
DAVIS POV
Aku menjelaskan sejelas-jelasnya pada Narita bahwa pemotretan kali ini murni professional kerja. Aku menyanggupi berpose ‘mesra’ karena menurutku masih dalam taraf wajar. Dan akhirnya Narita pun memahamiku, meskipun wajahnya masih cemberut. Setelah itu aku kembali teringat bahwa Narita belum menjelaskan kedekatannya dengan Daniel. Sekarang giliranku meminta penjelasannya.
“Kamu ngobrol apa sama dia? Kok sampai punggung dan dada saling bersentuhan?” meskipun aku merasa bersalah belum menceritakan pemotretan kali ini, tapi aku juga merasa tidak suka dengan keromantisan Narita dan Daniel.
“Bukan hal yang penting, bahkan aku sudah lupa apa yang kami perdebatkan tadi” jawabnya.
“Dan lagi, aku tau batasannya mas, gak mungkin aku menempelkan punggungku ke dadanya, yang bener aja!” elaknya.
“Lalu untuk apa kamu ke sini?” tanyaku lagi.
“Tadi Daniel udah jelasin kan? Selama ini pun aku selalu memberikan pendapat ke dia mengenai brosur, iklan, atau yang lainnya agar dapat menarik minat orang. Bukan karena aku adalah Narita, tapi karena dia ingin meminta pendapat banyak orang. Survey kecil gitu deh.”
Aku yang memahami penjelasannya cukup mengangguk-angguk. Alasannya masuk akal, dan sepertinya tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.
“Maaf….” Ucapku lagi.
“Untuk apa?” tanyanya.
“Mungkin karena aku cemburu jadi emosional” jujur aku merasa bersalah atas sikapku. Aku hanya takut Narita melihat sisi emosionalku menjadikannya ilfil.
“Sama. Aku juga minta maaf. Apa mungkin harusnya aku tidak berjalan berduaan dengannya?” dia sedikit tersenyum.
“Enggak. Aku bukan orang yang mengekangmu dengan melarangmu jalan berduaan dengan seseorang di tempat umum apalagi di kantor. Selama masih dalam batas wajar, tak ada salahnya berduaan.” Ucapku.
Tiba-tiba pintu aula dibuka dengan paksa dan terdengar suara Alin yang bersuara sinis.
“Sudah selesai? Jangan buang waktu percuma Vis! Ayo lanjutkan!”
“Rio tolong panggilkan tim pemotretan. Kita mulai!” perintahku pada Rio setelah melihatnya berdiri di belakang Alin.
“Permisi” Narita pergi dan aku mengangguk.
__ADS_1
“Ada hubungan apa kalian?”
DEG
Pertanyaan Alin membuat jantungku berdebar lebih kencang. Sebenarnya aku tidak ingin merahasiakan pernikahanku tapi karena Narita memintanya, membuatku sulit untuk berbohong atau mencari-cari alasan yang tepat.
“Aku dan Daniel sudah melamar Narita. Kami---”
“WHAAAATTT?!!!!” teriak Alin.
“Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang selesaikan dulu pemotretan kita!” aku sengaja mengalihkan pembahasan karena melihat orang-orang sudah memasuki aula, aku tak mau pembahasan pribadi ini akan menjadi gosip kalau didengar banyak orang.
Akhirnya kami pun menyelesaikan pemotretan di beberapa background yang telah disiapkan. Daniel yang memiliki beberapa pemikiran mengenai hasil pemotretan, beberapa kali memintaku untuk memotret ulang beberapa pose yang menurutnya masih kurang cocok. Untuk kali ini aku percaya padanya karena selain dia ahli menawarkan produk, dia juga ahli dan jeli menangkap selera pasar yang dituangkan dalam sebuah brosur dan iklan.
DANIEL POV
Aku merasakan keanehan ketika Davis dengan berani memaksa kami untuk keluar sedangkan dia ingin berbicara berdua saja dengan Narita. Aku mencium ada sesuatu yang tak kuketahui yang terjadi di antara mereka.
Apa mungkin cincin yang melingkar di jari Narita adalah cincin darinya?
