
DAVE POV
“Aku hanya tak ingin lebih jauh lagi menyukai seseorang yang sudah berkeluarga” entah kenapa kata-kata ini tiba-tiba lolos begitu saja dari mulutku. Dia pun langsung balik badan dan melotot memandangku.
Aku pun akhirnya berjalan mendekatinya, tapi dia malah berjalan mundur menjauhiku.
“Maaf, Tuan. Saya,,,saya,,,saya seorang ibu beranak dua. Saya tidak pantas untuk berdampingan dengan siapa pun” dia lalu berjalan cepat meninggalkanku dan segera membuka pintu kamar dan menutupnya dengan pelan.
Hufh,,,,
Aku lega sudah mengatakan semua rasa sesak di dada karena perasaan aneh ini, tapi entah kenapa aku belum mendapatkan jawaban yang membuatku puas.
Keesokan harinya, seluruh keluarga berkumpul pagi sekali untuk sarapan bersama. Narita melayaniku seperti biasa, meskipun dia selalu menghindari tatapan mataku.
“Aku sudah dengar semua progress Kesehatan Davis. Jess, maaf sepertinya rencana pernikahan kalian harus tertunda.” Ketika opa mulai berbicara kini semua mata menatap padanya. Sekilas aku melirik pada Davis, dia seperti tersenyum sementara ketika aku melirik pada Jessica, terlihat dia menghela nafas berat.
“Dan, kau Dave! Segera kau bawa calon mempelaimu pada kami! Kalau pernikahan Davis yang tertunda, makan pernikahanmu yang harus dipercepat!” titah Opa seperti Undang-Undang yang harus dipenuhi.
Dan JEDDDUUUUUAAARRR…….
Bagai menginjak ranjau, rasanya aku sudah terbang dan nyawaku sudah keluar dari ragaku. Dan kini semua mata menatap padaku, aku menatap mereka semua secara bergantian dan berakhir menatap pada Narita yang seolah cuek dan acuh pada perbincangan keluarga kami.
“Baiklah, akan segera kubawa dia kepada kalian!” jawabku.
“Hah? Jadi kau sudah ada calon, Dave?” tanya Mommy padaku.
“Hmmm, bisa iya bisa tidak.”
“Bawa dia menemui kami 1 sampai 2 minggu lagi. Ya batas waktunya seminggu lagi!” lanjut Opa.
__ADS_1
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
--- Mobil ---
Saat ini aku, Teddy, dan seorang sopir tengah berada di dalam mobil perjalanan menuju kantor.
“Ted” Teddy membalikkan badan ke belakang setelah mendengar panggilanku.
“Iya tuan”
“Hmm, aku minta kau selidiki seseorang!”
“Siapa?”
“Sudah aku chat ke ponselmu” aku sengaja tak menyebutkan nama seseorang itu karena kami bertiga di dalam mobil, aku tidak ingin sopir itu menyampaikan hal ini ke seseorang itu.
“Apa yang ingin Anda ketahui tentang dia, Tuan?”
“Semua”
“Baik”
“Secepatnya, kalau bisa sebelum seminggu!”
“Baik”
NARITA POV
Hari ini adalah hari di saat aku kembali mempresentasikan mengenai rencana pelaksanaan kegiatan pemasaran di beberapa daerah di luar kota. Aku beserta dengan beberapa tim marketing dan tim development sudah bersiap di ruang rapat. Kami tinggal menunggu Pak Adam yang rencananya akan memimpin rapat.
Kegiatan kali ini tidak hanya upaya yang kulakukan untuk memberikan sumbangsih ke perusahaan namun juga sebagai salah satu bentuk progress dari kegiatan magangku. Sukses tidaknya kegiatan ini menjadi penentu sukses tidaknya penilaian atas penelitian dan pengembangannya.
__ADS_1
“Hallo…sudah siap?” Pak Adam datang dan menyapa kami semua.
“Owh ya sebentar, ada yang mau datang lagi, tunggu sebentar!” lanjutnya.
Tak berapa lama, Teddy masuk ke ruangan yang disusul di belakangnya Dave. Duh firasatku sudah tidak enak kalau ada mereka mah. Raut wajahnya yang dingin dan seolah tak mengenalku membuatku makin tidak suka.
“Maaf, Pak Adam kami terlambat” ucap Dave lalu dia dipersilahkan duduk di kursi pimpinan rapat.
“Silahkan dimulai!” lanjut pak Adam.
Rapat pun dimulai. Aku mendapat giliran untuk presentasi yang kedua. Hasil rapat pada prinsipnya semua menyetujui untuk pelaksanaan kegiatan pemasaran tersebut, hanya saja untuk beberapa kota diminta untuk diubah. Sebelum roadshow marketing, Dave meminta terlebih dahulu dilakukan publikasi melalui kanal web, youtube, dan Instagram influencer.
Beberapa orang yang ada di rapat menginginkan diposting di Instagram Dave yang dikelola oleh perusahaan. Ya, Dave memang tidak aktif di sosial media, tapi dia memiliki youtube chanel, Instagram, line, twitter atas nama pribadi yang dikelola oleh tim manajemen khusus. Instagram dan youtube chanelnya banyak followernya jadi bisa dikatakan dia adalah influencer juga.
Selama ini Dave memang tak keberatan untuk memamerkan beberapa kehidupan pribadinya, asalkan itu berkaitan dengan pekerjaan. Begitu pun halnya dengan kegiatan kali ini.
“Oke aku bersedia, tapi semua orang yang ada di sini juga harus ada di medsosku.” Dave mengajukan syarat yang langsung disetujui oleh semua orang.
Aku bersyukur kali ini tidak kesulitan untuk meminta kesepakatan darinya.
--- 5 hari kemudian ---
Hari ini adalah hari pertama pengambilan gambar untuk kegiatan publikasi pra roadshow. Dari tim kreatif sudah membuat scenario dan salah satunya adalah scenario aku dan beberapa tim marketing dan Dave berada di satu scene sedang mempersiapkan sebuah ruangan di salah satu building untuk disewakan.
Kami berada di salah satu gedung bertingkat milik perusahaan yang akan kami promosikan. Saat pengambilan gambar, seharusnya Dave bersama 3 orang lainnya, namun tiba-tiba dia memanggil “Kamu” Dave menunjukku, lalu aku mendekat.
“Off cam dulu! Aku mau hanya berdua saja di scene kali ini!” pintanya pada tim kreatif.
“Berdua dengan…??”
“Dengannya” Dave menunjukku dengan lirikan mata.
__ADS_1
Kami semua kaget dengan sikap Dave kali ini. Selama ini dia tidak pernah mau berdua dengan wanita mana pun ketika diambil foto/video yang akan ditampilkan di medsosnya.
Aku pun hanya tengok kanan dan kiri ngerasa bingung juga.