
NARITA POV
Seminggu ini aku melalui hari-hari seperti biasanya. Hari ini kami diminta mempresentasikan progress persiapan pelaksanaan marketing ke beberapa kota. Kami presentasi di hadapan Dave dan Davis. Tepat usai meeting, tiba-tiba sekretaris Dave masuk ke ruang rapat dan entah membisikkan sesuatu ke dia.
“Oke. Aku duluan!” pamitnya bergegas beranjak dan pergi dari ruang rapat.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, apa ya?” rekan di sampingku bersuara lirih usai memastikan Dave, Davis, dan para asisten mereka sudah tidak berada di ruangan ini lagi.
“Aku cek dulu ya, kau beresin!” lalu tiba-tiba mereka berdua pergi begitu saja meninggalkanku, dan aku hanya manggut-manggut saja mengikuti perintahnya.
Setelah sebagian besar peserta rapat pergi meninggalkan ruangan, aku pun usai memberesi laptop dan perlengkapannya dan turut keluar. Saat aku berjalan melewati depan ruangan Dave, di sana berkumpul beberapa orang yang tengah menyapa seseorang. Semakin dekat aku mengenal siapa gerangan wanita cantik, bertubuh seksi, berambut panjang blonde itu. Dia adalah Marlyn seorang influencer terkenal yang memiliki ratusan ribu followers. Setauku dia adalah brand ambassador salah satu produk OXC. Aku hanya melewati beberapa rekanku yang menyapanya tersebut.
Sesampainya di ruanganku, beberapa rekanku telah berdatangan dan tengah bergosip. Hal yang boleh dibilang sangat jarang terjadi selama aku bekerja di sini.
“Wah, Marlyn aslinya cantik banget ya. Wanita idaman semua pria” ujar seorang pria.
“Body nya wow, rasanya aku ingin membawanya ke *ed” sahut pria yang lainnya.
“Melihat fotonya aja sudah membuatku mimpi **sah apalagi tadi langsung berjabat tangan, menghirup wangi aroma tubuhnya, melihat langsung betapa seksinya dia, ahhhh pikiranku melayang-layang” sahut pria yang lainnya.
“Aku aja yang perempuan, kagum dengan kecantikannya, apalagi kalian!” sahut rekan wanita ku yang lain.
Tangan dan mataku memang menatap pada layar laptop sembari mengetik beberapa hal tapi tak bisa dipungkiri kalau jiwa kepo ku meronta-ronta hingga menyimak pembicaraan mereka.
“Hmmm,,,tumben sekali tuan Dave mengundang brand ambassadornya datang ke ruangannya? Biasanya bukannya akan diwakilkan ke aspri nya Mr. Teddy?”
“Hmmm,,,aku mencium aroma percintaan”
__ADS_1
“Apa mungkin dia salah satu, hmmm simpanannya?” seseorang nampak berbisik namun aku cukup jelas mendengarnya karena jarak mereka berbincang sangat dekat dengan mejaku.
“Tuan Dave maksudmu?”
“Siapa lagi? Apa kau tak pernah mendengar gosip bahwa dia sudah tidur dengan banyak artis-artis terkenal?”
“Bukannya dia taat agamanya?”
“Apa kau percaya, seorang lelaki dewasa mampu menahan hasrat se***al nya sekian lama? Bul**it kalau memang ada!”
“Tentu tidak!”
“Tidak” sahut mereka bersamaan.
“Pandanganku tetep sama. Tuan Dave itu lelaki setia. Hanya ada Miley di hatinya!”
“Hellow,,,pria itu tak butuh cinta untuk bisa meniduri para wanita!”
“Apa yang gak bisa dilakukan dengan duit? Dan wanita mana yang menolak pesona tuan Dave! Bukan begitu Narita?” aku tersentak ketika tiba-tiba namaku disebut.
“Hm” jawabku malas.
“Hmmm pantesan tuan Dave doyannya sama yang body aduhai, selama ini tiap kali meeting sama dia aku selalu tampil secantik dan semenarik mungkin biar bisa memikatnya, tapi dia tak pernah sekalipun melirikku”
“Sama”
“Pesona tuan Dave memang,,,,owhh my God”
__ADS_1
“Aku tetep tuan Davis. Muda dan lebih menantang”
“Hahahha, udah pada gila semua. Ahh sudah-sudah” akhirnya mereka pun membubarkan diri.
Aku hanya mencerna pembicaraan mereka. Apa iya Dave seperti yang mereka katakan? Orang sesibuk dirinya, bahkan setauku dia pulang malam memang lembur kerja di kantor. Ah sudahlah, ngapain aku mikirin hal yang gak penting gini.
Akhirnya dinas keluar kota telah kami selesaikan dalam waktu dua bulan ini. Semua berjalan sesuai ekspektasi. Antusiasme pasar meningkat ketika mereka mengetahui program kami. Dalam jangka waktu dua bulan ini pula, aku dan beberapa rekan kerja fokus touring marketing ke beberapa kota dan baru akan kembali hari ini.
Jarak yang cukup jauh telah kami tempuh untuk kembali ke kantor. Saat hendak memasuki lobby kantor, rombongan kami yang terdiri dari 5 orang sempat merasa heran, karena lobby dipenuhi dengan beberapa orang yang menurut perkiraan kami adalah para pewarta.
“Ada apa ini ya?”
“Iya, dua bulan kita tinggalkan kantor, kok tiba-tiba berubah jadi pasar”
“Kalau ada wartawan, berarti ada berita?”
“Hmm kira-kira berita apa ya? Penasaran aku”
Kami berlima pun kesusahan untuk menembus masuk ke dalam. Meskipun beberapa aparat keamanan telah ditugaskan di beberapa akses pintu sehingga mereka tidak mungkin dapat masuk tapi padatnya orang-orang di bagian luar, menyulitkan kami untuk menembuskan, dan bahkan harus berdesak-desakan. Ditambah lagi dengan posturku yang pendek dan kecil tentu kalah tenaga dengan mereka.
Tiba-tiba, badanku terhuyung mengikuti arah beberapa orang yang berdesakan ke suatu tempat. Aku mencoba untuk menarik baju rekanku yang telah mencoba mencarikan jalan dengan berjalan tepat di depanku, namun karena aku kalah kekuatan sehingga tanganku tak mampu meraih bajunya. Kini tubuhku terombang ambing dalam lautan orang-orang.
Teriakanku pun seolah tak ada yang mendengar karena beberapa orang lebih kencang berteriak. Aku sudah mulai merasakan pusing. Rasa capek karena perjalanan jauh, ditambah kurangnya oksigen karena berdesakan dengan orang-orang bertubuh tinggi besar, ditambah lagi beraneka ragamnya aroma minyak wangi dari tubuh mereka, membuatku semakin pusing.
Kekuatanku semakin melemah. Saat kepalaku sudah berkunang-kunang, pandangan tiba-tiba menggelap, tubuh melayang bagai seringan kapas. Aku pun merasakan tiba-tiba seseorang memeluk pundakku dari samping, dia mengambil alih bobot tubuhku, dan setelah itu aku pun tak tau apa yang terjadi.
Entah berapa lama, aku pingsan.
__ADS_1
Saat aku mencoba membuka mata, tiba-tiba aku sudah tertidur di dalam sebuah ruang tidur yang cukup modern, rapi, bersih, dan wangi. Saat aku hendak bangun, aku sama sekali tak memiliki kekuatan, walhasil aku urungkan niatku untuk bangun.
“Kau sudah sadar?” suara bass seseorang mengagetkanku, mataku langsung beralih menatap seseorang yang sedang berjalan mendekati kasur tempatku tidur.