintas, karena entah rasa yang bercampur di dalam dada membuatku berdebar tak karuan.


“Duduklah dulu!” ketika aku mulai duduk di kursi, dia justru duduk di meja tepat di depanku.


Sungguh aku sudah dibuatnya salah tingkah. Kenapa dia harus membuat jantungku olah raga berat begini.


Tadi 2x dia sudah membuat dadaku sesak serasa mau meledak karena gemuruh yang begitu hebatnya, sekarang jantungku dibuat berlari kencang karena perlakuan manis, tatapan hangat, dan senyumannya.


 Sekuat apa pun aku menahan untuk bersikap biasa saja. Sekuat apa pun aku tuk tak menahan rasa sesuatu yang lebih mendalam. Nyatanya gugur karena pesonanya. Ya, pesona yang jauh jauh jauh di atas level dia yang dahulu.


Aku pun menunggunya membaca file itu. Suasana sunyi di dalam ruangan membuat pikiranku melayang-layang bagai layangan putus diterpa angin.


Tak berapa lama, Davis berucap intinya mengusir Alin secara halus. Aku hanya meliriknya sekilas, dan Davis sama sekali tak bergeming. Alin meninggalkan ruangan dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Sembari memegang berkas itu, Davismembahas hal-hal terkait data dan memintaku merevisi analisisku. Namun lagi-lagi aku dibuat tersentak kaget karena dia memintaku merevisi langsung di ruangannya menggunakan laptopnya. Akhirnya dengan terpaksa aku menuruti apa maunya.


Berada di ruangan hanya berdua dengannya, malah membuatku tak bisa berkonsentrasi. Aku merasa sepasang mata memandangiku terus menerus. Ini benar-benar situasi tidak nyaman. Pekerjaan yang seharusnya bisa aku selesaikan ½ jam nyatanya malah baru kuselesaikan 1 jam.


Tok tok tok


Bunyi ketukan pintu membuat keteganganku mencair. Namun lagi-lagi Kak Permata salah paham karena aku tengah duduk di kursi Dirut.


Aku menoleh pada Davis memintanya untuk menjelaskan situasi ini pada Permata.


Namun setelah kak Permata melapor, dia tidak segera pergi meninggalkan ruangan.


Saat dia terpaksa meninggalkan ruangan, aku makin yakin dia cemburu padaku. Aku bisa merasakan kalau dia ada hati dengan bosnya.


“Ada apa dengannya?” tanya Davis lirih. Aku meyakini kalau Davis tak memahami perasaan spesial sekretarisnya itu.


Pada saat bersamaan, tatapan mata kami berdua bertemu. Aku sejenak membaca apa yang ada di dalam matanya, namun segera aku menundukkan kepalaku karena tak mau dia malah membaca pikiranku.


Dia memintaku duduk di sampingnya. Namun, aku pun memilih duduk di sofa tunggal sisi lain dari sofa panjang yang dia duduki.


“Kenapa duduk di situ? Gak mau di sampingku?” tanyanya sembari tersenyum dengan mata masih melihat pada kertas-kertas pemberiannya.


“Hmm enggak papa” jawabanku memberi kesan aku tak mau memperpanjang obrolan kami.


Hufh yang benar saja aku duduk di sampingnya? Yang ada malah justru aku tidak konsen.


Setelah dia menyetujui hasil revisianku, dia berkata “Na, pulang kantor bareng ya!”


Aku berusaha menolak ajakannya. Namun tiba-tiba dia mengucapkan “Aku kangen sama kamu! Maaf ya selama seminggu ini gak ngabarin kamu”


Ahhhhh,,,,,,rasanya aku ingin berteriak.

__ADS_1


Apa sie maunya???


Kalau dia menyukaiku, kenapa selama seminggu ini dia tak berkirim kabar?


Kalau dia menyukaiku kenapa dia menerima saja sikap manis Alin?


Apa memang aku yang bodoh?


Dengan mudahnya merasa bahagia ketika mendengar pernyataan cintanya.


Dengan mudahnya memberikan dia kesempatan pedekate.


Dengan mudahnya pikiran melambung ketika mendengar kata-kata manisnya?


Fix.


Kali ini aku tak ingin masuk jebakannya lagi.


Aku gak mau diphp lagi.


Aku harus bisa menahan perasaanku dan sebisa mungkin menghindari interaksi dengannya.


Aku harus teguh pada pendirianku.


Namun lagi-lagi, Davis yang sekarang adalah Davis yang tak bisa dibantah.


“Jangan lupa nanti sore. Aku gak terima penolakan!”


Hufh. Aku pun keluar ruangan dengan langkah gontai.


Seenaknya sendiri dia membuatku begini.

__ADS_1


Kenapa aku yang sekarang makin lemah di hadapan Davis?


__ADS_2