“Niel, maaf aku harus kembali. Kamu ditemenin manajermu aja ya?” katanya saat dia berpapasan denganku, saat dia hendak keluar dan aku hendak masuk aula.
“Na, kamu gakpapa kan?” dia hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya.
“Kamu sama Davis---”
“Sorry Niel, nanti kita bahas lagi di lain waktu” dia memotong perkataanku, dan aku pun mengangguk pasrah.
Aku segera menghubungi beberapa manajerku untuk menemaniku di sesi pemotretan brosur dan iklan. Saat Davis sedang berpose, aku menyaksikannya langsung di layar kamera untuk bisa mengecek apakah haslnya sesuai atau tidak. Dan aku pun menyadari akan satu hal, ternyata Davis juga mengenakan cincin di jari manisnya. Aku menggenggam tanganku sendiri dengan kuat meluapkan emosi.
Sampai akhirnya sesi pemotretan selesai, aku segera pergi ke café membeli 3 porsi makan dan minuman. Aku membawanya ke ruangan di mana Narita dan Abel berada.
“Selamat siang, Mr. Daniel!” sapa orang-orang di lantai tempat kerja Narita ketika mereka melihatku yang notabene seorang Direktur datang ke tempat kerja bagian lain.
__ADS_1
“Siang juga. Narita dan Abel ada kan?” tanyaku kemudian.
“Ada, Mr.”
“Terima kasih” mereka mengangguk dan tersenyum membalas ucapanku.
Aku melangkahkan kaki hingga kujumpai mereka berdua yang duduk dengan meja bersebelahan sedang sibuk dengan pc nya masing-masing hingga tak menyadari kedatanganku.
“Ehemm” mereka berdua menengok setelah aku berdehem.
“Niel!” ucap mereka berdua berbarengan.
“Nie, aku bawain makan siang. Maksibar yuk!” ajakku kemudian.
“Oke. Kita di meja sana aja ya!” tunjuk Abel pada sebuah meja dan kursi tinggi yang menghadap keluar.
“Aku ambil piring dan sendoknya!” Narita bergegas dari duduknya dan melangkah ke pantry.
Saat ini kami pun tengah makan bertiga dengan menghadap kaca yang terdapat view keluar sebuah taman di sekeliling gedung. Kami duduk berderetan karena memang meja itu bentuknya memanjang di sepanjang kaca. Bentuknya percis meja dan kursi bar. Urutannya paling kanan Narita, sebelah kiri Narita Abel, dan sebelah kiri Abel adalah Daniel.
“Kalau diperhatiin, cincinmu dan cincin Mr. Dav senada warnanya” sengaja aku memancing ekspresi Narita, namun tak ada perubahan ekspresi apapun darinya.
“Ah itu hanya perasaanmu aja, Niel. Mana mungkin Mr. Dav pake cincin model cewek begini!” Narita sengaja menunjukkan cincinnya dengan model perpaduan antara rose gold dan emas putih, di tengahnya berlian solitaire, lalu di sepanjang cincinnya terdapat berlian kecil-kecil yang mengelilingi cincinnya.
“Aku gak bilang model, tapi warnanya senada”
“Cincin kawin mah di mana-mana ya warnanya gitu-gitu aja Niel! Kalo Mr. Al warna cincinnya senada dengan warna cincin kawinnya bu Angel, terus kamu bakal curiga mereka pasangan pasutri?” Abel nyeletuk seolah memojokkanku.
“Iya juga ya,,hehehe” aku nyengir karena bingung bagaimana lagi mengorek informasi.
“Kamu cemburu sama Mr. Dav?” sontak aku kaget mendengar Abel tiba-tiba mengatakan itu.
“Cemburu? Kenapa cemburu? Aku yakin Narita gak mungkin menerima Mr. Dav juga kok” elakku.
“HAH??? MAKSUDMU?” Abel bertanya sedikit berteriak.
__ADS_1
“A a apa, Bel? Kok kamu berteriak?”
“Apa Mr. Dav juga melamar Narita?” kata-kata Abel membuat Narita yang sedari tadi terdiam tiba-tiba tersedak.