
NARITA POV
Hari ini adalah hari terakhirku bekerja. Aku telah menyelesaikan semua pekerjaan dan masih tahap serah terima pekerjaan ke Direktur Keuangan dan para bawahanku. Hari ini pun, bagian keuangan menyelenggarakan farewell party untukku.
Direktur Keuangan memanggilku untuk masuk ke ruangannya.
“Na, semua pekerjaan telah kamu serahterimakan kepadaku, apakah kamu sudah mengajari anak buahmu untuk bisa menghandle pekerjaan yang masih kau tinggalkan untuk mereka pantau?” tanyanya.
“Sudah, Mr”
“Baiklah. Sayang sekali ya Na, pilihanmu ternyata resign. Bahkan Mr. James aja tak bisa membujukmu” aku tersenyum mendengar penuturan bosku satu ini.
“Iya maaf, Mr. Saya ingin kuliah lancar.”
“Pesanku cuma satu, jangan lupa menikah. Pendidikan itu perlu tapi menikah adalah salah satu masa depan juga!” aku pun kembali tersenyum.
“Saya sudah menikah Mr” jawabku pelan.
“Hah??? Kapan? Sama siapa? Kenapa tak sebar undangan?” dia kaget.
“Sudah sejak hampir 3 bulan yang lalu, Mr. Sengaja belum sebar undangan karena memang kami tidak menyelenggarakan pesta, hanya acara sederhana saja”
“Siapa suamimu? Apa kami mengenalnya?”
“Iya” jawabku dengan suara sangat pelan namun cukup bisa didengar karena di dalam ruangan sangat hening.
“Owh ya? Siapa??? Penasaran aku”
“Heheheheh, nanti saja Mr. Kalau suami saya sudah berkenan untuk mempublish pernikahan kami”
__ADS_1
“Daniel? Arnold? Atau…..” tebaknya kemudian.
“Hehehhe haduw Mr, jangan dulu main tebak-tebakan deh. Yang jelas nanti saatnya tiba akan kami publish”
“Kamu sedang hamil ya?” aku tersentak mendengar pertanyaan Mr. Al yang to the point.
“Dari mana Mr tau?”
“Anakku udah 2 Narita, tentu bukan hal yang baru untukku mengetahui seseorang itu hamil atau tidak” dia masih tersenyum-senyum tipis.
“Bener kan?” tanyanya memastikan.
“Iya. Alhamdullillah”
“Apa karena kehamilanmu makanya kamu resign?”
“Heheheh bukan, Mr. Ada beberapa pelatihan yang harus saya ikuti sebelum pergi ke Aussie.” jawabku bohong.
“2 bulan, Mr”
“Tapi saya minta tolong, jangan ceritakan ke siapapun mengenai kehamilan saya ya Mr. Bahkan suami saya saja belum tau”
“Yayaya oke kalau begitu” jawabnya.
“Semoga sukses kuliahnya, lancar melahirkannya. Segera kenalkan suamimu, Narita, walaupun kamu bilang kami sudah saling mengenal, terus terang aku penasaran nie!”
“Aamiin makasih doanya, Mr. Insyaalloh nanti Mr akan tau”
“Sekali lagi selamat atas new life nya” Mr. Al mengulurkan tangannya untuk memberiku ucapan selamat.
“Terima kasih, Mr atas bimbingannya, arahannya, kebaikannya, dan pengertiannya.” Aku menerima uluran tangannya.
__ADS_1
Aku pun kembali ke meja kerjaku.
Farewell party disertai makan siang bersama diselenggarakan secara meriah di salah satu restoran all you can eat mewah di kota ini. Salah satu restoran di bawah OX Company. Beberapa rekan kerja memberikan kesan, pesan, dan kenang-kenangan untukku. Bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata saking terharunya karena hubungan kami yang sudah terjalin sangat baik.
Pulang kantor, para sahabatku sengaja memintaku untuk mengadakan farewell party juga. Mereka menyewa café langganan kami untuk disulap menjadi tempat yang sangat cantik. Entah ide siapa, yang jelas aku telah meminta mereka untuk tak mengadakan acara beginian dengan alasan nantinya masih akan terus berhubungan dengan mereka, tapi nyatanya mereka selalu berpikir bahwa kelak ketika aku sudah ke Aussie, pasti akan sulit lagi menjalin komunikasi.
Tak ada acara romantis seperti kala Daniel melamarku, tak ada acara pemberian bunga seperti kala Arnold memberiku bunga hampir tiap hari. Semua acara menyatu dan bernuansa persahabatan. Tak ada yang seolah menunjukkan siapa yang paling mencintai atau menyayangiku. Semua membaur dengan kadar sayang sebagai sahabat yang seolah sama rata. Kata mereka, seru-seruan dan dilarang tangis-tangisan.
Acara diawali dengan pemutaran video biografiku. Video yang berdurasi waktu 15 menit itu menampilkan berbagai macam foto-foto dari sejak aku masih kecil, SD, SMP, SMA, kuliah, dan bekerja di sini. Aku sendiri heran, darimana mereka bisa dengan detail mengumpulkan foto-fotoku itu? Berbagai foto dan video ketika kami jalan bersama menikmati waktu bersama-sama. Ada tawa, canda, sedih, dan air mata haru ketika kami menonton video itu. Satu kata : KEREN.
Setelah video berakhir kami semua bertepuk tangan dengan riuh. Meskipun kami hanya berdelapan tapi seperti lebih dari 20an orang.
Acara selanjutnya yaitu games, yang mana aku diminta duduk di tengah-tengah mereka, lalu mereka secara bergiliran akan memberikanku pertanyaan. Mirip permainan Truth or Dare, cuma bedanya kalau aku memilih Truth berarti aku dapat memutar lotre untuk memilih seseorang yang harus turut serta dalam permainan, tapi jika aku memilih Dare berarti mereka akan bergiliran memberikanku pertanyaan dan aku harus dikasih tantangan.
Yang pertama mendapat kesempatan memberikan pertanyaan adalah Leo.
“Narita, lamaran siapa yang kamu terima?”
Semua nampak antusias menunggu jawabanku, sementara aku hanya cengar cengir sama sekali tak ingin menjawabnya. Kaget juga baru pertanyaan pertama aja, udah gak asyik menurutku. Aku berusaha menutupi kegugupanku dengan wajah innocent.
“Aku memilih Dare” jawabku pelan.
“Yahhh…..” kudengar mereka koor mengatakannya.
Leo mendekatiku dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mereka yang melihat tingkah Leo makin heboh, seolah Leo hendak mencium pipiku.
“Leo, mau ngapain? Jangan macem-macem kamu!” aku mendorong tubuhnya yang besar dan tinggi, namun sama sekali dia tak bergeming dan hanya tersenyum smirk.
Semakin deket dan semakin deket “Leoooo!!!!” tak segan aku mendorongnya dengan keras, namun tubuhnya sama sekali tak bisa kugeser, dan tiba-tiba aku merasakan rambutku seperti dihinggapi binatang.
“Ahhhhhhhh……………………………..” aku berteriak sekencangnya dan berusaha menjatuhkan benda yang tadi Leo taroh di rambutku. Mengingat rambutku yang berombak sehingga binatang itu seolah mencengkeram erat di rambutku dan susah untuk kujatuhkan.
__ADS_1
Kulihat mereka semua tertawa terpingkal-pingkal memperhatikanku yang ketakutan mengibas-ngibaskan rambutku. Betapa aku sebel dengan mereka semua, gak tau apa kalau aku begitu ketakutan.